Konservasi Inklusif di Talaud: Sebuah Perjalanan Mengembalikan 'Surga'

Masyarakat di Desa Bitunuris, Kecamatan Salebabu, berpose bersama setelah pelatihan permakultur digelar dalam kerjasama IDEP dengan PPL Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Talaud (Foto: Ade Jullinar Bawole/IDEP)
REDAKSIBALI.COM Di masa lalu, gugusan pulau di wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud pernah disebut porodisa, yang berarti surga. Nama itu, menurut salah satu versi cerita turun-temurun, diucapkan Portugis ketika pertama kali mendarat di sana karena pesona alam dan keanekaragaman hayatinya yang tak mampu disetarakan dengan apapun selain surga. 

Dengan luas area 37,800 km², kabupaten ini memiliki tiga pulau utama, yaitu Karakelang, Salibabu dan Kabaruan. Selain keanekaragaman hayatinya, gugusan pulau ini menjadi rumah bagi berbagai spesies langka. Di area pulau Karakelang, terdapat dua area margasatwa yang berlokasi di bagian Utara dan Selatan. Yang terbesar berada di Karakelang Utara. Sebagian wilayah di utara ini merupakan kawasan Hutan Lindung.

Namun ironisnya, karena kerusakan ekosistem yang begitu sistemik, lambat laun Talaud berubah menjadi pulau beracun yang justru mengancam kelangsungan hidup makhluk hidup di atasnya. Kendati demikian, masyarakat tak punya pilihan selain bertahan hidup di tengah ancaman itu.

Efek Domino Kerusakan Ekosistem

Kerusakan ekosistem di Talaud bermula pada tahun 1970an. Ketika itu, kopra sedang jadi komoditas unggulan yang menghasilkan pendapatan sangat besar bagi masyarakat. Hasilnya bahkan diekspor ke mana-mana. Untuk mempertahankan produktivitas, masyarakat terjebak untuk menggunakan pestisida kimia. Maksud awalnya adalah untuk melindungi tanaman kelapa (penghasil kopra) dari gangguan sexava, sejenis belalang pemakan daun. Karena area perkebunan kelapa di wilayah ini begitu luas, racun kimia tersebut bahkan disemprotkan dari udara melalui pesawat. Kendati penyemprotan telah dihentikan bertahun-tahun kemudian, penggunaan pestisida kimia tetap diteruskan melalui injeksi ke dalam 95% batang pohon kelapa di kepulauan itu.

Sayangnya, pestisida kimia yang dianggap membawa solusi malah berubah menjadi sumber malapetaka. Akibat penggunaannya yang sangat masif itu ternyata begitu kompleks. Secara perlahan, sexava yang tadinya ingin dimusnahkan malah mulai beradaptasi dan bermutasi hingga tak mampu lagi dikendalikan untuk jangka waktu yang panjang. Tubuh sexava tumbuh jauh lebih besar dari sebelumnya. Karena itu, mereka tak lagi menjadi sumber makanan bagi pemangsa alaminya dalam siklus rantai makanan. Sejak itu, jumlah dan sebarannya makin susah dikendalikan.

Tak hanya itu, racun dari pestisida kimia itu juga menyebabkan eksodus berbagai burung, mamalia, amfibi, cacing tanah, lebah madu, dan serangga lain yang penting bagi kesehatan siklus keanekaragaman hayati di pulau itu. Dalam jangka waktu lama, sebaran pestisida kimia itu pun turut meracuni air tanah yang dikonsumsi masyarakat.

Ironisnya, dalam satu dasawarsa tahun terakhir, masyarakat tak lagi ingin mengkonsumsi kelapa yang mereka sendiri tanam. Lama kelamaan, ini kemudian turut berdampak pada turunnya nilai jual kopra, sumber penghasilan terbesar masyarakat dari pulau ini. Meski perlu bukti yang kuat untuk mengurai hubungannya, namun situasi demikian diduga menjadi salah satu penyebab maraknya pembalakan dan perburuan liar yang terpaksa dilakukan masyarakat untuk mendapatkan penghasilan setelah kopra tak bisa lagi diandalkan.

Pembalakan liar terjadi di kawasan suaka margasatwa dan daerah aliran sungai. Akibatnya, selain diterjang banjir, pulau itu juga dilanda kekeringan selama beberapa tahun terakhir. Sawah, sebagai salah satu sumber mata penghidupan, tak lagi memiliki persediaan air yang cukup.

Sementara itu, perburuan liar yang terjadi pada Sampiri juga berlangsung di kawasan suaka margasatwa. Sampiri adalah nama lokal untuk salah satu spesies nuri (eos histrio) langka yang hanya ditemukan di Karakelang. Nuri kecil dan berwarna-warni ini sangat diburu karena harga jual yang ditawarkan para pembeli, kebanyakan dari luar pulau dan bahkan luar negeri, sangat tinggi. Akibatnya, selain karena perburuan liar, hilangnya sumber makanan dan habitat akibat pestisida kimia dan pembalakan liar membuat Sampiri terancam punah.

Konservasi Inklusif: Mulai dari Mata Penghidupan yang Berkelanjutan

Memulihkan ekosistem yang telanjur rusak parah seperti di Talaud bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi jika itu dilakukan tanpa melibatkan masyarakat sebagai subyek dalam prosesnya. Untuk itu, Yayasan IDEP Selaras Alam (IDEP) yang berbasis di Bali mulai menerapkan program Perlindungan Keanekaragaman Hayati dan Penghidupan Berkelanjutan di Talaud dalam kerjasama dengan Komunitas Pencinta Alam Karakelang (KOMPAK). 


Program yang pendanaannya didukung Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) ini dimulai pada Januari 2016 silam. Dari awalnya tiga desa, yaitu Bengel, Rae Selatan dan Ambela, dampak program ini mendapat tanggapan positif dari banyak pihak sehingga kemudian pada 2018 lalu diperluas ke tiga desa lain seperti Ensem, Dapihe dan Dapalan. 

Program ini diawali dengan pelatihan permakultur. Permakultur, secara sederhana, bisa digambarkan sebagai sebuah metode pertanian dan cara hidup yang mengutamakan keberlanjutan manusia dan alam dengan sistem pembagian yang adil di antara keduanya. Lewat pelatihan yang dimaksudkan untuk menyediakan mata penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat ini, sebanyak 240 perwakilan keluarga dari enam desa tadi diajak untuk belajar mengolah Kebun Pekarangan Keluarga (KPK) secara alami tanpa menggunakan bahan kimia dalam seluruh prosesnya. 

Dengan hanya menggunakan bahan alami yang mudah didapatkan dan dengan proses yang mudah diterapkan, masyarakat mulai melakukan rehabilitasi tanah, membuat kompos dan pestisida alami, menjalankan sistem pengendalian hama terpadu, melakukan pembenihan dan juga pembibitan secara mandiri.

Di KPK tersebut, berbagai jenis tanaman, terutama sayuran dan rempah-rempah, ditanam sekaligus (polikultur) dalam satu bedengan. Uniknya, tampilan KPK mereka menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang memanjakan mata. Pasalnya, bedengan dalam kebun pekarangan tersebut dibentuk mengikuti pola alam yang memiliki banyak lekukan. Bahkan, di banyak kebun, bentuk bedengan menyerupai aksara. Warna-warni bunga, sebagai bagian dari sistem polikultur tadi, menambah cantik pemandangan kebun.

Dari kebun pekarangan itu, masyarakat di enam desa tadi mulai mampu menyediakan sayuran sehat untuk konsumsi keluarga. Dengan cara itu, pengeluaran sehari-hari untuk membeli sayuran dan bumbu di pasar berkurang sangat jauh. Di sisi lain, kelebihan dari hasil panen kebun tersebut mereka jual untuk menghasilkan pendapatan bulanan hingga kira-kira Rp500.000 per keluarga.

Untuk menghasilkan nilai tambah pada hasil panen mereka, IDEP menggelar sejumlah pelatihan pengolahan produk pasca-panen. Dari pelatihan tersebut, masyarakat di enam desa tadi mampu menghasilkan beragam produk olahan seperti keripik dan rempeyek sayur, teh herbal dan minyak kelapa murni (VCO). Produk-produk tersebut kemudian telah berhasil dijual dan mendatangkan sumber penghasilan lain bagi keluarga mereka. Selain pasar lokal, permintaan bahkan datang dari pasar di luar pulau.

Sejauh ini, pola permakultur yang digunakan dalam program ini telah memantik sebuah keyakinan baru bagi masyarakat. Dengan meninggalkan praktik pertanian yang sarat bahan kimia, mereka malah mendapat dua keuntungan sekaligus, yakni ekonomi dan kesehatan. Kini, lebih dari 15 hektar lahan pertanian di enam desa tersebut telah menerapkan sistem permakultur tanpa menggunakan bahan kimia.

Masyarakat sebagai Subyek Konservasi

Pada tahap selanjutnya, program ini dilanjutkan dengan upaya penguatan desa, baik untuk memperbaiki maupun melindungi ekosistem di Talaud. Lewat dialog yang melibatkan masyarakat, enam desa tadi kini memiliki Peraturan Desa (Perdes) tentang Lingkungan Hidup, salah satunya terkait perlindungan Sampiri. Dengan adanya Perdes, masyarakat mengemban tanggung jawab yang besar untuk melestarikan lingkungan dan menjaga ekosistemnya sendiri.

Selain itu, masing-masing desa juga memiliki Peta Zona Permakultur yang diletakkan di kantor desa dan di setiap titik masuk ke wilayah suaka margasatwa. Peta ini menjelaskan area mana saja yang digunakan untuk kebutuhan mata penghidupan dan konservasi. Dalam prosesnya, peta ini didesain, dikembangkan dan disepakati oleh masyarakat, pemerintah desa dan diketahui oleh pemerintah kabupaten.

Tak hanya itu, Kelompok Pencinta Alam Desa (KPAD) di enam desa itu juga diperkuat untuk menjadi salah satu garda terdepan dalam upaya pelestarian lingkungan. Selain melalui serangkaian pelatihan permakultur, KPAD yang rata-rata diisi orang muda itu juga didukung untuk menggelar rupa-rupa kegiatan pelestarian lingkungan. Salah satunya adalah penanaman pohon di tiga desa di sekitar suaka margasatwa Karakelang. Penanaman 5.000 pohon jenis buah-buahan ini dilakukan untuk menyediakan kembali habitat sampiri.

Dengan permakultur, masyarakat juga diajak untuk mulai mengendalikan sexava tanpa bahan kimia. Metode penggaraman dipilih sebagai jalan keluar. Lewat cara itu, masyarakat dapat mematikan telur-telur sexava yang jumlahnya mencapai ribuan hanya dengan menggarami area sekitar akar dan pucuk setiap tanaman kelapa. Garam, pada saat yang sama, juga merupakan nutrisi yang dibutuhkan kelapa. 


Hasilnya, laju perkembangan telur sexava berhasil dihentikan dan sexava dewasa memilih menjauh dari kelapa. Kondisi kelapa juga menjadi lebih segar dibandingkan sebelumnya. Dari sisi ekonomi, penggunaan garam yang jauh lebih murah daripada pestisida kimia itu juga sekaligus menekan pengeluaran masyarakat. Meski awalnya ragu, kini metode ini makin banyak diterapkan masyarakat.

Upaya mengembalikan porodisa ke Talaud itu juga diteruskan dengan melibatkan masyarakat dalam pengembangan destinasi ekowisata. Dalam model ekowisata ini, masyarakat diajak untuk melakukan pemetaan potensi wisata, pengemasan paket wisata dan kemudian pemasarannya. Dari Karakelang, pengembangan ekowisata ini pun dimulai. Di pulau itu, para pengunjung akan mendapatkan pengalaman berkemah di kawasan hutan, menyaksikan burung (bird watching) endemik, belajar berkebun secara organik, mengolah dan menikmati makanan lokal yang sehat dari kebun organik masyarakat, menikmati suasana air terjun dan juga berselancar di pantai yang di perairan Talaud yang eksotis.

Kolaborasi Multi-Pihak

Sejak awal, penerapan program ini selalu mengedepankan kolaborasi dengan berbagai pihak. Selain dengan masyarakat dan komunitas lokal, IDEP melalui program ini juga berkolaborasi dengan pemerintah lokal. Kolaborasi ini kemudian disambut Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud melalui Surat Komitmen Dukungan terhadap program ini.

Dua bulan setelahnya, pada peringatan Hari Bumi, pemerintah kabupaten menetapkan enam desa tempat program ini dijalankan sebagai Desa Konservasi. Sejauh ini, model Desa Konservasi demikian merupakan yang pertama diakui di Provinsi Sulawesi Utara. Selanjutnya, desa-desa ini akan menerima dukungan dari pemerintah untuk pengembangan lebih lanjut. Tak hanya itu, pemerintah juga mencanangkan rehabilitasi lahan perkebunan kelapa dengan metode penggaraman sebagai program daerah saat itu. Sampiri yang langka juga sekaligus ditetapkan sebagai maskot daerah pada saat yang sama.

Kolaborasi dengan pemerintah berlanjut ketika IDEP mendapat dukungan untuk menggelar pelatihan permakultur bagi 26 Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Talaud pada Februari 2019 lalu. Dengan memperkuat peran PPL yang strategis dalam pendampingan masyarakat itu, prinsip dan cara bertani yang ramah lingkungan diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Karena itu, di akhir pelatihan, masing-masing PPL diminta untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut yang akan mereka lakukan bersama masyarakat di desa dampingan mereka.

Tak sampai satu bulan berselang, atas permintaan masyarakat, PPL dari Kecamatan Moronge, Salebabu dan Rainis mengundang IDEP untuk memfasilitasi pelatihan permakultur yang disertai dengan praktik penggaraman kelapa di kebun masyarakat. Lokakarya ini diikuti masyarakat 10 desa yang berada di tiga kecamatan ini, yakni Moronge, Moronge Satu, Moronge Dua, Moronge Selatan, Moronge Selatan Satu, Moronge Selatan Dua, Bitunuris, Bitunuris Selatan, Nunu dan Nunu Utara. Yang menggembirakan, kerjasama serupa dengan para PPL dari wilayah kerja lain juga sedang menunggu untuk dilakukan dalam waktu dekat.

Dengan bekal capaian dan dampak program yang telah berlangsung selama tiga tahun lebih ini, perjalanan mengembalikan surga ke Talaud semakin menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Untuk itu, saat ini IDEP tengah mendorong pemerintah Talaud untuk mereplikasi strategi dan pendekatan yang IDEP terapkan di enam desa tadi. Dengan tentu saja melakukan penyesuaian tertentu, strategi dan pendekatan tersebut dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di seluruh wilayah gugusan paradiso itu. (Ed)
Share on Google Plus

About Ngakan Made Giriyasa

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya