Desa Sanur Kaja Pelopori Pelarangan Perdagangan Daging Anjing

(dari kiri -kanan) Dr. Made Subrata (Dosen dan peneliti Unud), I Made Sudana (Perbekel; Sanur Kaja), Ida Bagus Kiana (Anggota DPRD Kota Denpasar), Ida Bagus Alit Sudewa (Ketua BPD Sanur Kaja), Surya Anaya (moderator) saat memeberikan keterangan pada awak media serangkaian Hari Bebas Rabies Sedunia dan Peluncuran Perdes Sanur Kaja no 3 tahun 2018, hari Jumat (5/10/2018) di Denpasar

REDAKSIBALI.COM- Anjing dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Bali sebagai salah satu ciptaan Tuhan yang ditakdirkan menjadi hewan peliharaan, sahabat yang baik dan setia kepada tuannya, serta dapat diandalkan menjadi penjaga rumah dalam setiap keluarga. Sehingga anjing wajib untuk diperlakukan dengan baik, dipelihara dan dilestarikan. Namun demikian anjing juga dikenal sebagai hewan penyebar virus rabies

Dengan disahkannya Peraturan Desa Sanur Kaja No 3 tahun 2018, Desa Sanur Kaja, Denpasar Selatan menjadi pelopor dalam membentuk peraturan desa yang melarang produksi, memiliki persediaan atau pun konsumsi daging anjing dan melindungi anjing dari penganiayaan, peracunan dan pencurian. Peraturan desa ini juga mempromosikan kesejahteraan hewan, termasuk Lima Kebebasan Hewan, dan secara eksplisit melarang semua aspek perdagangan daging anjing.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa Sanur Kaja, Ida Bagus Alit Sudewa,SH, di dampingi Perbekel Desa Sanur Kaja I Made Sudana mengungkapkan pokok-pokok utama di dalam Perdes tersebut mengatur agar setiap orang dilarang untuk: 1. menganiaya dan atau membunuh dan mencuri anjing yang berada di wilaya. Desa Sanur Kaja. 2. Memproduksi dan atau mengedarkan makanan yang berbahan daging anjing. 3. Menyimpan sebagai persediaan, membeli, menyediakan makanan berbahan daging anjing untuk dikonsumsi sendiri maupun oleh orang lain.  4. Menjual anjing dalam keadaan hidup atau mati sebagai persediaan makanan berbahan daging anjing untuk dikonsumsi sendiri maupun oleh orang lain. 5, Membuang anjing dalam keadaan hidup atau mati di dalam wilayah desa. 6, Membuang anjing dalam keadaan hidup atau mati di luar wilayah desa. 7. Peraturan ini juga menjelaskan hak dan kewajiban dari para pemilik anjing di Desa Sanur Kaja, bagaimana cara pemeliharaan anjing yang baik, serta sanksi atas pelanggarannya.

Peraturan Desa ini merupakan hasil kolaborasi program pengendalian rabies Desa Sanur Kaja dengan Universitas Udayana, Yayasan Bali Animal Welfare (BAWA), dan International Fund for Animal Welfare (IFAW). Program ini berfokus pada penjangkauan dan pemberdayaan masyarakat serta penerapan prinsip One Health untuk memberantas rabies. Setidaknya 70% dari populasi anjing di daerah Sanur telah melaksanakan vaksinasi yang disertai dengan keterlibatan masyarakat langsung di dalamnya.

Ida Bagus Kiana, tokoh Deesa Sanur Kaja yang juga anggota DPRD Kota Denpasar berharap desa-desa lain diseputar Sanur khususnya dan Denpasar pada umumnya juga membuat peraturan sejenis sehingga penanganan rabies dapat diselesaikan secara menyeluruh.(GR)





Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya