Daftar Pasang Baru Indihome

Leak Sebagai Budaya Bali yang disalahartikan

Ilustrasi Rangda - Sumber Wikipedia

RedaksiBali | Denpasar , Leak atau Liak selama ini selalu dipakai sebagai alat kambing hitam bagi banyak masalah yang melanda masyarakat Bali pada umumnya. Kadangkala informasi yang sangat terbataslah yang menyembabkan banyak menilai negatif Budaya dan Ajaran yang sebenarnya sangat mumpuni dan adiluhung ini. Ibarat sebuah pengetahuan apabila dipergunakan untuk kebaikan, maka akan muncul sebagai kebaikan. Namun apabila dipakai untuk kejahatan, maka akan menimbulkan keburukan.

Sebelum seseorang belajar Ilmu Liak terlebih dahulu harus diketahui otonan orang tersebut (hari lahir versi Bali) hal ini sangat penting, agar murid tidak celaka oleh ilmu itu sendiri. Setelah diketahui barulah proses belajar Ngeliak dimulai. Dimana, pertama-tama murid harus mewinten Brahma Widya, dalam bahasa lontar Ngerangsukang Kawisesan dan hari baikpun tentunya dipilih oleh sang nabe (guru).

Tahap dasar murid diperkenalkan dengan Aksara Wayah (Modre), dalam hal ini aksara tersebut tidak bisa dieja karena merupakan aksara baku. Selajutnya murid di-rajah pada seluruh tubuh dari atas sampai bawah oleh sang guru, hal ini dilakukan di Setra pada saat hari Kajeng Kliwon Enyitan.

Pertama murid diajarkan untuk "nyungsang idep" yaitu membalikan pikiran, semua hal yang tidak baik harus dipikirkan menjadi suatu yang baik, begitu juga sebaliknya, biasanya ritual ini dilakukan dengan mencolek kotoran ayam dan menghirup baunya, ritual ini dikenal dengan istilah "nyolek-nyolek tain belek", bila bau kotoran ayam tersebut lama-kelamaan menjadi harum bagi pelaku, maka ia sudah lulus tingkat pertama. Proses lainnya adalah menjilati "bungut pawon"/ tungku perapianan dan sebagainya.

Selesai dari proses ini, barulah sang murid sah menjadi Leak bagi sang guru dan ia akan melakukan ritual di Setra dengani sarana sanggah cucuk dan beberapa sesajen.

Ada 5 sumpah yang harus ditaati dalam belajar Ngeliak, ialah :
  1. Hormat dan taat dengan ajaran yang diberikan oleh guru.
  2. Selalu melakukan ajapa-ajapa untuk menyembah Siwa dan Dhurga dalam bentuk Ilmu Kawisesan (Sakti).
  3. Tidak boleh pamer kalau tidak kepepet dan selalu menjalankan Dharma (kebaikan).
  4. Tidak boleh makan daging kaki empat, tidak boleh berhubungan intim dengan orang selain pasangan alias berzinah.
  5. Tidak boleh menyakiti atau dengan cara apapun melalui ilmu yang dipelajari.
Mungkin karena peraturani Nomor 4 ini yang paling ditakuti, maka dahulu dikatakan kebanyakan ilmu leak dipelajari oleh kaum perempuan, sebab kaum perempuan biasanya lebih kuat menahan nafsunya.

Di Bali yang namanya Rangda selalu indentik dengan wajah seram, tapi di Jawa di sebut RONDO berarti janda, inilah alasanya kenapa dahulu para janda lebih menguasai ilmu pengeleakan ini dari pada laki-laki, dikarenakan wanita lebih kuat nahan nafsu. Pada dasarnya kalau boleh saya katakan ilmu ini berasal dari tanah Jawa, campuran aliran SIWA dan BUDHA, yang di sebut dengan BAJRAYANA.


TINGKATAN PELAJARAN...
  1. Tingkat satu kita diajari bagaimana mengendalikan pernafasan, di bali dan bahasa lontar di sebut MEKEK ANGKIHAN, atau PRANAYAMA.
  2. Tingkat dua kita diajarkan VISUALISASI, dalam ajaran ini di sebut ” NINGGALIN SANGHYANG MENGET”
  3. Tingkat tiga kita diajar bagaimana kita melindungi diri dengan tingkah laku yang halus serta tanpa emosi dan dendam, di ajaran ini di sebut “PENGRAKSA JIWA.
  4. Tingkat empat kita di ajar kombinasi antara gerak pikiran dengan gerak tubuh, dalam bahasa yoga di sebut MUDRA, karena mudra ini berupa tarian jiwa akhirnya orang yang melihat atau yang nonton di bilang ” NENGKLENG ( berdiri dengan kaki satu ). Mudra yang kita pelajari persis seperti tarian siwa nata raja.
  5. Tingkat lima barulah kita diajar MEDITASI, dalam ajaran pengeleakan disebut “NGEREGEP, yaitu duduk bersila tangan disilangkan di depan dada sambil mengatur pernafasan sehingga pikiran kita tenang atau ngereh, dan ngelekas.
  6. Tingkat enam kita di ajarkan bagaimana melepas roh ( MULIH SANGHYANG ATMA RING BAYU SABDA IDEP ) melalui kekuatan pikiran dan batin dalam bahasa sekarang disebut LEVITASI, berada di luar badan. Pada saat levitasi kita memang melihat badan kita terbujur kaku tanpa daya namun kesadaran kita sudah pindah ke badan halus, dan di sinilah orang disebut berhasil dalam ilmu leak tersebut, namun ini cukup berbahaya kalau tidak waspada dan kuat iman serta mental kita akan keliru, bahkan kita bisa tersesat di alam gaib. Makanya kalau sampai tersesat dan lama bisa mati, ini disebut mati suri, maka Bhagawadgita benar sekali, ( apapun yang kamu ingat pada saat kematian ke sanalah kamu sampai…dan apapun yang kamu pikirkan begitulah jadinya )
Tentu dalam pelajaran ini sudah pasti dibutuhkan ketekunan, puasa, berbuat baik, sebab ilmu ini tidak akan berhasil bilamana dalam pikiran menyimpan perasaan dendam, apalagi kita belajar ilmu ini untuk tujuan tidak baik pasti tidak akan mencapai tujuannya. Kendati demikian godaan selalu akan datang seperti, nafsu sek meningkat, ini alasanya kenapa tidak boleh makan daging kaki empat, dan kita diajurkan tidur di atas jam 12 malam agar kondisi agak lemah sehingga nafsu seks berkurang (kata guru kalau ada orang mempelajari leak tidur sore-sore disebut LEAK SANJE , padahal tujuannya agar kondisi agak lemah saja). Dan tengah malam tepat jam 12 kita diwajibkan untuk meditasi sambil mencoba melepas roh, tapi di ajurkan yang deket-deket dulu, seperti ke parit, sawah, atau ke sungai.

Celakanya apabila kita melepas ROH pas lewat di rumah tetangga yang sedang mempunyai BAYI otomatis bayi tersebut pasti terbangun dan menangis teriak-teriak, hal ini disebabkan frekuensi bayi sama seperti kita. sebab bayi masih sangat peka . Bayi tersebut tidak takut cuma kaget aja ada SEPLETERAN yang lewat, seperti handphone adu signal n blenggg…inilah yang dikatakan sama orang awam bahwa bayi itu di ” AMAH LEAK” padahal tidak. 
Maka dari itu dalam dunia leak, ada aturan dilarang keras untuk lewat atau berada di keluarga yang mempunyai bayi untuk melepas ROH ( ngelekas, ngereh, ). Nah, bagi yang jahil tidak tertutup kemungkinan melepas roh dan mondar mandir di depan rumah orang yang punya bayi, ini yang sering terjadi di BALI, sehingga leak namanya rusak banget dan dituduh nyakitin. Apalagi ada orang sakit keras, kita iseng lewat atau sekedar jenguk melalui ROH sudah dipastikan orang tersebut kaget dan bisa jadi denyut jantung berhenti, alhasil MATI inilah hal-hal yang oleh orang awam di katakan bahwa leak itu jahat, makanya sang balian yang bijak akan memagari rumah orang sakit atau yang punya bayi itu dengan aksara tertentu, yang artinya sebagai simbul PARA PENGANUT LEAK DILARANG MASUK !!! Apabila ini di langgar perang atara leak dan balian pun terjadi, masalah kalah dan menang tergantung siapa yang mumpuni, disini tidak lagi berbicara dari fakultas mana, atau universitas mana, tapi sudah terjadi PERANG KAWISESAN

Nah inilah yang sering terjadi di Bali yang di sebut dengan SIAT PETENG, pada umumnya dari pihak leak yang sering kalah, sebab leak tidak mempelajari ilmu menyerang namun ilmu bertahan, sedangkan balian bisa saja ngiwa tengen, positif negatif sudah pasti dia yang menang, nyakitin bisa, ngobati juga bisa, ini yang disebut balian ngiwa tengen

Pada umumnya, penganut ilmu leak ( ngisinin jengah) terpacing emosi, inilah kelemahanya apabila itu terjadi sudah dipastikan ilmu hitam yang menang sebab emosi adalah makanan ilmu hitam. Kalau penganut ilmu leak memegang teguh janjinya dia tidak akan berontak bilamana terpancing emosinya, malah dia mendoakan dan memaafkan sudah pasti dia yang menang sebab itulah dasar ilmu leak tersebut, sabar dan darma untuk mencapai tujuan.

SANGKEPAN LEAK

Kata ini juga sering kita denger sehingga timbul pertanyaan apakah LEAK ada rapatnya, atau REUNI, serta bagi ibu-ibu ARISAN LEAK, TEMPEK INI, DAN ITU. Yang bener adalah dalam dunia leak sama seperti perkumpulan spiritual, pada hari-hari tertentu pada umumnya KAJENG KLIWON, kaum leak mengadakan puja bakti bersama memuja SIWA, DURGA, BERAWI, biasanya di pura dalem atau di Kuburan, Prajapti dalam bentuk NDIHAN, bukan kera, anjing, dan lain-lain.

Ilmu leak bukan ilmu merubah wujud, jadi kalu ada yang bilang melihat KERA, PITIK BENGIL dan lain-lain, itu yang melihat kena sihir, akibat biasa nonton PERCAYA GA PERCAYA, atau UJI NYALI jadi kata sangkepan leak bisa dibenarkan namun sesungguhnya bukan rapat tapi puja bakti, hanya itu !!!

KEKUATAN LEAK TERLETAK PADA SIHIRNYA

Baru-baru ini ada shoting oleh stasiun TV Swasta Jakarta , sebagai uji coba bisa ga leak di short oleh kamera. Beberapa orang ada yang mencela serta apiori dengan ilmu leak, (terutama kru TV ), di sinilah kelemahan orang tersebut lalu mereka disuruh menatap mata praktisi leak tersebut, dan baca mantra abrakedabra tiga kru TV lari sambil menjerit katanya mereka melihat praktisi leak tersebut kayak patung Rangda, yang kebetulan sebelum shoting mereka diajak ke pasar SUKAWATI untuk liat-liat patung-patung meyeramkan itu, sedangkan ada lagi 3 orang yang imannya cukup bagus, mereka melihat praktisi tersebut biasa-biasa saja

Makanya tidak gampang NGELEAKIN ORANG, apalagi orang tersebut kuat iman, rajin meditasi, berdoa, sampe berbuih pun mulut kita komat-kamit baca mantra, gak bisa bikin takut, paling-paling diledekin, kok tidak berubah. Makanya cobalah SEMETON tanya dan kumpulkan 10 orang pernahkah mendengar leak jawabnya PERNAHHHHHHH, pernakah melihat leak, TIDAKKKKKKKK. Tidak setiap orang mampu melihat leak dan tidak setiap leak kuasa atas diri orang lain.

DASA AKSARA BUKAN DASAR ILMU LEAK

Pernah mendengar dasa aksara atau yang umum di jabarkan sebagai berikut, SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, YANG. Ilmu ini adalah dasar dari sepuluh prana atau DASA BAYU dasa aksara ini mempunyai arti memuliakan dewa SIWA, seperti SAGORA, BAMADEWA, TATPURUSHA dan selanjutnya. Dasa aksara ini murni dibawa oleh aliran SIWA SHIDANTA dan bagian untuk mencapai pencerahan batin melalui aksara tersebut, hasilnya hampir mirip sama-sama mengeluarkan CAHAYA namun tidak spesifik. Sedangkan PANCA GNI WIJAKSARA, sangat spesifik sekali, Dasa aksara lebih banyak akan mengakses kedunia kerohanian bukan KWISESAN . Sehingga dasa akasara ini akan mencapai puncaknya apabila seseorang memurnikan batinya melalui dasa yama brata, dan ini murni ilmu kerohanian

Dikutip dari berbagai  sumber : wikipedia, info denpasar, iloveblue
(IMSA)


Share on Google Plus

About I Made Surya Adnyana

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya