Tipe dan Penyebab Hoax yang Tersebar di Era Digital

Heru Margianto menjelaskan berbagai tipe hoax yang beredar di media massa pada kegiatan Haftday Basic Workshop “Hoax Boasting and Digital Hygient”, Jum’at, (2/3), di Kampus Stikom Bali


REDAKSIBALI.COM. Keberadaan berita palsu atau berita bohong yang lebih dikenal dengan hoax keberadaannya tidak terelakan lagi di dunia digitalisasi saat ini. Bahkan sangat sulit untuk dibedakan antara berita benar ataupun palsu. Heru Margianto, trainer google tersertifikasi pada kegiatan Haftday Basic Workshop “Hoax Boasting and Digital Hygient”, Jum’at, (2/3), di Kampus Stikom Bali, menyebutkan, hoax ini terbagi menjadi misinformasi dan disinformasi. Misinformasi dimaksudkan sebagai informasi yang salah, namun orang yang menerima percaya terhadap informasi yang bersangkutan. Sedangkan disinformasi adalah informasi yang diketahui salah dan memang sengaja untuk disebarkan.

Lebih lanjut Heru menjelaskan, ada tujuh tipe macam mis-disinformasi yang beredar saat ini. Pertama, biasa satire atau parodi. Jenis ini biasanya dipakai sebagai lucu-lucuan atau informasi yang sifatnya jenaka. Informasi semacam ini tidak berniat menyakiti, namun berpotensi untuk membodohi masyarakat. Kedua, konten menyesatkan atau misleading. Konten semacam ini sengaja dibuat untuk membingkai sebuah isu atau menyerang individu. Informasi seperti ini biasanya lahir dari berita yang kerap kali dipelintir sehingga menimbulkan maksud yang merugikan pihak tertentu. Selanjutnya yang ketiga, berupa konten aspal yang dibuat seolah-olah sumbernya asli padahal kenyataannya palsu. Tipe keempat ada tipe konten pabrikasi. Konten semacam ini yang sengaja dibuat untuk menyesatkan dan sama sekali tidak ada faktanya. “100 persen tidak benar,” kata Heru menegaskan.

Kelima, tipe gak nyambung. Berita semacam ini biasanya antara judul berita, foto dan caption sama sekali tidak ada hubungan dengan isi beritanya. Kemudian, di tipe keenam, ada konten yang konteksnya salah dengan secara sengaja aslinya dihilangkan kemudian disebar. Konten ini menyebabkan orang yang menerima informasi diluar konteks yang sebenarnya. Terakhir, terdapat konten manipulatif yang berisikan informasi namun konteksnya dimanipulasi.


Heru juga menerangkan, ada tujuh alasan dibalik mis-disinformasi ini, seperti adanya jurnalisme yang lemah, hanya buat lucu-lucuan, sengaja dibuat untuk memprovokasi bahkan sampai adanya kepentingan uang dengan cara click bait dan iklan. Selain itu, penyebab beredarnya mis-disinformasi juga disebabkan oleh gerakan politik. Hal ini disebut Heru sudah terjadi sejak Pilpres 2014. “Hari ini juga sudah mulai kelompok semacam ini memanaskan mesin untuk Pilkada serentak dan Pilpres 2019,” katanya. Terakhir, lanjut dia, mis-disinformasi dilakukan sebagai bagian dari propaganda.


Luh De Suryani



Trainner lain, Luh De Suryani memaparkan, ada beberapa cara untuk mengetahui sebuah informasi yang beredar termasuk hoax atau tidak. Pertama dengan mengenali situs yang bersangkutan. Di dalam hal ini, Luh De Suryani menyebutkan bahwa banyak sekali situs yang ‘abal-abal’ dengan memanfaatkan portal gratis seperti blog. Kedua perlu dikenali detail visual media yang menyebarkan informasi. Pada media mainstream, kata Suryani, biasanya memiliki pakem tertentu yang mudah dikenali. “Namun saat ini banyak media abal-abal yang meniru media-media mainstream,” kata dia.

Suryani menekankan, perlunya berhati-hati dengan media abal-abal yang sekadar mencari klik untuk kepentingan mendapatkan iklan. Kemudian yang perlu dilihat lagi yakni ciri-ciri pakem media. Bagi media mainstream biasanya menampilkan nama penulis dan editornya. Menurutnya, yang paling terpenting adalah para pembaca media perlu mengecek dari “about us” media bersangkutan. Hal ini sesuai dengan UU Pers yang harus berbadan hukum dan ada penanggungjawab yang jelas serta mencantumkan pemberitaan media siber. Terakhir, perlunya untuk selalu berhati-hati dengan judul berita yang sensasional. “Baca beritanya sampai selesai dan jangan hanya membaca judulnya saja,” kata Suryani. (sui)

Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya