MELINDUNGI KEKAYAAN SUMBER DAYA GENETIK INDONESIA

 Dr. Ir. Moh. Haryono, M.Si, Kepala Sub Direktorat Sumber Daya Genetik Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  memberi pemaparan pada acara Sosialisasi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor : P2/MenLHK/ Setjen/Kum.1/1/2018 tentang Akses pada Sumber Daya Genetik Spesies Liar dan Pembagian Keuntungan  atas Pemanfaatannya hari Kamis (13/9/2018) di Kuta, Bali 


REDAKSIBALI.COM "Keanekaragaman hayati (Biodiversity) Adalah keanekaragaman semua bentuk kehidupan yang dapat dikelompokan menurut ekosistem, spesies, dan genetik di dalam jejaring kehidupan.  Kekayaan hayati kita luar biasa hebatnya, kita punya  mamalia 720 jenis (13% jumlah jenis dunia) , invertebrata ( insekta 151.847 jenis, hymenoptera 30 ribu dan moluska 5.170 jenis), burung 1.605 jenis (16 % jumlah jenis dunia), amphibian 385 jenis (6% dari jumlah jenis dunia), reptilia 723 (8% jumlah jenis dunia), kupu-kupu 1.900 jenis (10 % dari jumlah jenis dunia), dan flora (spermaophyta, tumbuhan berspora) 110483 jenis." 

Hal itu diungkapkan Dr. Ir. Moh. Haryono, M.Si, Kepala Sub Direktorat Sumber Daya Genetik pada Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Sosialisasi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor : P2/MenLHK/ Setjen/Kum.1/1/2018 tentang Akses pada Sumber Daya Genetik Spesies Liar dan Pembagian Keuntungan atas Pemanfaatannya hari Kamis (13/9/2018) di Kuta, Bali 

Haryono memaparkan keluarnya peraturan ini didasari pertimbangan bahwa Undang Undang Nomor 11 Tahun 2013 telah diratifikasi tentang Pengesahan Nagoya Protocol on Access to Genetik Resources and the Fair and Equitab Sharing of Benefits Arising from Their Utilization to the Convention on Biological Diversity (Protokol Nagoya tentang Akses Pada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan Yang Adil dan Seimbang Yang Timbul Dari Pemanfaatannya Atas Konvensi Keanekaragaman Hayatil) 

Tujuan protocol Nagoya adalah untuk menjamin kedaulatan negara atas kepemilikan Sumber Daya Genetik (SDG), menjamin pembagian keuntungan antara pihak penyedia dengan pemanfaat, melindungi SDG dan Pengetahuan Tradisional (PT) yang terkait dengan SDG, menjamin pemanfaatan yang berkelanjutan, Mencegah biopirac 

Peraturan ini mengatur perijinan terkait akses pemanfaatan sumber daya genetik spesies liar baik untuk kepentingan komersial dan non komersial . Kepentingan non komersial seperti penelitian, taksonomi, identifikasi, judisial. Sedangkan untuk non komersial diantaranya bioprospeksi, aplikasi industry, dan pengembangan teknologi, 

Iwan Dewantama dari Conservation International Indonesia yang turut hadir dalam acara sosialisasi itu menyatakan mendukung dikeluarkannya peraturan menteri ini. “ Didarat kita paling kaya ke tiga, di laut Indonesia paling kaya di dunia. Banyak riset dari luar namun kita malah tidak punya datanya. Peraturan ini merupakan upaya untuk mengatur dan meliundungi sumber daya genetik yang kita miliki dan upaya untuk mengantisipasi pencurian keanekaragaman hayati kita. Secara tidak langsung kita semakin menyadari bahwa sumber daya genetik merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya melakukan pelestarian. Kita berharap database SDG  kita semakin baik kedepannya". (GR)
Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya