Kurangi Risiko Bencana, BPBD Gianyar Bentuk Sekolah Tangguh Bencana

Anak-anak SD 3 Saba belajar menyusunan peta evakuasi, salah satu materi yang diberikan dalam kegiatan Pembentukan Sekolah Tangguh Bencana di Kabupaten Gianyar

REDAKSIBALI.COM- Indonesia merupakan negara yang memiliki gunung api aktif terbanyak di dunia, yakni 127 buah, dimana beberapa diantaranya merupakan letusan gunung api terkuat yang pernah terjadi di dunia.. Indonesia juga merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia yang juga menyebabkan sebagian besar kawasan pesisir pantai Indonesia rawan terlanda tsunami.

Selain itu, Indonesia juga memiliki iklim tropis yang menyebabkan sering terjadi banjir, tanah longsor, cuaca ekstrim, kekeringan, kebakaran lahan dan hutan serta abrasi dan gelombang ekstrim di beberapa wilayah Indonesia. Pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk menyebabkan Indonesia berpotensi akan ancaman kecelakaan industri dan wabah penyakit

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2017) dalam 15 tahun terakhir jumlah kejadian bencana di Indonesia meningkat hampir 20 kali lipat. Lebih dari 90% kejadian bencana di Indonesia diakibatkan oleh banjir dan tanah longsor, dimana lebih dari 28 juta orang terkena dampak antara 2002-2016. .Namun, berdasarkan jumlah korban jiwa, bencana terkait geologi adalah jenis bencana yang paling mematikan, dimana lebih dari 90% korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami

75% dari seluruh sekolah di Indonesia berada di lokasi rawan bencana sedang dan tinggi. Angka yang besar ini tentunya sangat mengkhawatirkan mengingat bila bahaya bencana terjadi misalnya gempa bumi, tanah longsor, dan banjir bandang, tsunami terjadi di jam sekolah  tentunya dapat membahayakan peserta didik dan guru didalamnya.

Untuk mengurangi risiko bencana di sekolah, BPBD Kabupaten Gianyar membentuk sekolah tangguh bencana,   upaya ini dilakukan dengan memahami bahwa anak-anak memiliki kebutuhan yang spesifik dalam menghadapi bahaya bencana serta seluruh upaya tersebut dilakukan dengan mengajak anak-anak untuk ikut serta berpartisipasi aktif sesuai dengan kapasitas dan minatnya

Pendidikan, pencegahan, dan pengurangan risiko bencana merupakan salah satu pilar dari tiga pilar pembentuk sekolah tanguh bencana. Dua pilar yang lain yakni fasilitas sekolah aman  dan manajemen bencana sekolah. 

I Dewa Anom Subaga, SE, MSi, Kepala Bidang Pencegahan dan  Kesiapsiagaan BPBD  Kabupaten Gianyar  ditemuai saat pembentukan Sekolah Tanguguh Bencana di SD 3 Saba, Kecamatan Blahbatuh mengungkapkan "Sekolah Tangguh Bencana menyasar sekolah-sekolah di daerah pesisir karena menurut peta bencana  ada potensi tsunami di Selatan Kabupaten Gianyar."

"Dari tahun 2016-2018   Kabupaten Gianyar melalui  dana dari APBD kabupaten baru bisa membentuk  3 Sekolah Tangguh Bencana. Ketiga sekolah tersebut   yakni SD 3 Ketewel di Banjar Kubhur dibentuk  tahun 2016, SD 4 Tulikup  dibentuk minggu lalu dan SD  3 Saba,  yang sedang dalam proses pembentukan  selama 4 hari ini dari  tanggal 24-27 September 2018. Dipilihnya SD 3 Saba sebagai Sekolah Tangguh Bencana dismping karena lokasi sekolah ini berada di pesisir juga karena sekolah ini bertingkat dan memiliki lahan yang relatif sempit. Kalau dari anggaran Provinsi sudah dibentuk 2 Sekolah Tangguh Bencana di Gianyar " ungkap Anom Subaga lebih lanjut. 

Pembentukan Sekolah Tangguh Bencana disi dengan kegiatan  peningkatan kapasitas bagi warga sekolah. Warga sekolah diberikan pemahaman tentang peran Basarnas dalam penangulangan bencana, sistem peringatan dini, penyusunan rencana penangulangan bencana, penyusunan rencana kontijensi penanggulangan bencana dan praktik simulasi evakuasi secara mandiri dan berkelanjutan.

Pembentukan sekolah tangguh di kabupaten Gianyar ini melibatkan narasumber dari unsur Basarnas Bali, BMKG Wilayah III Bali,  PMI Kabupaten Gianyar dan PMI Bali,  dan Ade Andreawan dari Yayasan IDEP Selaras Alam

"Bila terjadi gempa bumi anak-anak menunduk berlindung dibawah meja sampai goncangan berhenti, menjauh dari rak, bangunan, hati-hati dengan kabel listrik, menjauh dari pohon besar karena berpotensi tumbang.  Berhati-hati bila air laut surut tiba-tiba sehabis gempa karena itu pertanda akan terjadi tsunami. Bergeraklah ke arah menjauh dari laut. sesuai jalur evakuasi, jangan kembali sebelum ada pemberitahuan keadaan sudah aman kembali dan  kenali tanda-tanda peringatan tsunami" terang Ade Andreawan memberi tips kepada siswa SD 3 Saba untuk mengurangi risiko bencana gempa bumi dan tsunami.(GR)




Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya