Banjir di Pura Taman Beji Tonja, Diperkirakan Kerugian Mencapai Rp 30 Juta


Banjir di Pura Taman Beji Tonja pada Kamis (1/2) kemarin


REDAKSIBALI.COM. Intensitas hujan yang meningkat mengakibatkan volume air sungai meninggi dan berdampak pada bangunan disekitarnya. Hal itu terjadi di Pura Taman Beji Tonja yang berada di Desa Tonja. Pura ini menjadi korban akan ganasnya air sungai kemarin (1/2). Musibah tersebut mengakibatkan bale pepelik hanyut dibawa arus.

Di lokasi pura yang berada pada pinggir sungai tersebut, terlihat  air sudah menenggelamkan bale gong. Sementara itu, Pemangku Pura Taman Beji Desa Pakraman Tonja, Jero Mangku Made Sugiartha mengaku musibah tersebut memang setiap tahun dialami. Luapan sungai tahun ini tak separah tahun lalu. "Kalau tahun lalu semua bangunan yang ada hilang diseret arus. Tertinggal cuma dasar bangunannya saja. Saya ingat air sampai di bibir jalan pada gapura beji di atas," jelasnya pada Kamis, (1/2) kemarin.

Parahnya, banjir yang besar ini sudah ke tiga kalinya terjadi. Pertama pada pertengahan tahun 2017 yaitu Bulan Mei dan terakhir pada Desember 2017 kemarin. Sebelumnya Jero Mangku Made Sugiartha mengaku kerugian mencapai ratusan juga. Sedangkan kerugian yang diakibatkan musibah saat ini Sugiartha memperkirakan sekitar 30 juta. Dikarenakan yang rusak hanya satu buah palinggih saja.

"Ini tumben banjirnya pas pagi hari, tadi sekitar pukul 06.00 Wita airnya baru naik. Padahal kemarin malam tenang alirannya, di samping itu juga di sini kan tidak ada hujan. Mungkin di hulu sudah lebat makanya volume air menjadi besar sampai di Denpasar. Sedangkan pada tahun sebelumnya sungai ini meluap sekitar pukul 23.00 sudah menyapu semua palinggih yang ada di Pura Taman Beji ini," urainya. Sembari menyebutkan Pura Beji itu sering digunakan melasti oleh desa setempat, yaitu pada setiap tahunnya menjelang sasih kesanga.

Pada tempat yang sama, Pengempon Pura, Nyoman Muliana mengatakan semua bangunan di sana terdapat empat palinggih dan satu bale gong. Ia juga menunjukkan dua pohon kayu yang ada di utara bale gong sebagai penghadang aliran air. Sehingga tekanan air dan kayu yang hanyut tidak sampai merusak bale gong. Selain itu di tengah-tengah halaman pura juga terdapat sebuah pohon beringin yang bisa menahan kayu-kayu yang kiranya menghantam palinggih di sana.


Kemarin telah dilakukan kegiatan bersih-bersih oleh masyarakat setempat. Sedangkan untuk upacara pengulapan atau segala sesuatu upacaranya akan dilaksanakan setelah melakukan sebuah rapat dengan banjar. “Untuk sekarang kami  hanya bersihkan saja dulu, entah itu pelaspasan atau renovasi nanti kita akan lalukan setalah mendapatkan kesepakatan melalui rapat nanti,” pungkasnya. (dik)
Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya