I Made Ebuh, Tukang Cukur Bung Karno, Ikut Bergaya Necis dan Kenakan Songkok

Foto I Made Ebuh



REDAKSIBALI.COM. Soekarno dikenal sebagai presiden pertama RI, proklamator kemerdekaan, penggali Pancasila dan pejuang perebut kemerdekaan. Soekarno juga dianggap sebagai pemimpin yang penuh kharisma dan disegani oleh masyarakat. Tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tapi juga di mata dunia Internasional.

Soekarno memiliki berbagai rekam jejak di Pulau Dewata. Tapi, siapa sangka ia pernah kesulitan mencari tukang cukur saat berada di Bali. Gubernur Bali, Anak Agung Bagus Sutedja kala itu, kelimpungan mencarikan orang yang bersedia mencukur rambut sang proklamator. Beberapa kali menawarkan kepada tukang cukur, permohonan Gubernur Bagus Sutedja pun ditolak. Alasannya, karena orang-orang takut memegang kepala Bapak Bangsa itu. Pada akhirnya, Gubernur Bagus Sutedja mendatangi tempat cukur I Made Ebuh yang berada di Jalan Surapati, Banjar Kayu Mas Kaja, Denpasar.

Jasa cukur yang tempatnya agak nanjak dan dipenuhi dengan jendela itu didatangi oleh Gubernur Bagus Sutedja dan memohon kepada pemiliknya agar bersedia mencukur rambut Bung Karno. I Made Ebuh awalnya sempat ragu, namun pada akhirnya menyanggupi.

I Made Wirta, anak kedua I Made Ebuh pun menceritakan proses ayahnya menjadi tukang cukur presiden pertama RI itu. Wirta yang sudah berusia 75 tahun memperkirakan, waktu itu sekitar dibawah 1958. Ayahnya mencukur Soekarno pertama kali di rumah Gubernur Bagus Sutedja karena belum ada istana Tampak Siring, Gianyar.

“Bung Karno minta Gubernur Sutedja untuk mencari tukang cukur. Jadi Pak Sutedja mengaku sudah keliling kemana-mana mencari tukang cukur, tidak ada yang mau. Akhirnya Pak Sutedja menghadap Bapak (I Made Ebuh). Sudah memohon sekali,” jelas Wirta dengan semangat. Wirta pun meniru ucapan Sutedja yang memohon kepada bapaknya waktu itu. “Masak ditugaskan mencari tukang cukur tidak bisa,” ucap Wirta.

Pertama kali mencukur, I Made Ebuh agak grogi dan  gemetaran. Soekarno bisa melihat gerakannya yang gemetaran dan berusaha  menenangkan.  Sejak saat itu, Bung Karno pun menjadi pelanggan Made Ebuh. Setiap Bung Karno ingin dicukur, Made Ebuh dijemput orang berseragam sekitar jam 6 pagi. Sejak berdiri Istana Tampak Siring, Made Ebuh tak lagi di rumah gubernur.  Bayarannya pun sepuluh kali lipat dibandingkan dengan pelanggan biasa. “Kalau perwira itu pasti jemput ke rumah dulu rumah kami. Di jemput jam 06.00 nyukurnya biasanya jam 10.00 pagi. Karena Soekarno pasti sibuk atau sedang menerima tamu,” ucap mantan pegawai bank ini.

Menurut Wirta, ayahnya sangat bangga bisa mencukur dan memegang kepala seorang presiden. Meski setiap bertemu Bung Karno pakaian Ebuh tak boleh biasa saja. Dia harus menggunakan pakaian necis dan memakai sepatu. Semenjak itu juga  dia ikut memakai songkok mirip Soekarno.

“Bapak cerita setiap nyukur dikasi 25 ribu. Pada pelanggan biasanya kasi Rp. 2.500. Mencukur Bung Karno sampai peristiwa Gestok terjadi,” ucapnya. Sembari dia mengatakan sebenarnya ayahnya diajak ke luar negeri kalau Bung Karno tugas ke luar negeri.

Wirta menjelaskan, untuk mencukur rambutnya Bung Karno tidak rumit. Hanya merapikan di bagian telinga. Sebab, saat itu rambut Soekarno tak lagi lebat. Nah, peralatannya pun tak ada yang khusus. Hanya pakai bergas, pisau lipat merk Solingen dari Germany dan gunting. Setiap akan mencukur, peralatan itu dibersihkan dan pisaunya diasah agar tajam.

Kini, kenangan tentang I Made Ebuh masih disimpan. Para keluarga pun bangga orang tuanya pernah menjadi tukang cukur orang nomor 1 di Indonesia. Karena hal itu juga nama I Made Ebuh dikenal banyak orang. Ia meninggal sekitar tahun 1985 saat Wirta merantau di Surabaya untuk kuliah.

Saat Wirta masih SMP sering mendengar Bung Karno berpidato di Lapangan Puputan Badung depan Rumah Jabatan Gubernur. Wirta menjelaskan, jika Bung Karno berpidato semua masyarakat pasti memadati alun-alun tersebut dan mendengar Soekarno berbicara di atas podium yang menghadap selatan.  Seingatnya, Bung Karno selalu mengatakan manipol dalam pidatonya.

“Pak Karno pidato di alun-alun. Ke lapangan itu. Podiumnya berdiri di tempat yang sekarang ada patung yang membawa tombak itu. Saat itu belum ada patungnya. Saya senang dengerin yang berisi manipol,” ujar pria yang lahir pada 10 Oktober 1943 ini. (dik)
Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya