Perayaan Hari Lingkungan Hidup, Kenali Potensi Desa Dukuh

Peserta Perayaan Hari Lingkungan Hidup di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu Karangasem mengamati  proses pengolahan jambu mente hasil kebun masyarakat Desa Dukuh


REDAKSIBALI.COM Conservation International (CI) Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Pelestarian Alam dan Budaya (YPAB) Bali, BNPB dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam rangka merayakan hari lingkungan hidup sedunia menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk “Gunung dan Hutan adalah Kita” hari Sabtu (30/6/2018). Kegiatan yang dipusatkan di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem bertujuan memperkuat pemahaman akan peran penting ekosistem hutan di Desa Dukuh bagi kehidupan masyarakat serta kelestarian ekosistem terumbu karang di perairan Tulamben, salah satu situs penyelaman terkenal dunia (Kapal Karam USAT Liberty). Keterhubungan ekosistem gunung dan laut ini selaras dengan filosofi Bali ‘Nyegara Gunung’.


I Made Iwan Dewantama, Bali Program Manager CI Indonesia menyampaikan bahwa satu pesan utama yang ingin disampaikan dari kegiatan ini adalah peran penting ekosistem Desa Dukuh bagi kehidupan masyarakat dan kelestarian ekosistem dalam konteks Nyegara Gunung. “Dalam konteks konservasi, gunung dan laut adalah daerah yang harus dijaga kesuciannya serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Laut telah memberikan manfaatnya untuk masyarakat Tulamben, namun gunung belum memberikan manfaatnya untuk masyarakat Dukuh, padahal mereka dikaruniai pohon Lontar yang mempunyai nilai ekonomi sangat besar bagi masyarakat,” ujarnya. 

Lebih lanjut Iwan Dewantama memaparkan "Hasil analisis spasial yang dilakukan CI Indonesia, Lontar merupakan komoditas potensial untuk menyejahterakan masyarakat. Perkiraan jumlah pohon Lontar di Desa Dukuh sekitar 19.393 pohon. Jika semua dipanen, maka akan menghasilkan hingga 100 ribu liter tuak per hari. Dari rata-rata 3 pohon lontar mampu menghasilkan 28 liter tuak yang bisa diolah menjadi 3 liter arak. Dengan harga arak Rp 20.000 per liter maka nilai ekonomi dari arak bisa mencapai Rp 388 juta per hari. Kami harapkan kegiatan ini dapat memperkenalkan potensi lokal Desa Dukuh dan bila potensi ini dikelola dengan baik, maka Desa Dukuh dan Desa Tulamben akan menjadi satu kesatuan pariwisata Nyegara Gunung yang mensejahterakan masyarakat”.

Drs. I Wayan Sutapa, M.Si, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat yang hadir mewakili Bupati Karangasem pada kegiatan ini menyampaikan apresiasi Pemerintah Kabupaten Karangasem atas terselenggaranya kegiatan ini. “Semoga kegiatan ini dapat memberikan dampak yang besar dalam pembangunan di Karangasem dan masyarakat memiliki keterampilan sesuai potensi yang ada di Desa Dukuh,” ucapnya. 

Peserta praktek mengolah serat gebang, tanaman sejenis pandan
untuk hiasan rambut barong yang tumbuh di Desa Dukuh
Perayaan hari lingkungan hidup ini juga diisi sosialisasi adaptasi dan mitigasi bencana oleh BNPB kepada warga Desa Dukuh yang wilayahnya masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB).  Yudhi Widiastomo, ST, MT, Analis Bencana dari BNPB sebagai narasumber menyampaikan bahwa sosialisasi mitigasi ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang hidup di daerah rawan bencana. Pihaknya sangat mendukung kegiatan ini untuk dapat dilakukan di daerah-daerah lain sebagai upaya peningkatan kapasitas masyarakat agar lebih tangguh menghadapi bencana. Yudhi juga berharap agar pemerintah memberi perhatian terhadap perbaikan jalan di Desa dukuh, karena akses jalan sangat berkaitan erat dengan mitigasi bencana.

Perayaan hari lingkungan hidup yang diselenggarakan di desa  yang berjarak sekitar enam kilometer dari puncak Gunug Agung  ini tidak menyurutkan niat   ratusan peserta untuk hadir.  Peserta  tidak saja dari warga Karangasem, namun juga datang dari Denpasar. Peserta diajak melihat secara langsung proses pembuatan gula dan arak Desa Dukuh. Anna Smeltink, peserta asal Belanda mengungkapkan dirinya suka dengan rasa gula ental yang enak dan sangat terkesan dengan proses pembuatan produk lokal Dukuh dan serat gebang yang menjadi bahan rambut barong. Sementara mewakili pengrajin lokal, Nengah Sirig (pengrajin gula ental), mengaku antusias dengan adanya tamu yang datang berkunjung ke rumahnya dan berharap agar ke depannya gula ental asli Desa Dukuh semakin terkenal dan tak hanya dijual di daerah sekitarnya saja. 

Diakhir acara peserta dihibur oleh Made Mawut dan Gede Robi 'Navicula'. Melalui lagu dan pesanya Robi mengajak semua pihak untuk selalu menjaga kelestarian dan keseimbangan alam (GR)


Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya