PLT Surya Antara Potensi dan Kendala

Dr. I Wayan Jondra
Dr. I Wayan Jondra Merupakan mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum Provinsi Bali, dan juga Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali. Berikut ini tulisan Dr. I Wayan Jondra berkaitan dengan potensi dan kendala Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Surya. 

Sebagai sebuah pembangkit yang green energi Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Surya sangat diharapkan untuk dapat memenuhi kebutuhan energi di Indonesia yang memiliki sinar matahari yang berlimpah. PLT Surya terdiri dari empat komponen utama yaitu : solar cell, charger, baterai, dan inverter. 

Harga PLT Surya masih mahal, empat komponen saat ini dapat dibeli dengan harga kurang lebih Rp. 13.000.000,- untuk menghasilkan energi listrik 1 KWH perhari, dengan umur kurang lebih dua puluh tahun, sedangkan untuk amprah listrik PLN cukup Rp.450.000,-. Hal tersebut merupakan investasi awal yang sangat besar bagi masyarat kebanyakan di Indonesia.

PLT Surya menghasilkan energi listrik dengan mengkonversi radiasi sinar matahari. Sebagai negara tropis yang memiliki sinar matahari berlimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan energi matahari ini dengan baik. Melalui solar cell radiasi matahari dirubah menjadi energi listrik. 

Energi listrik yang dihasilkan oleh solar cell dapat dimanfaatkan langsung atau disimpan ke dalam baterai melalui alat charger. Energi listrik yang tersimpan dalam baterai ini dapat digunakan pada malam hari untuk kebutuhan penerangan maupun untuk peralatan listrik lainnya. 

Agar efisien maka penerangan sebaiknya menggunakan tegangan rendah dengan 12 Volt DC. Sedangkan untuk kepentingan peralatan dengan menggunakan motor listrik seperti kulkas, AC, pompa dan lain sebagainya dapat digunakan inverter. Inverter ini akan merubah tegangan 12 Volt DC menjadi tegangan 220 Volt AC. Perlu disadari bahwa pemanfaatan inverter akan membuang energi listrik karena efisiensinya kurang lebih hanya 70%, sehingga ada 30% energi yang terbuang.

Harga 1 paket PLT Surya seharga 13 juta rupiah masih dikategorikan mahal karena, jika efektifitas penggunaan listrik 6 jam sehari maka daya terpasangnya adalah 333 VA. Jika dibandingkan dengan biaya pasang baru listrik ke PLN hanya sebesar Rp. 421.000 untuk daya 450 VA maka investasi awal PLT Surya sangatlah mahal. Satu biaya pasang baru PLT Surya cukup untuk pembayaran 268 pasang baru listrik PLN.

Empat komponen PLT Surya tersebut berbeda-beda harga dan umurnya, jika kita membeli terpisah-pisah dan merakit sendiri tentu akan lebih efisien. Solar cell dapat berumur sampai 20 tahun dengan harga Rp.1.500.000. Charger dapat digunakan dalam wakut kurang lebih 5 tahun dengan harga Rp 1.000.000. Inverter dapat digunakan dalam wakut kurang lebih 5 tahun dengan harga Rp 1.000.000,-. 

Sedangkan baterai memiliki umur 2 tahun. Untuk PLT surya degan kapasitas 1 KWH perhari minimal membutuhkan baterai sebesar 12 Volt 100 AH dengan harga kurang lebih Rp. 2.000.000,-. sehingga total biaya pengadaan solar cell untuk 20 tahun adalah Rp. 30.000.000,-. dalam 1 bulan menjadi Rp. 125.000. Sedangkan dibandingkan dengan listrik PLN tanpa subsidi seharga Rp. 1.500,-/KWh, maka pembayaran listrik hanya Rp. 45.000,-/KWh per bulan.

Berdasarkan perincian tersebut di atas, maka yang paling menentukan biaya operasional PLT Surya adalah kebutuhan baterai. Baterai mahal dan umurnya pendek. Sehingga ke depan para ahli perlu melakukan penelitian agar diperoleh biaya produksi baterai murah, dan umurnya panjang. Disini dibutuhkan peran pemerintah untuk membiayai penelitian sehingga ditemukan sebuah formula baterai yang murah dan berumur panjang.

Jika benar artikel yang dimuat Tempo.co, yang memuat tentang penelitian baterai moda transportasi listrik ada harapan baru untuk meningkatkan efesiensi PLT Surya. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa : Peneliti ITB memiliki bahan baku baterai non-lithium, namun masih dirahasiakan kata Sigit Puji Santosa, Direktur Centre for Collaboration Research (CCRs) dan National Center for Sustainable Transportation Technology (NCSTT). 

Menurut Sigit, kini ada sekitar dua atau tiga bahan yang tengah dikaji kemudian divalidasi. Sedikit bocorannya, bahan utama untuk alternatif baterai solid state itu banyak terdapat di Indonesia. Baterai masa depan itu untuk mengatasi masalah baterai generasi kedua yang berbasis gel lithium ion.


Share on Google Plus

About REDAKSI BALI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya