Ecoprint, Teknik Pewarna Kain dari Daun yang Berencana 'Go Jerman'

Cristina Arum saat menunjukkan kain yang diwarnai dengan teknik Ecoprint di Kubu Kopi, Jum’at, (20/4) kemarin


REDAKSIBALI.COM. Bahan baku untuk mewarnai kain biasanya tidak ramah lingkungan. Namun beda halnya dengan yang satu ini, pewarna kain bisa dilakukan dengan daun dari tumbuhan. Adalah Cristina Arum dari komunitas Lingkara yang dengan tekun membuat pewarna kain yang ramah lingkungan ini dan hal itu bisa dilakukan dengan berbagai daun tumbuhan. 

Cristina menuturkan bahwa semua itu terinspirasi dari daerah asalnya di Salatiga. Awalnya ada seorang temannya yang mengembangkan tekni tersebut. Baginya teknik itu sangat menarik karena berbeda dari pewarna industri yang biasanya tidak ramah lingkungan. "Aduh pokoknya ngga asiklah," celetuk Cristina saat menceritakan penggunaan pewarna yang tidak ramah lingkungan.

Dirinya menuturkan, dengan menggunakan pewarna dari daun-daunan ini mempunyai beberapa keuntungan seperti jenis warnanya  dan ragamnya juga banyak. "Paling asik itu ketika ada workshop di berbagai daerah. Jadi merekalah (audiens) tahu ‘ow ini daunnya dari ini ya’," kata Cristina menyampaikan pendapat audiens.

Teknik menggunakan pewarna daun ini ada dua cara yakni bisa dengan cara direbus dan digilas. Perbedaannya, teknis rebus biasa digunakan apabila menggunakan daun kering, sedangkan digilas (hammering) untuk daun segar. Usai memalui proses salah satu tahap itu maka akan dibilas dengan cuka untuk mengikat warna. Sebelum diberikan warna, kain harus di mordant terlebih dahulu dengan tawas dan didiamkan selama satu malam. Menurutnya, daun paling bagus digunakan dalam mewarnai kain yakni daun lamtoro.

Teknik ini sebenarnya teknik yang lama sekali. Menurutnya, teknis semacam ini banyak dipakai di Afrika dan India. Hanya saja industri besar tidak mau menggunakan ini dikarenakan menginginkan item yang sama. Dengan menggunakan metode ini, warna kain yang didapat memiliki beragam corak yang beragam.

Beragam produk bisa dihasilkan dengan menggunakan warna kain ini. Bisa juga digunakan untuk pewarna baju dan lain sebagianya. Cristina menuturkan bahwa seorang gurunya di Salatiga telah menggunakan warna ini dan mendesain pembuatan baju sendiri tanpa menyisakan kain. "Satu kain itu bisa mengurangi limbah dan sebenarnya untuk mengurangi limbah itu bisa didesain sebelum produksi. Bukan diproduksi dulu lalu baru berpikir limbahnya diapain," tuturnya. 

Sampai saat ini, Cristina sudah melakukan workshop ke berbagai daerah untuk memperkenalkan teknik ini. "Kemarin sudah di Salatiga, kemudian besok (hari ini) ke Klungkung, lalu nanti ke Jerman," tuturnya.

Untuk yang di Jerman, lanjutnya, masih dibicarakan dikarenakan masih mencari bunga merah disana. "Moga-moga jadi sih, kalau jadi mungkin satu bulan keliling disana. Karena mereka kan berbagai musim. Jadi kita mau cari pas warna daunnya yang merah-merah semua," terang Cristina.

Selain berencana workshop di Jerman, beberapa waktu sebelumnya ia juga awalnya mau berangkat ke Sumba. "Terlalu padet acaranya,"celetuknya.

Terakhir, ia menjelaskan bahwa jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal bisa menggunakan kain sutra. "Paling bagus hasilnya," pungkas Cristina. (sui)

Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya