Daftar Pasang Baru Indihome

Kritik Seniman untuk IMF-Word Bank : Dari Globalisasi ke Gombalisasi Menuju Go-Balisasi

I Gusti Ngurah Karyadi (kiri) dan Nyoman Mardika (kanan) saat memberi keterangan pada awak media terkait pameran  kartun, poster dan mural yang bertemakan 'Dari Globalisasi ke Gombalisasi menuju Go-Balisasi' hari Rabu (10/10/2018) di Kampung Puisi Jatijagat, Renon, Denpasar

REDAKSIBALI.COM. Pemerintah Indonesia menjadi tuan rumah bagi pertemuan IMF-World Bank Annual Meeting yang berlangsung di Nusa Dua, Bali dari tanggal 10 sampai 14 Oktober 2018. Merespon pertemuan tahunan Bank Dunia-IMF tersebut berbagai elemen masyarakat sipil progresif dari tingkat lokal, nasional, regional dan internasional bergabung dalam satu barisan menamakan diri Gerak Lawan. Respon Gerak Lawan terhadap IMF-World Bank Annual Meeting ini bertajuk Rakyat Menggugat: World Beyond Bank

Bentuk respon kritis terhadap IMF-Word Bank ini, Gerak Lawan’ berkolaborasi dengan ProDem Bali menyelenggarakan pameran kartun, poster dan mural yang bertemakan ‘Dari Globalisasi ke Gombalisasi menuju Go-Balisasi’ di Kampung Puisi Jatijagat, Renon, Denpasar. Pameran ini berlangsung dari hari Rabu hingga hari Sabtu (13/10/2018).

Terkait tema pameran, aktivis Prodem Bali I Gusti Ngurah Karyadi mengungkapkan, Globalisasi mengacu pada tujuan awal Bank Dunia dan IMF ketika didirikan untuk menciptakan persaudaan dan kemakmuran pasca Perang Dunia.

Tetapi kemudian terjadi gombalisasi dimana melalui pemberian hutang, IMF justru membiarkan rejim-rejim korup seperti Orde Baru di Indonesia melakukan korupsi dan menyengsarakan rakyat. "Sehingga rakyat hanya dapat gombal-gombalnya saja," tegasnya

Ngurah berharap  ke depannya, berawal dari Bali, situasi itu akan berubah sehingga dari Bali akan kembali tercipta kemakmuran bersama.

Nyoman Mardika dari Yayasan Manikaya Kauci yang juga Koordinator ProDem Bali menyampaikan, selama ini di Bali sering diselenggarakan acara bertaraf internasional yang membuai rakyat Bali tentang hal-hal yang berbau turis dan pariwisata namun tidak mengetahui esensi dan substansi sebenarnya dari acara tersebut.

"Rakyat Bali harus mengetahui esensi dan substansi dari pertemuan ini tuturnya, harus membangun konstruksi kritis," sebutnya.

"Ini untuk menjaga akal sehat kita. Jangan menerima begitu saja tanpa memahami kepentingan di balik kebaikan mereka," kata Nyoman Mardika lebih lanjut

"Memang 70 persen pendapatan daerah di Bali berasal dari pariwisata, namun di sisi lain, Bali kehilangan 800 - 1000 hektar lahan setiap tahunnya, dan 54 subak hilang selama lima tahun terakhir, ini data, ini fakta, berdasarkan Badan Pusat Statistik. Jadi saya mau menekankan, rakyat Bali jangan terbuai dengan pariwisata karena alih fungsi lahan sangat masif di Bali saat ini, Bali tidak berdaulat pangan," paparnya.

Pameran yang berlangsung selama empat hari ini  memajang karya kartunis Bali Gus Dark, sedang poster karya Alit Ambara bersama Nobody Corp. Karya mural oleh komunitas Jamur, karya komik serta lukisan yang langsung digarap di lokasi. Sejumlah seniman asing terlibat dalam acara ini seperti dari Afrika Selatan dan Belanda.(GR/rls)


Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya