Sunday Fun Cooking Lesson, Saat Anak-Anak Difabel Belajar Memasak

Suasana Sunday Fun Cooking Lesson yang diadakan setiap hari Minggu siang di Warung Tresni, Jalan Drupadi, Denpasar

REDAKSIBALI.COM - Dalam dunia internasional, orang-orang dengan perbedaan fungsi fisik maupun mental ini biasa disebut dengan disabled people atau penyandang disabilitas. Akan tetapi, sejak akhir tahun 1990-an, kata ini menarik banyak perhatian karena maknanya yang cenderung kasar.

Disabilitas merupakan kata yang digunakan untuk menyebut kecacatan atau ketidakmampuan. Padahal, penyandang disabilitas dapat berfungsi dengan baik dalam masyarakat dengan bantuan dan perawatan yang tepat. Karena itu, kini penamaan orang-orang dengan perbedaan fungsi fisik maupun mental bergeser dari dis ability  (ketidakmampuan), menjadi different-ability (orang dengan kemampuan yang berbeda). Kata ini kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi difabel.

Kekhususan atau perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh anak-anak seharusnya tidak menjadi batasan bagi mereka untuk mengembangkan bakat dan potensi. Memperhatikan perkembangan dan pendidikan bagi anak difabel menjadi urusan yang penting, terutama bagi orang tua. 

Salah satu langkah pertama yang dapat dilakukan oleh orang tua anak yang memiliki kemampuan berbeda ini  adalah melakukan identifikasi kekhususan dan kebutuhan anak. Dengan memahami kondisi anak, orang tua dapat memberikan perawatan yang tepat dan menjadi jembatan putra-putrinya  untuk mengoptimalkan potensi diri.

Tertarik mengembangkan bakat dan potensi anak-anak dengan kemampuan berbeda ini, Komunitas Peduli dan Berbagi untuk Anak Difabel secara rutin setiap hari Minggu siang menyelenggarakan acara  Sunday Fun Cooking Lesson di Warung Tresni, Jalan Drupadi,  Denpasar

I Ketut Go Gonk Permana inisiator acara ini menyampaikan  “di Sunday Fun Cooking Lesson ini anak-anak dengan kemampuan berbeda  belajar memasak, membuat sate, menggoreng ikan dan lain-lain. Pembelajaran menu lainnya  akan ditambah  seiring dengan tingkat pertumbuhan kemampuan anak. Disini anak-anak juga belajar menawarkan  makan yang mereka buat kepada pengunjung yang hadir. Belajar bagaimana melayani, termasuk tata kelola keuangan dan pembukuan”

”Tujuan kami menyelenggarakan acara ini untuk mempersiapkan pengetahuan, keterampilan, sikap mental anak. Agar anak-anak bisa menghadapi tantangan kehidupan kedepannya dan bisa menjadi pribadi yang mandiri.” sambung Go Gonk Permana kepada redaksibali.com.

Acara yang sudah berlangsung selama empat minggu ini  diikuti oleh 15 orang peserta yang berasal  dari  anak-anak difabel   type B, yakni anak-anak yang memiliki kemampuan berbeda  karena pendengaran.

Agung Pradnya orang tua salah satu anak yang ikut terlibat dalam acara Sunday Fun Cooking Lesson berpendapat  kegiatan ini sangat bermanfaat. Kegiatan ini melatih anak-anak  menjadi mandiri, meningkatkan kreatifitas anak , menumbuhkan percaya diri terhadap anak, dan anak-anak  memiliki kegiatan yang positif.

Senada dengan Agung Pradnya, Jro Sipit memuji acara ini  karena acara seperti ini bisa menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak, juga bisa mengajarkan kebersamaan dalam bekerja.

“Anak yang terbiasa memasak bersama akan tumbuh sebagai anak yang gemar bersyukur. Ia telah melewati proses memasak yang begitu rumit dan cenderung akan menghargai hasil dari proses tersebut. Dari belajar memasak mengajarkan anak untuk menikmati setiap hasil masakan yang sudah dibuatnya. Dan acara memasak bersama ini mengajarkan anak anak tentang kebersamaan” kata Ayu Krisna yang putrinya juga ikut menjadi peserta (GR)



Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya