“Merasa Lebih Bugar Setelah Mengikuti Omed-Omedan"




REDAKSIBALI.COM. Omed-omedan menjadi tradisi yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Bali maupun wisatawan saat sehari setelah hari Raya Nyepi atau Ngembak Geni. Tradisi yang diselenggarakan setiap tahun di Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, Denpasar terus disambut antusias. Pada hari Ngembak Geni kemarin, Minggu, (18/03) di depan Banjar Kaja, Sesetan sejak pagi telah dipadati oleh penonton.

Ketua Seka Teruna Dharma Kerti, I Made Widya Sura Putra mengatakan memang turun-temurun Omed-Omedan dilakukan oleh kalangan muda. “Tradisi ini tidak semata sebagai ajang pelukan atau ciuman massal seperti informasi yang ada. Karena omed-omedan itu kan berarti saling tarik-menarik bahkan itu ada pakemnya yang jelas. Mereka yang melakukan juga anggota Sekaa Teruna-Teruni (STT) yang diangkat oleh temannya secara spontanitas tanpa mengurangi tradisi dan pakem yang ada,” jelas  pria yang berusia 23 tahun ini.

Putra mengungkapkan, dalam pelaksanaannya tradisi Omed-Omedan itu hanya boleh dilakukan oleh anggotanya yang baru masuk sekaa teruna dan yang belum kawin. Sedangkan bagi yang mengalami cuntaka (kotor/datang bulan) tidak diperkenankan ikut karena prosesi awalnya dilakukan pada pura banjar setempat.

“Kami mulai dari pukul 16.00 sampai selesai, sedangkan yang melakukan Omed-Omedan maksimal itu dilakukan oleh dua pasang saja dari 350 anggota STT dengan durasi tidak tentu,” imbuhnya. Lanjutnya, acara itu diikuti oleh 350 anggota sekaa teruna   setempat yang nampak pelukan. Bahkan teknisnya tersebut diawali sebuah upacara dan pakem-pakem dalam pelaksanaannya.

Penglingsir Puri Sesetan atau biasa disebut maestro tradisi Omed-Omedan, I Gusti Ngurah Oka Putra mengatakan, tradisi di desanya itu bagi masyarakat awam memang seperti ciuman masal. Namun ia membantah, karena dalam kenyataannya tidak seperti yang dilihat pada sosial media. “Namanya juga omed-omedan berarti saling tarik-menarik. Di sana memang adanya sebuah pertemuan antara pipi pelaku, dan tidak ada sama yang bibir ketemu bibir karena semua itu sudah ada pakem,” ucapnya.

Lanjutnya, pakem yang ada yaitu peserta omed-omedan dilakukan oleh anggota pemuda dan pemudi. Sedangkan tangan pemuda yang harus berada di lengan dan pinggul pemudi, sehingga pipi sama pipi dikatakan akan bertemu sedangkan bertemunya bibir tidak akan terjadi. Pada saat itu juga ia menjelaskan anggota sekaa teruna dibagi menjadi beberapa kelompok tanpa ada batasan untuk mengangkat salah satu pemuda dan pemudinya yang akan melakukan tarik-menarik sambil disiram air.

Diungkapkan tradisi itu memang dilaksanakan untuk memperingati pergantian Tahun Baru Caka yang diperkirakan sudah ada pada abad ke 18 masehi. “Ini sama kayak kita bersilahturahmi dengan dilakukan bersenang-senang dan penuh kegembiraan. Sejarahnya juga sangat panjang, sampai saat ini dilakukan setiap tahun kami tidak menyangka akan menjadi tradisi yang unik bahkan sampai ke luar negeri,” terang Ngurah Bima, demikan sapaan IGN Ngurah Oka Putra.

Sementara itu, salah seorang peserta, Ni Komang Puspita (19) mengaku baru dua kali mengikuti tradisi Omed-Omedan. Dirinya mengaku biasa saja dan ini adalah kewajiban melaksanakan tradisi dari banjarnya. Meski demikian, diakuinya saat pertama kali, yakni tahun lalu. Dirinya merasa grogi dan terkejut. “Kalau sekarang sudah terbiasa. Karena sama teman juga,” imbuhnya.

Sementara itu, peserta putra, Made Widnyana mengaku lebih terasa bugar dan sehat setelah mengikut tradisi Omed-Omedan ini. Diakuinya, dulu sering tidak enak badan dan langsung sembuh sejak ikut Imed-omedan. “Ada pengaruh dengan kesehatan. Dulu sering tidak enak badan. Semenjak masuk Omed-Omedan  langsung sembuh,” ujarnya. Dia telah sembilan kali mengikuti Omed-Omedan ini dan merasa biasa saja karena sudah tradisi.  (dik)
Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya