Sepeda Motor Tidak Layak Dijadikan Transportasi Massal

Tri Tjahjono



REDAKSIBALI.COM. Selama empat tahun berturut-turut, dari tahun 2013 sampai 2016 jumlah kecelakaan yang terjadi di Indonesia relatif meningkat. Pada tahun 2013 saja total kecelakan terjadi sebanyak 161.541. Angka ini sempat menurun pada 2014 menjadi 158.962, lalu meningkat lagi ke angka 168.548 di tahun 2015. Pada 2016, data kecelakaan menyentuh angka 190.142. Dari total tersebut, kecelakaan paling banyak disebabkan oleh sepeda motor yakni sebanyak 115.541 pada 2013, 113.430 di 2014, dan masing-masing sebanyak 124.310 dan 141.316 pada 2015 dan 2016.

Berdasarkan data ini, Pakar Transportasi Universitas Indonesia (UI), Tri Tjahjoyo menyebutkan bahwa, sepeda motor tidak layak digunakan sebagai angkutan massal. Hal tersebut dikarenakan banyak sekali kecelakaan yang diakibakan oleh kendaraan tersebut. “Saya kira masyarakat juga sadar, karena tidak ada pilihan terpaksa mengambil yang tidak layak,” katanya saat menjadi pembicara dalam Seminar Permasalahan dan Penanganan Transportasi Online di Provinsi Bali yang bertempat Ballroom Hotel Aston, Denpasar pada  Selasa, (10/4) yang dilaksanakan oleh Direktorat Lalu Lintas Polda Bali.

Lebih lanjut Tri Tjahjono menyebutkan, bahwa dengan maraknya sistem transportasi berbasis online, terutama sepeda motor, masyarakat menjadi terpaksa memilih yang tidak layak. Ini juga seiring dengan terjadinya kemacetan di jalan sehingga masyarakat lebih memilih sepeda motor. Permasalahan ini, menurutnya, dapat diatasi apabila pemerintah sudah berhasil menyediakan transfortasi massal yang baik untuk masyarakat. Dirinya menyontohkan, di Jakarta misalnya, saat ini pemerintah tengah menyelesaikan MRT dan LRT dan juga terdapat program OKE Trip yang menjadikan masyarakat tidak perlu untuk berpindah angkutan sehingga dapat membuat kondisi pengguna angkutan massal menjadi lebih nyaman. “Kalau masih ada masyarakat menggunakan sepeda motor, mungkin masih ada alasan yang lain,” sebutnya.

Selain sebagai kendaraan yang paling berbahaya, keberadaan sepeda motor juga dapat menghambat pengembangan transportasi massal. “Karena transportasi umum siapa yang mau naik kalau semua naik sepeda motor,” keluhnya. Ia mengusulkan, harus adanya pembatasan untuk kendaraan satu ini. Dia menyebutkan, di beberapa negara telah terjadi pembatasan penggunaan sepeda motor tersebut dan tidak boleh masuk ke daerah-daerah yang keberadaan angkutan umunya sudah kuat. “Kalau angkutan umumnya sudah ada sepeda motor kita batasin, supaya keberadaannya terbatas,” terangnya.

Namun sebelum dilakukan pembatasan, pemerintah harus siap menyediakan tranportasi publik bagi masyarakat. Dirinya menyebut pemerintah Kota Surabaya telah memulai langkah ini. “Jadi pemerintah daerah perlu membuat inisiatif semacam ini. Transarbagita di Bali perlu dimaksimalkan dengan baik, bahkan bila perlu dapat menarik turis untuk tidak menyewa sepeda motor di Bali,” pungkasnya. (sui)
Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya