Ratusan Sastrawan dan Budayawan dari 30 Negara Siap Berbagi Cerita di UWRF 2018

Dari kiri ke kanan: Wayan Juniarta (Program Manajer UWRF), Ketut Suardana (Pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati), Kadek Sri Purnami (GM UWRF), Carma Citra Wati (Penulis berbahasa Bali) saat memberi keterengan pada awak media terkait UWRF 2018, hari Selasa (16/10/2018) di Denpasar 


REDAKSIBALI.COM  - Ubud Writers Readers Festival (UWRF) yang ke-15 akan  dibuka pada tanggal 24 Oktober 2018 mendatang. UWRF diselenggarakan selama lima hari dan diisi dengan ratusan program acara seperti panel-panel diskusi, workshop, peluncuran buku, special event, pertunjukan musik, pemutaran film, dan pameran seni.

Tema UWRF yang ke-15 yaitu ‘Jagadhita’, tema ini ditarik dari sebuah filosofi Hindu kuno yang berbicara mengenai kebahagiaan dan kesejahteraan. ‘Jagadhita’ sendiri adalah ‘kebahagiaan di jagat raya sebagai sebuah tujuan hidup’, dan untuk UWRF 2018, arti dari Jagadhita ini ditafsirkan ulang sebagai ‘dunia yang kita ciptakan’ atau the world we create .

UWRF adalah proyek tahunan utama dari yayasan nirlaba Mudra Swari Saraswati yang didirikan oleh Co-founder, Janet DeNeefe sebagai bentuk pemulihan setelah tragedi bom Bali pertama.  Festival yang diselenggarakan sejak tahun 20014 ini kini dikenal sebagai salah satu festival sastra terbesar di Asia Tenggara.

Pada  UWRF kali ini   lebih dari  180  figur-figur mengagumkan dari 30 negara dihadirkan.   Membahas pemikiran, ide, serta isu-isu global, berbagi kisah, dan inspirasi dalam 70 sesi panel diskusi  dan ratusan program lainnya .

Menurut siaran pers yang diterima redaksibali.com, UWRF ke-15 ini memiliki  program kesenian yang menghadirkan para penyair, musisi, penari, sutradara, dan seniman dari Indonesia dan negara-negara lainnya. Beberapa program kesenian ini merupakan acara tak berbayar yang bisa diakses oleh publik dan dinikmati siapa saja.

Pencinta sastra bisa berjumpa para penulis dari seluruh dunia. Penikmat film berkesempatan untuk berbincang dengan sutradara ternama. Penggemar seni bisa mengagumi beragam instalasi seni serta larut dalam alunan harmoni dari para musisi favoritnya. Pemuja puisi dan kata-kata pun bisa ikut berekspresi dalam wadah terbaik yang dibutuhkannya

Pada hari Rabu (24/10/2018), UWRF akan menayang kan film dokumentasi perjalanan Chaplin pada tahun 1932, berjudul Chaplin in Bali (2017) Film ini merupakan salah satu film di UWRF yang pemutarannya didukung oleh Balinale Bali International Film Festival

Sehari setelahnya, pada Kamis (25/10/18), para peserta UWRE dan publik bisa menikmati  Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017), film pilihan Komite Seleksi Oscar 2019 untuk mewakili Indonesia dalam mengikuti kompetisi Best Foreign Language Film pada oscar ke-91 tahun depan.

Selain kedua film tersebut, UWRF juga menghadirkan pemutaran film Love is a Bird (2018) yang merupakan karya terbaru dari Richard Oh, akan ditayangkan pada  Jumat (26/10/18). Laut Bercerita (2017) yang diadaptasi dari novel Leila S. Chudori dan disutradarai oleh Pritagita Arianegara juga ditayangkan pada hari yang sama.  Sedangkan film Sekala Niskala (2017) karya Kamila Andini ditayangkan pada Sabtu, (27/10/18). Beberapa pemutaran film di UWRF ini juga akan diikuti oleh sesi tanya jawab bersama para sutradara

Untuk  para pencinta buku, UWRF  menggelar peluncuran buku di beberapa lokasi sekitar Ubud, Nayla karya Djenar Maesa Ayu yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Sebastian Partogi dan disunting oleh Kan Lume, akan diluncurkan di Blanco Renaissance Museum pada Kamis, (25/10/2018). Para peserta Festival  bisa bergabung bersama kelima Emerging Writers UWRF dalam peluncuran UWRF18 Bilingual Antholegy pada sabtu (27/10/10) di Joglo Taman Baca.

Para penggemar seni bisa menikmati instalasi seni karya seniman terbaik dari Indonesia. Pameran bertajuk Anonymous Ancestors karya Budi Agung Kuswara yang merupakan sosok di balik poster #UWRF10 akan ditampilkan di Casa Luna, dari 25 Oktober-25 November.

Comfort Zone A Solo Exhibition by Kunchir Bathya Viku telah dibuka di Littletalks Ubud sejak 30 September dan akan berlangsung hingga 30 Oktober mendatang. Para pengunjung UWRF  bisa menikmati pameran seni lainnya seperti GloBALIzation yang menggambarkan budaya dan moderenitas yang berseberangan. Pause,  Urban Decay,  yang menghadirkan karya fotografi ruang urban, Masa Subur karya para seniman perempuan Indonesla,

Bagi para penggemar puisi, UWRF memberi ruang untuk berekspresi hingga membacakan karya terbaiknya dalan sesi Piknik Puisi dan Ekepresi yang akan diselenggarakan di Taman Puisi.

Selain itu, UWRF juga menghadirkan Homen of Words Poetry Slam yang didukung oleh PWAG Indonesia untuk merayakan feminisme dan keberagaman dalam rangkaian kata-kata yang indah.

Ada pula Hujan Bulan Juni, sebuah pertunjukkan musikalisasi puisi dengan penampilan dari Teater Kalangan, Jovan Yudistira, Sams, Kwal, dan Resonansi Ruang. Para pengunjung Festival  bísa menikmati sajak-sajak yang akan dibawakan Tishani Doshi dan pembacaan karya oleh  Dee Lestari dalam sesi Aroma Karsa.

Penampilan komposer musik jazz Spanyol Rodrigo Parejo, pemain alat musik koran Miriam Liebermann, serta penyair Saras Dewi dan Kadek Sonia Piscayanti dapat dinikmati dalam sesi From Bali to West Africa. Musik dan harmoni dalam sesi The World We Create dengan menghadirkan Brozio Michael Band, Gabriel Mayo, dan Pagi Tadi. Para musisi tersebut akan mengekaplorasi tema UWRF Jagadhita' lewat nada yang ditampilkan musisi Lastine & Nova, Ika and The soul Brothers, dan Gaya Gayo (GR/rls)



Share on Google Plus

About Ngakan Made Giriyasa

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya