Lewat Permakultur, IDEP Dukung Mata Penghidupan Berkelanjutan bagi Masyarakat Tobelo Dalam di Halmahera Timur

Oktovince Higinik dan suaminya di salah satu sisi kebun pekarangan mereka. Keduanya memamerkan produk olahan pasca panen mereka, Oktovince dengan botol VCO sedangkan suaminya dengan bumbu kering dalam kemasan (Foto: Edward Angimoy/IDEP)


REDAKSIBALI.COM - Sejak Juni 2018, Yayasan IDEP Selaras Alam (IDEP) berada di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, untuk mengembangkan program Pertanian dan Perkebunan Berkelanjutan di tiga desa yang mayoritas didiami masyarakat Tobelo Dalam (suku asli Halmahera). Tiga desa tersebut meliputi Tutuling Jaya, Dodaga dan Tomares. Tutuling Jaya dan Dodaga merupakan bagian dari Kecamatan Wasile Timur sedangkan Tomares berada dalam wilayah Kecamatan Wasile Selatan.

Hidup dari Hasil Hutan

Beberapa penelitian menggambarkan bahwa Masyarakat Tobelo Dalam kini terbagi dalam tiga kelompok berdasarkan lokasi tempat tinggal dan pemanfaatan sumber daya alamnya. Kelompok pertama adalah yang tetap memilih berburu (termasuk beberapa burung endemik), meramu dan membuka kebun secara berpindah-pindah di hutan. Kelompok kedua adalah yang memilih menetap di desa. Umumnya, kelompok ini mengelola kebun kelapa yang selanjutnya diolah menjadi kopra untuk dijual. Sedangkan kelompok ketiga adalah yang mengkombinasi keduanya, yakni memiliki rumah di desa namun masih sering berburu, meramu, membuka kebun secara berpindah-pindah serta memiliki pondok di hutan.

Secara umum, masyarakat Tobelo Dalam yang mendiami tiga desa tadi menerapkan cara hidup seperti yang digambarkan dalam kelompok ketiga. Namun demikian, meskipun telah menetap di desa, ketergantungan mereka pada hutan masih terbilang cukup tinggi. Hal ini bisa dipahami sebab mengandalkan hasil hutan telah menjadi cara hidup mereka yang berlangsung turun-temurun. Proses transisi tentu bukanlah hal yang mudah. Sebab lain adalah karena kebanyakan kebun yang mereka olah pun masih berada dalam kawasan hutan. Selain itu, pasar hasil pertanian, seperti beras dan sayuran, kebanyakan menampung hasil panen para transmigran yang banyak mendiami desa-desa di Satuan Pemukiman bentukan pemerintah. Sehingga pilihan yang tersisa adalah mengolah dan menjual apa yang mereka dapat dari hutan.

Cara hidup yang masih bergantung pada hasil hutan ini pun kemudian membuat mereka bermasalah dengan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata (TNAL). Perbedaan persepsi menjadi pemicunya. Menurut mereka, wilayah hutan yang mereka garap merupakan warisan dari para pendahulunya sejak turun-temurun. Namun di sisi TNAL, berdasarkan Peta Zonasi yang dikeluarkan TNAL, sejumlah wilayah ketiga tersebut berada dalam Zona Penyangga TNAL. 


Tutuling Jaya dan Dodaga berada di kawasan Lolobata sedangkan Tomares di kawasan Aketajawe. Sehingga, ketika lahan yang digarap dianggap masuk dalam kawasan hutan lindung, masyarakat kerap kali harus berhadap-hadapan dengan para petugas penjaga hutan di kawasan TNAL.

Permakultur: Untuk Mata Penghidupan Alternatif yang Berkelanjutan

Belum adanya mata penghidupan alternatif, selain hanya bertumpu pada hasil hutan, adalah salah satu soal yang dalam jangka waktu panjang dapat mengancam keberlanjutan masyarakat, khususnya Tobelo Dalam. Karena itu, dengan pendekatan permakultur, IDEP memulai program ini dengan mengajak masyarakat tiga desa tadi untuk mulai mengelola Kebun Pekarangan Keluarga (KPK) di sekitar rumah mereka.

Permakultur, secara prinsip, bisa digambarkan sebagai sebuah metode pertanian dan juga cara hidup alami yang mengutamakan keberlanjutan, baik manusia maupun alam. Permakultur bukanlah hal baru sebab ia merupakan kumpulan pengetahuan tentang cara hidup ramah lingkungan yang sesungguhnya telah dipraktikan sejak lama oleh berbagai komunitas masyarakat lokal di seluruh dunia. Namun pertanian konvensional, yang mengandalkan bahan kimia perusak lingkungan demi produktivitas hasil panen, telah menjauhkan warisan pengetahuan itu dari generasi masyarakat saat ini.

Di masing-masing KPK mereka, masyarakat tiga desa tadi mulai mempraktikan sejumlah tahapan dalam permakultur, seperti rehabilitasi tanah, pembuatan kompos dan pestisida alami, penerapan sistem pengendalian hama terpadu dan pembibitan untuk sejumlah tanaman. Semua bahan yang dipakai diupayakan menggunakan apa yang ada di sekitar desa tempat mereka tinggal. Misalnya, untuk kompos cair, bahannya adalah irisan batang pisang, air cucian beras (atau diganti singkong) dan gula (atau diganti tebu).

Yang ditanam di kebun tersebut kebanyakan berupa sayuran dan rempah-rempah (rampah dalam bahasa lokal) yang mereka butuhkan untuk keperluan makan sehari-hari. Oktovince Higinik, kerap disapa Momo oleh tetangganya, adalah salah satu ibu asal Dusun Beringin Jaya, Tutuling Jaya, yang tertarik mengelola KPK. Ia menyebut KPK sebagai 'kebun kecil'. “Setelah pelatihan, kami mulai bikin kebun kecil ini. Kami tanam terong, rica halus (cabe kecil), bawang daun, kunyit, kencur, jahe, lengkuas, kemangi, tomat dan serai,” kenang Momo.

Kendati sempat ragu di awal, kini mereka telah beberapa kali memanen hasil dari kebun pekarangan itu. Dari hasil panen tersebut, mereka kini punya pangan sehat yang siap dipanen setiap hari. “Kalau yang kebun kecil ini hampir tiap hari kami panen terong dan rica,” kisah Momo dengan tawa yang pecah.

Itu sekaligus mengurangi biaya yang biasanya dikeluarkan untuk membeli sayuran dan bumbu. “Terasa berbeda untuk anggaran biaya hidup. Sudah berkurang. Kalau yang dulu agak besar dalam sebulan. Tapi sekarang, sudah lebih ringan. Karena saya tidak perlu lagi beli bawang dan rica,” terangnya. “Sekali beli rampah Rp5.000, bayar ojek Rp10.000,” tambahnya tentang biaya yang dulunya mesti mereka keluarkan setiap kali ingin membeli kebutuhan dapur.

Selain kebun kecil, masyarakat pada umumnya juga memiliki “kebun besar” yang letaknya menjorok ke dalam hutan. Luasnya bahkan mencapai satu hektar lebih. Kelapa dan jagung adalah jenis yang umumnya ditanam. Setelah berhasil dengan kebun kecil, mereka juga ingin mengembangkan permakultur di kebun besar. Seperti yang diungkapkan Momo, kebun kecil mereka peruntukkan bagi pemenuhan kebutuhan sehari-hari, sedangkan hasil dari kebun besar nantinya bisa dijual untuk menunjang kebutuhan keluarga, seperti biaya sekolah, kesehatan dan kebutuhan-kebutuhan mendesak lainnya.

Tidak hanya pengelolaan kebun pekarangan, masyarakat juga dibekali dengan pelatihan pelatihan pengolahan produk dari hasil panen kebun mereka. Selain pelatihan, mereka juga dibekali dengan sejumlah peralatan pendukung. Selepas pelatihan yang digelar pada akhir tahun 2018 itu, kini mereka bahkan telah memperoleh penghasilan tambahan dari produk-produk olahan pasca panen yang telah mereka hasilkan. Misalnya, bumbu kering dalam kemasan, keripik dari sayuran dan minyak kelapa murni (VCO).

Sejauh ini, pemasaran produk olahan tersebut terbatas pada tetangga, baik di desa mereka maupun di desa sekitar. Momo bahkan punya cerita menarik tentang bagaimana produk olahan yang dihasilkannya telah menyelamatkan keluarganya. Dengan harga jual Rp20.000 per botol, ia telah menghasilkan Rp500.000 dari hasil penjualan 25 botol hanya dalam kurun waktu dua bulan.

“Anak saya kan sekolah. Beruntungnya, waktu kami belum punya cukup uang bulan Januari lalu, saya sudah buat ini VCO. Dan hasil dari jual itu bisa dapat uang untuk bayar SPP anak selama dua bulan. Anak saya masih SMA, Kelas 1,” tuturnya mengenang situasi saat itu.

“Bapak ini,” ujar Momo sambil menunjuk suaminya, “puji Tuhan masih bisa tertolong. Kalau bukan karena VCO ini, dia sudah tidak bisa jalan lagi, lumpuh,” tambahnya. Setelah rutin meminum dan mengoles VCO pada kakinya yang lumpuh selama tiga bulan, suami Momo kini bahkan telah kembali memanjat kelapa.

Agar pengolahan produk pangan pasca panen yang telah mereka lakukan dapat terjamin, IDEP kemudian bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Halmahera Timur dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Maluku Utara untuk menyelenggarakan Penyuluhan Keamanan Pangan Industri Rumah Tangga. Penyuluhan yang digelar pada 16 Februari 2019 lalu itu dimaksudkan untuk membekali mereka dengan pengetahuan seputar pengolahan pangan. Kegiatan yang berlangsung di kantor Desa Akedaga, Halmahera Timur, itu dihadiri 52 orang penerima manfaat program dari empat desa tadi.

Saat ini, agar produk-produk olahan yang telah dihasilkan dapat terjamin ketika hendak dipasarkan lebih luas, IDEP dalam kerja sama dengan mereka sedang mengupayakan pengurusan Izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) bagi produk-produk mereka.

Langkah Selanjutnya

Program di tiga desa ini hampir mirip situasinya dengan apa yang IDEP kembangkan di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Sebelumnya, masyarakat Talaud juga mengalami kendala terkait tersedianya mata penghidupan yang berkelanjutan. Dampaknya sungguh kompleks hingga kemudian masyarakat tak punya pilihan selain melakukan penebangan dan perburuan liar atas spesies endemik, seperti Sampiri (Nuri Talaud), yang hanya ada di Suaka Margasatwa Talaud.

Namun kini, dengan pendekatan permakultur selama hampir empat tahun, masyarakat Talaud mampu hidup dari pengelolaan kebun pekarangan dan pengolahan produk pasca panen. Selain itu, mereka juga kini tengah mengembangkan destinasi ekowisata dan desa konservasi. Masyarakat kini malah berpartisipasi sangat aktif dalam upaya pelestarian lingkungan melalui Komunitas Pencinta Alam Desa (KPAD).

Belajar dari pengalaman itu, ke depannya IDEP akan bekerjasama dengan masyarakat agar produk-produk olahan pasca panen mereka layak mendapatkan izin PIRT. Setelah itu, dengan label dan kemasan yang menarik, IDEP juga akan mendukung mereka untuk memperluas pasar produk-produk tersebut. Tentu saja sebelum ini dilakukan, masyarakat akan terlebih dahulu didampingi dalam segala hal terkait perencanaan bisnis skala rumah tangga.

IDEP juga akan bekerjasama dengan masyarakat dan pemerintah untuk mengembangkan Peta Zona Permakultur. Ini adalah peta yang menjelaskan area mana saja yang digunakan untuk kebutuhan mata penghidupan dan konservasi. Dalam prosesnya kemudian, peta ini akan didesain, dikembangkan dan disepakati oleh masyarakat, pemerintah desa dan diketahui oleh pemerintah kabupaten. Belajar dari proses di Talaud, masyarakat akan dilibatkan sejak awal proses.

Tidak hanya itu, IDEP juga akan bekerjasama dengan masyarakat untuk mengembangkan desa agroforestri dan konservasi. Dalam rangka itu, selain melalui pelatihan argoforestri, IDEP bersama masyarakat akan terlibat bersama-sama dalam kegiatan penanaman dan pengelolaan pohon produktif, pengembangan pembibitan di setiap desa, penanaman pohon untuk konservasi dan penerapan agroforestri (hutan pangan berkelanjutan atau perhutanan sosial).

Dengan program yang didukung Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) ini, masyarakat diharapkan memiliki sumber mata penghidupan yang berkelanjutan bagi keluarga mereka tanpa bergantung lagi pada hutan semata-mata. Pada saat yang sama, masyarakat juga diharapkan dapat terlibat secara aktif dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang mendiami wilayah Halmahera Timur.(Su)
Share on Google Plus

About Ngakan Made Giriyasa

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya