Suksma Bali 2018, Menuju Bali Bebas Sampah Plastik


REDAKSIBALI.COM - Suksma Bali 2018 sebagaimana diprogramkan oleh Paiketan Krama Bali boleh jadi akan menorehkan sejarah dengan menggandeng stakeholder pariwisata; PHRI, IHGMA, BHA, BVA, UHA, dan UHSA untuk melakukan ‘Declaration To Eliminate Single-Use Plastics’ pada Simposium Suksma Bali pada 7 Desember 2018.

Deklarasi ini, kata Ketua Panitia Suksma Bali 2018, Yoga Iswara, BBA., BBM., MM., CHA adalah komitmen serta gerakan bersama sebagai ungkapan terima kasih yang mendalam, dengan mengurangi beban sampah plastik pada Ibu Pertiwi Bali. Menurutnya, plastik sekali pakai yang dimaksud adalah segala berbahan plastik yang digunakan sekali pakai, seperti pipet plastik, botol atau gelas plastik, kantong plastik belanja, pembungkus makanan take away, bahkan Ucapan Board yang menggunakan bahan styrofoam.

“Gerakan bersama ini merupakan legacy yang ingin kita wariskan untuk generasi Bali mendatang, dalam mewujudkan cita-cita kita bersama yaitu Bali yang berkualitas, berbudaya dan berkelanjutan” kata Yoga Iswara.

Menurut Yoga Iswara, Suksma Bali merupakan suatu gerakan revolusi mental dalam kehidupan masyarakat Bali dimana secara langsung kegiatan tersebut mengajak semua pihak untuk mensyukuri atas apa yang telah didapatkan dari tanah pertiwi Bali baik yang berusaha dalam perekonomian serta mendapatkan segala berkah sehingga roda pembangunan semakin lancar dengan kuatnya sinergi berbagai pihak.

Suksma Bali menjadi salah satu bagian reformasi Pariwisata untukmemenuhi kebutuhan semua pemangku kepentingan termasuk pelanggan dengan tidak mengabaikan kebutuhan generasi yang akan datang. 

Seperti dijelaskan  oleh Steering Commitee Ida Rsi Wisesanatha, langkah awal Suksma Bali adalah gerakan mengajak untuk melakukan pembersihan lingkungan, kemudian mengedukasi dan sekaligus membangun kesadaran akan bahaya sampah plastik, dan puncaknya adalah membangun gerakan bersama untuk berkomitmen dalam melakukan langkah besar dalam memerangi sampah plastik dengan melakukan perubahan behaviour kita dengan menghindari penggunaan bahan single-use plastic.

Yoga Iswara menambahkan, ini adalah outcomes penting dan utama dari Suksma Bali 2018, sekaligus sebagai ungkapan mendalam kepada Ibu Pertiwi Bali, tempat kita bersama dianugrahkan kehidupan dan mendukung program Pemerintah Bali dalam mewujudkan “Nangun Sat Kertih Loka Bali” yang pempunyai arti menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama dan gumi Bali yang sejahtera dan bahagia.

Ketua Bidang CSR Suksma Bali, I GA Ngurah Darma Suyasa, CHA menambahkan,  deklarasi tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan World Clean Up Day (WCUD) yang telah sukses dilaksanakan pada 15 September lalu yang sukses melibatkan 27.699 peserta di 29 titik lokasi di seluruh Bali. 

Darma Suyasa menatakan.  Bali  pada musim hujan dibanjiri sampah plastik. Selain membuat daya tarik wisata Bali menurun, berjuta ton sampah plastik tersebut dapat membahayakan kehidupan laut dan manusia. Sebanyak 80 % sampah plastik di lautan berasal dari daratan. Tempat penampungan sampah terbuka menyebabkan sampah bisa terbawa angin. Sampah dibawa oleh air sungai ke lautan. Padahal rata-rata kantong plastik digunakan hanya 25 menit. Tetapi untuk hancur dan terurai di alam dibutuhkan 500 hingga 1000 tahun. Ini adalah waktu yang sangat lama.Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah.

Menurut Darma Suyasa , gerakan bersama melalui Suksma Bali adalah langkah yang tepat dan nyata untuk Bali. “Oleh sebab itu, Darma Suyasa mengajak masyarakat berkomitmen dan mendukung ‘Declaration To Eliminate Single-Use Plastics  yang akan digelar pada 7 Desember 2018 di Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali.

Ketua Bidang Simposium Suksma Bali, Ketut Swabawa, CHA mengatakan, Simposium Suksma Bali yang bertajuk ‘Bali Host Meets Supporters’ adalah bagian rangkaian acara suksma Bali yang akan diadakan di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali.

“Event ini adalah media bertemunya para stakeholders di Bali dengan para pendukung segala sektor untuk berdiskusi, menyampaikan pandangan serta mendengarkan masukan dan aspirasi untuk menjadi fokus perbaikan Bali kedepan”, ungkap Swabawa.

Sementara itu, Ketua DPP IHGMA, I Made Ramia Adnyana, S.E, M.M, CHA menambahkan, IHGMA DPD Bali sangat mendukung deklarasi yang akan digelar bertepatan dengan Simposium Suksma Bali. “Ini merupakan bentuk sikap nyata kami selaku GM di Bali dalam merefleksikan rasa terima kasih untuk Bali tercinta dan sekaligus menjaga eksistensi Bali yang berbudaya, berkualitas dan berkelanjutan” ungkap Ramia Adnyana.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung yang juga Ketua Badan Promosi  Pariwisata Daerah  (BPPD) Badung, IGN. Rai Suryawijaya, S.E, MBA mengapresiasi semangat panitia Suksma Bali menggulirkan gerakan bersama dalam memerangi sampah plastik. Pria yang kerap disapa Jik Rai ini berharap agar stakeholder lainnya dapat mendukung dan berpartisipasi dalam mewujudkan Bali yang clean and clear. Jik Rai yang juga selaku penasehat Suksma Bali dan Pembina Paiketan Krama Bali menilai positif deklarasi yang akan dilakukan Stakeholder Pariwisata pada Simposium Suksma Bali.

“Ini adalah bentuk komitmen bersama dalam memerangi sampah plastik. Bali harus bisa menjadi role model destinasi yang berkelanjutan, yaitu destinasi yang mengharmonikan antara profit, people dan planet.  Mari selamatkan Bali dari sampah plastik, mulai dari langkah yang kecil, dari diri sendiri dan mulai sekarang” papar Jik Rai.

Seperti telah diprogramkan, melalui program Suksma Bali 2018 ini akan dibagikan 3000 kantong belanja secara bertahap yang menerapkan konsep Reuse ke pasar-pasar traditional di Bali dan merekomendasikan pipet berbahan ecogreen seperti bambu untuk digunakan di seluruh hotel dan restaurant di Bali. Targetnya adalah perilaku masyarakat diharapkan sadar akan bahaya sampah plastik, mengurangi penggunaan plastik yang sekali pakai, dan mengubah perilaku yang mengarah pada program sustainable. Ia mengajak agar masyarakat menggunakan atau memiliki botol minuman yang bisa digunakan berkali-kali, atau menggunakan pipet sendiri berbahan ramah lingkungan yang mereka simpan dan digunakan kembali, jika diperlukan. (team)

Share on Google Plus

About Ngakan Made Giriyasa

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya