Saracen dan Hoax Versi Pemerintah

Sumber gambar: Rusdy GoBlog

Angkat topi untuk kinerja kepolisian yang berhasil membongkar sindikat Saracen yang berulangkali menghentak media sosial melalui status, tulisan dan komentar yang mengandung ujaran kebencian berbasis SARA, baik yang ditulis langsung maupun dibagikan oleh akun siluman yang mereka kelola, yang konon mencapai 2.000 akun, dan jika diakumulasikan dengan para follower-nya menjadi 800 ribu akun.

Terungkapnya pabrik kata-kata Saracen ini sungguh amat disayangkan, karena ini membuat media sosial menjadi tidak menarik lagi. Padahal ketika mereka masih aktif, ada banyak yang bisa ditertawakan, mulai dari komentar para pengamat yang sok pintar, ahli agama yang sok suci, para pembenci dan penggemar yang saling berbalas pantun berisikan aneka kotoran dan nama binatang, hingga para remaja labil yang berpose membawa golok dan parang bak jawara Kanuragan sambil menantang sana-sini.

Satu yang paling disayangkan dalam pengungkapan kasus ini adalah fakta bahwa pemerintah telah berbohong selama ini. Dan seperti kata para filsuf, kebohongan terbaik adalah kebohongan ala penguasa.

Hoax adalah cerminan dari lemahnya literasi seseorang. Ketika hoax dengan mudah dipercaya dan mampu memecah-belah rakyat suatu negara, maka dipastikan ada sesuatu yang salah dengan sistem pendidikan yang berjalan di negara itu.

Lalu timbul pertanyaan, inikah hasil dari sistem pendidikan yang berlaku di negara ini? Sistem pendidikan yang selama ini digembar-gemborkan oleh pemerintah dari orde baru hingga saat ini, yang konon katanya telah sukses diterapkan di negara ini. Apakah mereka telah berbohong selama ini mengenai keberhasilan sistem pendidikan yang ada?

Seperti pendapat Alan Sokal dalam bukunya yang berjudul “Beyond the Hoax: Science, Philosophy, and Culture” (2008), hoax telah merambah pada gaya hidup manusia dengan bermacam-macam tujuan, salah satunya misalnya memanipulasi kabar kerusakan alam, membohongi hasil penelitian tertentu, dan lain-lain untuk kepentingan mencari keuntungan.

Jika seperti itu adanya, tak salah jika kita perlu kritis dan menilai ulang mengenai capaian bidang pendidikan yang mereka diumumkan pemerintah. Mungkinkah itu hoax untuk menutupi bahwa mereka tak punya visi tentang pendidikan di negara ini.
Share on Google Plus

About putu winarta

1 komentar:

  1. masih banyak SARA di Politik Kita pak... masih belum dewasa

    BalasHapus

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya