Usai Europalia Kini Indonesiana, Upaya Membangun Ekosistem Kebudayaan

Timbang Pandang Europalia Road to Indonesiana: Strategi Diplomasi dan Kemajuan Kebudayaan Indonesia di Bentara Budaya Bali, Minggu, (6/5) malam kemarin (Foto: Sui Suadnyana/redaksibali.com)




REDAKSIBALI.COM. Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara, keempat di Asia setelah China, Jepang, dan India serta ke-26 di dunia sebagai negara tamu kehormatan di Festival Seni Europalia (Europalia Arts Festival). Europalia Arts Festival ini merupakan sebuah asosiasi internasional yang berada dibawah naungan Raja Belgia yang berdiri sejak tahun 1969. Festival ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali dengan menunjuk satu guest country dan digelar di beberapa negara Eropa selama empat bulan.

Terpilihnya Indonesia tampil dalam festival tersebut karena dianggap sebagai negara yang memiliki kekayaan dalam hal etnik dan agama serta mampu mengelola hal tersebut tanpa kehilangan akar budaya.

Penampilan Indonesia di festival tersebut sudah berlangsung dari 10 Oktober 2017 sampai 30 Januari 2018 yang diselenggarakan di beberapa kota dan venue di tujuh negara Eropa seperti Belgia, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Austria dan Polandia.

Ratna Panjaitan dari Europalia mengatakan, penampilan Indonesia dalam Europalia Arts Festival terbilang sangat sukses. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya penampilan yang berhasil diselenggarakan. Selain itu Indonesia memberangkatkan 316 seniman dan mempertunjukkan 247 program yang terdiri dari 20 pameran, 71 tari, 95 musik, 34 sastra, 14 pemutaran film, dan 9 konferensi. Program ini terbagi dalam empat pilar utama berupa heritage, contemporary, creation dan exchange.

“Selama festival berlangsung kita juga berhasil menarik sebanyak 600 ribu pengunjung. Jumlah ini terbilang sangat baik, jika dibandingkan dengan Turki yang hanya mampu mendatangkan 400 ribu pengunjung,” kata Ratna saat mempresentasikan kegiatan Indonesia di Festival Seni Europalia dalam acara Timbang Pandang Europalia Road to Indonesiana dengan tajuk Strategi Diplomasi dan Kemajuan Kebudayaan Indonesia di Bentara Budaya Bali, Minggu, (6/5) malam kemarin.

Membangun Ekosistem
Keberhasilan Indonesia tampil di ajang Europalia Arts Festival ingin sekali diterapkan di dalam negeri sebagai upaya pemanfaatan berbagai bentuk kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Terlebih Indonesia saat ini sudah memiliki UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Kepala Bagian Umum dan Kerjasama, Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, mengatakan, salah satu poin terpenting dari undang-undang ini berada pada pasal 33 dan 44 mengenai pembangunan ekosistem kebudayaan. Menurutnya, selama ini jarang sekali Indonesia membicarakan mengenai ekosistem kebudayaan tersebut. Baginya, Europalia Arts Festival sendiri sudah membangun ekosistem mulai dari venue, seniman hingga penonton sudah terbangun. “Nah bagaimana dengan Indonesia, apakah bisa membangun ekosistem itu,” terangnya.

Untuk membangun ekosistem ini, dijelaskan oleh Ahmad, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Ditjen Kebudayaan menginginkan adanya Indonesiana. Program Indonesiana sebagai upaya untuk membantu tatakelola kebudayaan Indonesia dan upaya membangun ekosistem. Hal ini diwujudkan dengan sistem gotong royong sebagai jalan untuk menata kepemerintahan daerah. “Pemda-Pemda kita selama ini kan kurang membangun ekosistem dengan pelaku-pelakunya. Jadi itulah yang menjadi keresahan kita semua,” kata Ahmad. (sui)

Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya