Daftar Pasang Baru Indihome

Pasca Gempa 5.8 SR, BPBD Lakukan Trauma Healing untuk Siswa dan Guru di Badung

REDAKSIBALI.COM - Sehari setelah gempa 5.8 SR yang mengguncang Bali hari Selasa 16 Juli lalu, Kalaksa BPBD Bali Made Rentin meminta kepada Tim BPBD Provinsi Bali dan Kabupaten Badung untuk melakukan assessment dan koordinasi dengan pihak sekolah untuk pelaksanaan trauma healing pemulihan pasca bencana.  

“Baru saja saya mendapat laporan dari Tim BPBD yang ada di lapangan bahwa sedang berlangsung kegiatan trauma healing,” papar Made Rentin. kepada redaksibali.com hari Sabtu (20/7). Made Rentin juga menambahkan lima hari pasca gempa baru dapat dilaksanakan kegiatan ini, mengingat beberapa hari ini sekolah dan anak-anak diliburkan, karena siswa siswi mengalami ketakutan dan trauma saat gempa tiba-tiba mengguncang.

Beberapa orang narasumber dihadirkan pada acara ini, diantaranya I Wayan Netra Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Badung, Mustikawati (Kabid PUG dan Keluarga) pada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Badung, Tim P2TP2A, Tim PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga) Kabupaten Badung, dan dari unsur PUSPA (Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) Kabupaten Badung.

Kegiatan trauma healing yang berlokasi di SDN 1 Ungasan tersebut dihadiri  230 orang siswa dan  24 orang guru. Kepala Sekolah SDN 1 Ungasan, Ni Made Asri menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada pihak BPBD dan Tim yang telah melakukan kegiatan ini. “Kegiatan ini sangat membantu siswa kami dan termasuk kami para guru, menghilangkan trauma akibat gempa, dan saya berharap BPBD dapat memberikan sosialisasi dan simulasi terkait bencana gempa bumi secara berkelanjutan, agar siswa memiliki pengetahuan tentang cara evakuasi bila terjadi bencana,” kata Made Asri berharap.

Menanggapi hal tersebut, Kalaksa BPBD Bali menyampaikan apresiasi kepada Tim Gabungan BPBD Kabupaten Badung, yang telah bergerak cepat dan tepat hadir di tengah masyarakat melakukan pendampingan sebagai upaya pemulihan psikis pasca gempa. 

Seminggu sebelum gempa terjadi, BPBD Provinsi Bali mengeluarkan himbauan 'pendidikan tangguh bencana' yang secara khusus ditujukan kepada lembaga pendidikan baik perguruan tinggi maupun sekolah (TK, SD, SMP, SMA/SMK). Himbauan ini dikeluarkan karena momentum mahasiswa/ siswa baru yang melaksanakan MPLS/ MOS, sehingga didalam pembekalan agar diisi dengan materi penanggulangan bencana.

Saat tahun ajaran baru dianggap momentum yang tepat untuk memberikan pengetahuan kesiap-siagaan baik kepada mahasiswa baru di kampus maupun bagi siswa-siswi peserta didik baru di sekolah. 
“Kami minta dilakukan dua hal yaitu sosialisasi dan simulasi,” tegas Made Rentin.

BPBD juga bekerja sama dengan pihak universitas yang mahasiswanya sedang melakukan KKN di hampir seluruh desa yang ada di Bali. “Saat pembekalan Mahasiswa KKN Unud, saya mengisi materi dan kami sepakat bahwa agenda KKN ditambahkan materi sosialisasi penanggulangan bencana dan lanjut simulasi evakuasi bencana, dengan sasaran masyarakat desa di lokasi KKN,” lanjut  Rentin. 

BPBD Provinsi Bali bersama BPBD Kabupaten/ Kota se-Bali, dua minggu terakhir ini banyak mendapat permintaan  dari sekolah yang sedang melakukan MPLS, untuk mengisi materi kesiapsiagaan kemudian dilatih untuk simulasi evakuasi bencana. (GR, RTN)
Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya