Intrusi Air Laut Meluas, Bali Krisis Air Baku Berkualitas



REDAKSIBALI.COM - Politeknik Negeri Bali bekerjasama dengan Yayasan IDEP Selaras Alam mengeluarkan hasil penelitian terkait kondisi air baku di Bali terkini,  hari Jumat (15/2) di Denpasar.

Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dari bulan Pebruari sampai bulan September 2018 di lima Kabupaten di Bali. Dalam kesimpulan yang termuat dalam Laporan Akhir BWP (Bali Water Protection) Project Research terungkap kualitas air di Bali tidak ada yang memenuhi baku mutu sesuai dengan SK Menteri Kesehatan No. 907/MENKES/SKVII/2002. Ketidaksesuaian dengan baku mutu adalah karena kandungan klor dan kesadahannya.

Daerah-daerah dengan kategori tidak layak untuk hasil pengujian klor terdapat di Kabupaten Badung. Tabanan, Jembrana, Buleleng dan Karangasem. Artinya ditempal-tempat tertentu di kelima Kabupaten tersebut telah terjadi intrusi air laut.

Sebelumnya, Laporan KLHS Bali 2010 tidak mencantumkan Kabupatern Tabanan dan Karangasem sebagai daerah yang mengalami intrusi air laut. Ini artinya, hasil penelitian oleh BWP menunjukkan bahwa daerah intrusi telah meluas. Namun Dari hasil penelitian BWP terihat bahwa Kabupaten Gianyar tidak mengalami intrusi sedangkan dalam Laporan KLHS 2010, Kabupaten Gianyar termasuk daerah yang mengalami intrusi

Dalam laporannya, peneliti juga menyimpulkan, walaupun Bali secara umum mengalami surplus air, namun kelebihan air di musim penghujan tidak dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air di musim kemarau. Kelebihan air dimusim penghujan hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pertanian saja dan bukan berupa air baku yang layak untuk dikonsumsi. Sehingga pada kenyataannya, baik di musim penghujan maupun di musim kemarau, Bali mengalami kekurangan pasokan air baku.

Terkait kondisi ini, Peneliti merekomendasikan sesegera mungkin melakukan tindakan yang dianggap perlu untuk menahan laju intrusi air laut agar tidak masuk lebih jauh lagi kedalam wilayah daratan.

Harus segera dilakukan upaya khusus untuk mengembalikan keberadaan air tanah tidak hanya pada daerah yang mengalami intrusi air laut namun juga pada daerah imbuhan dengan cara memasukkan air permukaan secara sengaja ke dalam tanah yang salah satunya melalui pembuatan sumur- sumur imbuhan.

Peneliti juga merekomendasikan agar Pemanfaatan air tanah peru dikelola secara terpusat berbasis Cekungan Air Tanah (CAT), karena CAT berbasis lintas wilayah. Walaupun air tanah merupakan sumber daya alam yang terbarukan namun pata kondisi tertentu dimana laju pengembalian lebih hesar daripada laju pembentukannya, maka air tanah dapat menjad sumbar daya alam yang tidak terbarukan
 GR. 

Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya