Paket Wisata Rp 200 Ribu, Pemerintah Tiongkok Batalkan Keberangkatan Wisatawan ke Bali

Ketua Komite Tiongkok DPP Asita Pusat, Hery Sudiarto (batik biru) menemui Konsulat Jendral (Konjen) Tiongkok di Denpasar melaporkan masalah Pariwisata Bali yang dijual murah ke Tiongkok

REDAKSIBALI.COM - Bali digegerkan oleh ulah Travel Agent yang menjual murah Pariwisata Bali ke Tiongkok (China). Ada dugaan permainan jaringan pengusaha asal Tiongkok di balik aksi jual murah pariwisata Bali tersebut.

Jika sebelumnya publik dikejutkan dengan harga paket wisata ke Bali yang dijual hanya dengan harga Rp 600 Ribu (499 RMB) untuk tiket pulang pergi, biaya hotel dan makan untuk lima hari di Bali, kini muncul kabar terbaru yang mencengangkan. Paket pariwisata ke Bali diobral ke wisatawan Tiongkok hanya dengan harga Rp 200 Ribu (99 RMB), sudah termasuk tiket pulang pergi, biaya hotel dan makan untuk lima hari di Bali.

Ada 200 Wisatawan Tiongkok yang siap berangkat ke Bali hanya dengan modal Rp 200 Ribu tersebut. Namun, kedatangan wisatawan tersebut yang dijadwalkan datang ke Bali pada 12 Oktober lalu menggunakan satu pesawat, dibatalkan oleh Pemerintah Shen Zhen, Tiongkok, karena harga tiket pesawat Bali tersebut tidak sehat.

Hal itu diungkapkan Ketua Komite Tiongkok DPP Asita Pusat, Hery Sudiarto, usai melaporkan ke Konsulat Jendral (Konjen) Tiongkok masalah Pariwisata Bali yang dijual murah ke Tiongkok, Selasa (16/10/2018).

Hery yang didampingi Penasehat Komite Tiongkok DPP Asita Asman dan Chandra Salim, menjelaskan, pembatalan tersebut dilakukan oleh lembaga pariwisata sejenis Asita di Indonesia. Namun Asita di Tiongkok itu adalah pemerintah. Jadi yang membatalkan adalah pemerintah setempat dengan surat resmi. "Rencananya mereka berangkat ke Bali tanggal 12 Oktober lalu. Tanggal 11 Oktober dibatalkan berangkat ke Bali. Pembatalan dengan alasan bahwa harga tidak sehat, sehingga dibatalkan terbang ke Bali. Jadi wisatawan Rp 200 ribu itu dibatalkan masuk Bali,” ungkap Hery.

Ia mengaku gerah dengan ulah agen travel yang menjual murah pariwisata Bali. "Jadi hanya dengan Rp 200 ribu bisa ke Bali, tiket pulang pergi, makan dan menginap lima hari di Bali. Semakin parah, semakin kacau. Bisa dibayangkan, dari Shen Zhen ke Bali biaya Rp 200 ribu. Mungkin kita ke Tabanan biaya bensin dan makan sendiri sudah Rp 200 ribu. Untung pemerintah setempat membatalkan kedatangan mereka," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya sudah melaporkan masalah ini ke Konsulat Tiongkok di Bali. Namun pihaknya tak bisa bertemu Konjen Mr. Gou Hao Dong karena sedang cuti. Sementara Wakil Konjen Tiongkok Mr. Chen Wei yang menerima mereka belum bisa memberikan jawaban yang jelas sebagai solusi atas masalah itu.

Hery mengatakan, kepada Pihak Konjen Tiongkok sudah dijelaskan bahwa praktek jual murah pariwisata Bali karena ada permainan mafia. Mereka adalah pengusaha asal Tiongkok yang memiliki toko oleh-oleh di Bali. Mereka memberi subsidi harga paket wisata sehingga dijual murah oleh Travel Agent ke wisatawan Tiongkok. Namun, saat wisatawan tiba di Bali mereka wajib berbelanja di toko-toko milik mereka. Mereka meraup keuntungan besar dari hasil penjualan souvenit di toko-toko tersebut.

Ia menjelaskan, praktek ini sangat merugikan pariwisata Bali dan merugikan nama baik Tiongkok. "Pemilik Toko ini yang mensubsidi paket wisata murah ke Bali, namun setelah di Bali wisatawan dipaksa untuk masuk ke toko – toko mereka untuk belanja. Dalam lima hari, empat malam mereka harus masuk dari toko ke toko berjaringan, khusus untuk wisatawan Tiongkok yang disubsidi masuk Bali itu. Fakta – fakta ini sudah kami sampaikan, nanti kami dijanjikan untuk diterima setelah Konjen selesai cuti,” katanya.

Sementara Asman mengatakan, jaringan pengusaha Tiongkok yang memiliki toko di Bali perlu ditertibkan  untuk mencegah aksi jual murah pariwisata Bali. "Kenapa bisa dengan harga Rp 200 ribu masuk Bali. Untuk lima hari dapat hotel, dapat makan? Ini yang menjadi pertanyaan, jawabannya karena ada pemain yang mensponsori (subsidi oleh pemilik toko,red). Jadi Jaringan ini yang mesti ditertibkan. Karena diduga ada permainan – permainan,” kata Asman.

Adapun Chandra Salim menilai, ada skenario besar pengusaha asal Tiongkok yang membangun jaringan Toko di Bali. Mereka ingin menguasai pasar Tiongkok, kemudian mematikan bisnis lokal di Bali. “Setelah mati baru mereka menguasai semuanya. Mulai wisatawan yang datang, travel agent, guide dan lainnya. Sekarang mereka beli kepala dengan subsidi tour Tiongkok – Bali, kemudian mereka dipaksa masuk toko,” katanya.

Ia pun menunjukan sebuah video seorang pegawai toko yang marah – marah di salah satu Toko di Bali jaringan mafia wisatawan murah. Wisatawan duduk dimarah-marahi karena tidak mau belanja. “Dicaci maki, intinya tidak mau belanja, kemudian dimarah-marahi, namun wisatawan Tiongkok itu mengaku tidak membawa uang sebanyak itu,” ujar Chandra.

Ia meminta pemerintah dan komponen masyarakat Bali lainnya untuk bersama-sama menyelesaikan masalah ini. "Pariwisata di Thailand dan Vietnam pernah dikacaukan dengan pola bisnis pariwisata seperti yang sekarang terjadi di Bali. Sehingga masalah ini harus segera diatasi. Thailand dan Vietnam akhirnya berhasil menanggulangi masalah ini dengan menutup toko – toko  yang bermain itu. Bahkan menggunakan tentara. Para pedagang dan pemilik yang masih berkewarganegaraan Tiongkok namun bekerja di sana ditangkapi. Semoga tindakan tegas seperti itu bisa dilakukan di Bali," tegasnya.(Ar)
Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya