Kartun dan Kritik terhadap Fenomena Sosial Politik

Suasana ' Ngopi' Ngobrol Pintar 'Kartun dan Kritik terhadap Fenomena Sosial Politik' di Warung Kubu Kopi, Denpasar, hari Jumat (26/4)
REDAKSIBALI.COM - Perlu membangun perspektif baru dari mahasiswa agar tercipta suasana baru. Karena generasi saat ini lebih peka terhadap gambar daripada artikel. Kartun sangat disenangi anak muda dan kartun juga sering dipakai elit politik untuk menyampaikan gagasan politik mereka.

Hal itu disampaikan Made Bangbang Hadi Yudanta, Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMIP) Fisip Universitas Warmadewa disela acara diskusi yang bertajuk Ngobrol Pintar 'Kartun dan Kritik terhadap Fenomena Sosial Politik' di Warung Kubu Kopi, Denpasar, hari Jumat (26/4).

Bangbang juga berharap diskusi seperti ini bisa mengasah kepekaan mahasiswa terhadap fenomena sosial, politik dan budaya yang terjadi di sekeliling mereka.


Drs.Wayan Sudana, MSi
Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan Fisip Universitas Warmadewa, Drs.Wayan Sudana, MSi menambahkan kegiatan diskusi ini dilakukan untuk menyikapi fenomena sosial terutama perhelatan politik yang telah berlangsung melalui pesta demokrasi tanggal 17 April 2019 lalu.

"Diambilnya tema diskusi membedah fenomena sosial politik melalui kartun, karena kartun merupakan salah satu karya yang dimuat di media. Melalui diskusi seperti ini, mahasiswa khususnya bisa belajar dan membedah lebih dalam apa makna kartun yang dimuat di media cetak, media elektronik, maupun yang beredar di media sosial" ujar Wayan Sudana.



Pakar politik Dr. Nyoman Wiratmaja sebagai narasumber dalam diskusi menyampaikan saat ini politik sudah menunggangi apa saja, baik agama, pemuda, adat dan lain sebagainya. "Artinya karena ditunggangi tentu ada korban" kata Wiratmaja.

Wiratmaja juga menyatakan saat ini politik tidak bisa dipandang dengan cara kita sendiri. Sebagaimana kartun yang bisa dimaknai berbeda-beda, tergantung cara orang menangkap pesannya. Tergantung latar belakang yang melihat. Menurut Wiratmaja, apapun yang dipakai sarana pesan itu, bisa dimaknai berbeda oleh orang yang menerima pesan.

Wiartmaja menekankan kalau berani mengkritisi sesuatu, maka kita juga harus menyiapkan diri untuk dikritisi.

"Itu sesuatu yang sangat kartunal" jawab kartunis kawakan Kadek 'Jango' Paramartha ketika ditanya peserta diskusi terkait apakah kartun itu sarat kepentingan.

Jango mengakui sebagai kartunis seusia dirinya, kini tidak lagi membuat karya yang fulgar sebagaimana saat dirinya masih muda. Kritik disampaikan dengan lebih 'soft'. Jango berharap ketika politik bergejolak, mudah-mudahan kartun bisa membersihkannya.

Diskusi yang dipandu oleh Dosen Fisip Universitas Warmadewa, Bayu Adhinata ini merupakan hasil kerjasama HIMIP Universitas Warmadewa dengan Bogbog
. (GR)
Share on Google Plus

About Ngakan Made Giriyasa

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya