Daftar Pasang Baru Indihome

Denpasar Documentary Film Festival ke 10, Apa yang Beda?


REDAKSIBALI.COM - Denpasar Documentary Film Festival (Dedoff) merupakan festival film dokumenter tahunan yang diselenggarakan oleh Yayasan Bali Gumanti. Sebuah yayasan yang dipimpin oleh Agung Bawantara, seorang tokoh kreatif Denpasar, penulis dongeng, esai, prosa, dan puisi yang membidani lahirnya Denpasar Film Festival yang kini bermetamorfosis mejadi Dedoff.

Agung Bawantara menyampaikan Dedoff memiliki program kompetisi, non-kompetisi, dan non pemutaran film. Sebagai bagian dari program festival, Dedoff menyelenggarakan kompetisi film dokumenter pendek dengan kategori Pelajar serta Umum.

Lebih lanjut Agung Bawantara menjelaskan, kategori pelajar ditujukan kepada siswa Sekolah Menengah Atas dan sederajat yang masih aktif. Kategori umum ditujukan kepada semua Warga Negara Indonesia tanpa batasan umur maksimal. Untuk tahun 2019 ini, pendaftaran Dedoff dibuka tanggal 30 Juli hingga 30 Agustus 2019. Pendaftaran hanya tersedia untuk formulir online.

Terkait persyratan, “Durasi film maksimal 15 menit termasuk credit title. Tidak ada batasan tema. Diproduksi Januari 2018 dan setelahnya. Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) karya, dengan mengisi formulir secara terpisah untuk tiap film yang didaftarkan. Format file yang kami terima adalah Blu ray, HD, atau DVD. Dedoff akan menghubungi pendaftar setelah tahap seleksi selesai dilakukan. Pihak Dedoff mungkin akan meminta format film yang dianggap lebih baik untuk kebutuhan program pemutaran” papar Agung Bawantara

Dalam keterangannya Agung Bawantara menambahkan, semua hak cipta, hak moral, dan hak pribadi untuk semua konten, termasuk musik, aktor dan sebagainya, dijamin oleh pemilik film. Bila dikemudian hari diketahui terjadi pelanggaran atas hak-hak tersebut, dapat mengakibatkan penghapusan film dari pertimbangan kompetisi.

“Semua orang berkesempatan untuk merekam dan menceritakan ulang berbagai macam fenomena di kesehariannya. Dari urusan politik yang bikin kening berkerut, hingga galaksi mana yang teleskop Hubble temukan. Dari persoalan kemanusiaan, hingga perkara unboxing handphone terbaru oleh Youtuber ternama. Semua boleh bicara,” kata Direktur Dedoff 2019, Maria Ekaristi yang mendampingi Agung Bawantara saat jumpa pers di Kebun Kalpataru, Jalan Sedap Malam Denpasa, hari Selasa (6/8)

Menurut Maria Ekaristi menginjak edisi ke-10 ini, Dedoff yang dulu dikenal dengan nama Denpasar Film Festival mencoba untuk mengatur ulang formulasi festival. Bukan sekedar perubahan nama menjadi Denpasar Documentary Film Festival (Dedoff) yang pilihan genre-nya dokumenter, melainkan juga cara pandang atas film dokumenter, baik di Indonesia maupun dunia.

“Nah, Dedoff ingin menangkap narasi-narasi kecil keseharian manusia. Bahkan hingga ke hal yang dianggap remeh temeh,” ujarnya.

Menurut perempuan energik yang kerap disapa Eka itu, pada penyelenggaraan yang ke10, Dedoff memberi kesempatan seluas-luasnya kepada para pegiat bicara film dokumenter untuk membicarakan apa saja melalui filmnya. Semisal soal anak muda di pelosok yang ingin menceritakan bahwa kambingnya tidak mau makan rumput. Atau membicarakan tentang apa jadinya bila hal yang tidak penting dianggap penting.

“Intinya, semua boleh bercerita,” tegas Eka.

Maria menambahkan bahwa di tahun ke-10 festival film yang dibidaninya itu seolah kembali ke titik nol untuk melangkah lebih lebar dan maju khususnya berkait pengelolaan festival. Dedoff mulai tahun ini mulai membangun kerangka pasar film dokumenter di Indonesia; dari produk fim hingga sumber daya manusianya.

“Kami memulai kembali proses dari awal, menata perlahan pondasi festival kami agar lebih kuat. Menjadi sederhana tapi fundamental, utamanya bagi masyarakat penontonnya. Mungkin tidak terlihat canggih, namun bila itu yang dibutuhkan untuk menyentuh empati, apa perlunya menjadi jumawa?” tandas Eka sembari memaparkan bahwa pada penyelenggaraan kali ini Dinas Kebudayaan Kota Denpasar tetap menjadi leading sector-nya.

IGK Trisna Permana, Manajer Festival Dedoff 2019 menambahkan, program penting selain Pasar Film Dokumenter adalah kompetisi film dokumenter yang didedikasikan untuk pembuat film dokumenter Indonesia dengan kategori pendek, tidak terbatas pada isu tertentu. Kompetisi dibagi dua kategori: Pelajar SMA/sederajat dan Umum.

Selain itu, imbuh Trisna, ada juga Program Non Kompetisi yakni pemutaran film-film dokumenter pilihan yang pilih secara khusus oleh programmer. Filmnya adalah film dokumenter pilihan dari Indonesia dan mancanegara. Di sela itu ada Program Diskusi dan Workshop yang akan fokus pada soal-soal pengembangan bisnis dan pembiayaan film dokumenter di Indonesia.

“Isu utamanya adalah bagaimana melihat film dokumenter sebagai produk potensial bisnis konten, membangun ekosistem industri, serta bentuk pendidikan dokumenter yang berkelanjutan,” tegas Trisna.

Di bagian lain Trisna menjelaskan Dedoff 2019 dikuratori oleh tokoh-tokoh muda yang mumpuni yakni Daniel Rudi (Jakarta), Dwitra J Ariana (Bangli), Putu Kusuma Wijaya (Buleleng), dan John Badalu (Jakarta). Adapun Juri Kategori Pelajar SMA terdiri dari Ayu Diah Cempaka (Kritikus Film), Warih Wisatsana (Penyair, Penggerak Aktivitas Kreatif), Puja Astawa (Youtuber).

Juri kategori umum terdiri dari Rio Helmi (Fotografer Senior), Putu Fajar Arcana (Wartawan Senior), dan Agung Sentausa (Badan Perfilman Indonesia). 


Dijelaskan pula venue utama Dedoff 2019 nanti bertempat di Taman Kumbasari Tukad Badung dan Rumah Sanur. (GR)

Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya