Karya Sastra dari Mereka yang “Gila”

Bincang Buku Kumpulan Puisi Karya Angga Wijaya di Rumah Berdaya Denpasar, Sabtu, (20/01)


Sebuah dinding kayu  berwarna hitam berdiri pada bangunan non-permanen. Di dinding yang penuh coretan itu menggantung tiga buah topeng beraneka warna. Diantara topeng-topeng itu terdapat sebuah tulisan yang “menyambar” bagi siapapun yang membacanya: “Jangan Panggil Aku Gila”



Bangunan non-permanen itu menempel pada bangunan permanen persegi panjang disampingnya. Keduanya difungsikan sebagai bengkel kerja bagi orang dengan skizofrenia (ODS) di Rumah Berdaya Denpasar. Sebuah cat berwarna ungu terpoles disetiap tiang-tiang penyangga yang permanen. Namun kali ini, bangunan tersebut tidaklah difungsikan sebagaimana mestinya. Dua buah tenda ditambah sebagai sarana pelengkap untuk acara Talkshow dan Peluncuran Buku Kumpulan Puisi Catatan Pulang karya Angga Wijaya.
Angga Wijaya ialah seorang alumni ODS di Rumah Berdaya Denpasar. Penyakit yang dulu sempat menggagalkan masa kuliahnya di Jurusan Antropologi Universitas Udayana. Angga sendiri mengaku terkena penyakit tersebut pada tahun 2009 dan indikasinya sudah sejak SMA. Beruntung Angga telah pulih. Kini ia telah meluncurkan buku pertamanya.
“(Ketika terkena penyakit), yang saya rasakan adalah down sekali. Kembali ke titik nol, ke titik nadir. Sedih karena kuliah ngga bisa lulus. Merasa tidak punya masa depan,” kisahnya ketika ditemui usai peluncuran buku, Sabtu, (20/01).
Pengalaman menulis Angga terbilang sudah lama. Ia menulis puisi semenjak SMA. “Puisi membuat saya pulang ke tempat yang hakiki. Setelah mengidap penyakit skizofernia menulis menjadi lebih tajam. Ketika pulang kita menemukan memori-memori lama, kenangan-kenang lama,” tuturnya.
Angga menceritakan, setelah didiagnosis terkena penyakit skizofernia, dia sempat kembali ke kampung halaman selama lima tahun. Kemudian pada tahun 2014 ia punya keinginan kembali ke Denpasar. Berbagai pekerjaan ia coba. Saat ini ia bekerja sebagai jurnalis di sebuah majalah entrepreneur.
Sembuhnya penyakit yang diderita Angga tidak terlepas berkat bantuan dari Rumah Berdaya Denpasar. Sebuah rumah bagi ODS Indonesia Simpul Bali yang difasilitasi oleh pemerintah Kota Denpasar. “Komunitas ini sangat membantu bagi saya, karena saya menemukan teman senasib dan sepenanggungan disini. Jadi disini saya tetap berkarya, tetap menulis dan saya tetap bekerja juga. Dan itu sangat membantu saya,” kesannya.
Angga Wijaya membacakan salah satu puisinya

ODS lain, Ida Kade Saka Rosanta juga telah menerbitkan buku. Beda dengan Angga, Saka Rosanta menerbitkan bukunya dalam bentuk Novel. Bahkan kini telah menggarap buku yang kelima.
Saka Rosanta menceritakan, dirinya berkarya bermula dari kepeduliannya terhadap orang yang terkena skizofernia. penyakit yang juga telah menyerang dirinya. “Jadi betapa menyakitkan sekali (terkena penyakit skizofernia), sampai pernah mencoba bunuh diri saya tiga kali.. Akhirnya, timbul kepedulian saya menerbitkan sebuah buku, novel terutama,” tuturnya.
Selain menulis buku, karya-karya lain dari Saka Rosanta juga dituangkan dalam bentuk lukisan dan lagu. Lukisan-lukisannya telah dipajang di Rumah Berdaya Denpasar. Lagu-lagunya telah ia upload ke media sosial Youtube. “Jadi butuh ruang ekspresi untuk mengekspresikan semua yang ada di pikiran kita,” celetuknya.
Kegiatan sehari-hari Saka Rosanta kini hampir semuanya ia habiskan di Rumah Berdaya Denpasar. Dirinya mengaku berusaha menolong teman-temanya yang lain untuk berhasil sembuh dari penyakit skizofernia. Cita-citanya ingin membantu masyarakat yang terkena penyakit skizofernia di Bali dan Indonesia, bahkan seluruh dunia.

Menghilangkan Stigma
Sementara itu, Dr. I Gusti Rai Putra Wiguna menuturkan, penyakit skizofernia itu sebenarnya gangguan keseimbangan zat kimia di otak yang mengatur pikiran, perasaan dan perilaku. Sayang sekali, kondisi ini diasosiasikan atau distigma yang salah sebagai penyakit gila.  Padahal, menurutnya, hal ini bisa diobati. Dalam pengobatan juga perlu kegiatan pemberdayaan atau rehabilitasi sosial.
Berdirinya Rumah Berdaya Denpasar, tuturnya, difasilitasi oleh pemerintah Kota Denpasar dengan membentuk suatu komunitas yang peduli bagi penderita skizofernia. Pengurus di Rumah Berdaya Denpasar juga orang yang telah pulih dari penyakit tersebut. Proses penyembuhan pasien lebih banyak soal berkesenian. Sementara kali ini menampilkan lukisan dan juga me-launching sebuah buku puisi.
“Kami tentunya berharap bisa mengedukasi masyarakat dan menghilangkan soal stigma gila, berbahaya, kemudian seharusnya dipasung di rumah sakit jiwa seumur hidup itu, pelan-pelan bisa terkikis.  Karena dengan sedikit bantuan, mereka (penderita skizofernia) bisa produktif dan berdaya,” tuturnya.
Menurutnya, setiap orang mempunyai keunikan sendiri, termasuk orang yang terkena skizofernia. Sebetulnya ingatan mereka masih baik, hanyalah gelaja-gelajanya yang tidak sinkron antara pikiran dan perasaan, termasuk fungsi berkeseniannya.  Tapi, tambahnya,  tentu tidak bisa memaksa pasien untuk semuanya berkesenian. karena  ada yang lebih suka visual seperti fotografi.
“Kali ini Angga merealisasikan kegalauan pikirannya lewat sastra dan itu bisa diterima oleh kalangan sastrawan, bahwa itu mempunyai nilai yang tinggi yang belum bisa dilakukan mungkin oleh orang lain, yang justru bangga dikatakan normal,” ucapnya.


Kekuatan Irasionalitas
Sastrawan Warih Wisatsana mengaku mengenal betul Angga Wijaya sebagai seroang penyair. Hal tersebut tercermin dari sajaknya yang digarap selama 16 tahun dengan serius. “Sehingga kalau kita lihat puisinya itu utuh, (dan)  padu. Jadi Angga sudah menemukan suatu dunianya sendiri. Dia disiplin dalam kata-kata yang dipilih, bunyi yang kuat. Selanjutnya angga harus mengembangkan tema. Temanya itu harus membebaskan diri  dari tema diri sendiri. Jadi tema yang lebih luas,” kata Warih
Warih menuturkan, banyak sekali seniman atau tokoh-tokoh besar yang mengedepankan kekuatan irasionalitas. Mereka menyadari bahwa ada potensi dunia mimpi di setiap diri manusia dan itulah yang membentuk apa yang disebut realita. “Jadi irasionalitas harus menjadi kekuatan kreatif dan itu yang dikembangkan melalui metode penciptaan. Dan itu bisa  dipelajari dari seniman-seniman hebat,” tuturnya.

Senada dengan itu, seniman Abubakar juga menilai bahwa irasionalitas menjadi penting dalam menumbuhkan sebuah karya. “Seniman harus memerlukan situasi sakau. Saya tak ingin menyembuhkan. Situasi sakau diperlukan oleh seniman untuk berkarya. Kesenian selesai pada mereka yang rasional,” pungkasnya. (sui)
Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya