Di Hari Kartini, Komunitas 22 Ibu Suguhkan Pameran Seni Rupa

Pengunjung melihat karya seni rupa dari Komunitas 22 Ibu di Bentara Budaya Bali, Sabtu, (21/4) kemarin.



REDAKSIBALI.COM. Bertepatan dengan Hari Kartini pada Sabtu, (21/4) kemarin, Komunitas 22 Ibu membuka pameran seni rupa di Bentara Budaya Bali. Pameran bertajuk "Sang Subjek" ini menampilkan sebanyak 50 karya yang berasal dari 50 orang perupa. Pameran ini berlangsung sampai 30 April mendatang.

Dijelaskan oleh Mia Syarif selaku koordinator penyelenggara pameran, Sang Subjek ini diambil dari para anggota komunitas yang memiliki latar belakang yang beragam terutama dalam bidang pendidikan, sosial dan ekonomi. Ditengah keberagaman itu, masing-masing anggota berusaha menampilkan karakter dirinya. "(Karakter itu) baik tentang dirinya, keteladanannya, kegelisahan, kepeloporannya, kami tuangkan disini," jelasnya.

Para pelukis karya ini berasa dari berbagai daerah diantaranya Bandung, Jakarta, Purwakarta, Tanggerang, Banten bahkan berasal dari Jerman dan Dubai.

Dijelaskan lagi oleh Mia, media yang digunakan dalam seni rupa ini bermacam-macam. Diantaranya ada yang dituangkan dalam media kanvas dan kain sutra. Disamping itu ada juga yang menampilkan dengan teknik batik malam dingin. Dengan teknik ini sangat ramah lingkungan dikarenakan terbuat dari biji asam jawa yang berfungsi sebagai perimbang antara satu warna dengan warna yang lain. "Proses ini mengalami proses yang sangat panjang," jelasnya.

Selain dipamerkan di Bentara Budaya Bali, karya-karya ini juga pernah dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta dan Galeri Nasional. Pernah juga dipamerkan di negara lain seperti India, Jepang, China, dan Malaysia.

Suguhan di Hari Kartini
Mia menjelaskan, dibukanya pameran seni rupa dari Komunitas 22 Ibu ini memang dibuat bertepatan dengan Hari Kartini sebagai langkah untuk menampilkan sebuah kejujuran. "Pada karya seni kami bisa menampilkan apa adanya," ibuhnya.

Di dalam berkarya ini, komunitas 22 Ibu ini mencoba untuk melepaskan diri dari berbagai atribut seperti menjadi seorang istri, ibu atau siapapun. Dengan kata lain, mencoba untuk menjadi diri sendiri. Hal ini, menurut Mia, dapat dilihat dari cara pelukis yang selalu mencoba untuk menampilkan karater masing-masing.

Hal tersebut juga diamini oleh Hardiman selaku kurator pameran seni rupa ini. Dia menjelaskan pengajuan acara ini sudah dari tahun lalu, namun Bentara Budaya merangcang agar dilaksanakan bulan April sebagai upaya untuk menghargai emansipasi. Menurutnya, melalui pameran ini, perempuan bisa sebagai subjek yang sangat emansipatoris. "Jadi sangat tepat para perempuan tampil dalam pameran pada bulan April ini," terangnya. (sui)

Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya