Daftar Pasang Baru Indihome

Aktivis Ini Berharap Pancasila Jangan Hanya Jadi Jualan Politik di Pileg dan Pilpres

Yogi
REDAKSIBALI.COM -  Banyak pihak yang merasa optimis bahwa Indonesia bisa melaksanakan kontestasi politik yang berkualitas dalam Pemilu 2019 ini. Namun begitu memasuki masa kampanye dari bulan September 2018 hingga 9 hari sebelum pencoblosan optimisme itu mulai pudar. Pasalnya, peserta Pemilu dianggap jualan kecap saja, bahkan Idologi Negara, yakni Pancasila hanya dijadikan jargon semata. 

“Menjelang Pemilu,  Pancasila sebagai ideologi negara hanya sebagai jualan politik. Partai politik sebagai peserta Pemilu tidak menjelaskan bagaimana mencapai negara yang Pancasilais itu.” kata Yogi, mahasiswa yang aktif di organisasi kemahasiswaan GMNI Denpasar kepada redaksibali.com.

Yogi beralasan bahwa Pancasila sendiri tidak dapat dimaknai tanpa mempelajari apa itu Marhaenisme, sementara menururt Yogi  partai politik beserta calon legislatifnya minim pengetahuan soal Marhaenisme.

“Gagasan Pancasila hanya disampaikan secara abstrak tanpa menjelaskan apa itu Marhaenisme. Itu menunjukkan Pancasila hanya jualan politik di musim Pemilu. Terutama pada level Pilpres, masyarakat akhirnya menjadi fanatik pada figur tanpa melihat realitas hari ini,” sambung Yogi

Menurut Yogi landasan terpenting dalam menentukan pilihan adalah sikap kritis terhadap setiap visi dan misi Calon. Bukan hanya ikut ikutan, apalagi pilihan hanya didasarka popularitas Calon semata.

“Dalam masyarakat Pancasila sikap kritis sangat dibutuhkan. Dalam negara demokrasi sikap fanatik terhadap figur tertentu dapat menghancurkan demokrasi itu sendiri” kata Yogi mempertegas pandangannya

Senada dengan Yogi, Sindu Andre juga berpendapat dalam Pemilu  ini, Pancasila hanya menjadi obat kumur dan lebih parah lagi menjadi jualan menjelang Pileg dan Pilpres.

Sindu Andre yang sewaktu mahasiswa pernah menjadi ketua DPC GMNI Denpasar berharap para calon legislatif dalam visi misi dan platform partainya mengejewantahkan bagaimana strategi mencapai cita-cita kebangsaan yang adil dan makmur.
Sindu Andre


“Di Bali ideologi Pancasila sudah berakar dalam kebudayaan dan keseharian masyarakat Bali, namun hal ini jangan sampai melahirkan dokrin-dokrin atau otoritas yang anti kritik atas nama keajegan dan taksu Bali” kata Sindu Andre

Sindu berharap muatan muatan tersebut harus tetap dikritisi secara logis dan bukan berdasarkan kultus kepartaian apalagi kultus individu.(GR)
Share on Google Plus

About Ngakan Made Giriyasa

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya