Daftar Pasang Baru Indihome

Meski Angka Stunting Rendah, Denpasar Terus Upayakan Pencegahan


Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Kader Pembangunan Manusia (KPM) yang dielenggarakan Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Denpasar Selatan, hari Sabtu (24/8)  di kantor Camat Denpasar Selatan


REDAKSIBALI.COM - Angka stunting di Kota Denpasar relatif rendah, hal ini bisa jadi karena Pemerintah Kota Denpasar secara serius mengupayakan pencegahannya.

Pemerintah Kota Denpasar melalui Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) di empat kecamatan di Denpasar telah merampungkan tugas mereka memberi pembekalan kepada Kader Pembangunan Manusia dan unsur perangkat desa yang diwakili Kasi Kesra terkait penangan stunting ini.

Setelah TPID Kecamatan Denpasar Barat dan Denpasar Utara mengadakan pelatihan minggu lalu, kemarin TPID Kecamatan Denpasar Timur dan hari ini (24/8) TPID Kecamatan Denpasar Selatan mengadakan pelatihan sejenis bertempat di Kantor Camat Denpasar Selatan.

Ni Nyoman Ayu Indah (pegang mikropon) saat menjadi narasumber pada Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Kader Pembangunan Manusia (KPM) yang dielenggarakan Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Denpasar Timur di kantor Camat Denpasar Timur
"Seluruh Desa yang ada di Denpasar telah memperoleh Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Kader Pembangunan Manusia (KPM)" kata Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa Kota Denpasar, Ni Nyoman Ayu Indah. 

Ayu Indah menambahkan, pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan Pemerintahan Desa dan Kader Desa agar dapat memfasilitasi kegiatan konvergensi pencegahan stunting di Desa. Selain itu Pelatihan juga bertujuan agar Kegiatan Program Inovasi Desa di seluruh kecamatan yang ada di Denpasar dapat terlaksana dengan hasil yang baik

Ayu Indah juga menjelaskan Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak pada anak yang disebabkan karena kekurangan asupan gizi dalam waktu lama, infeksi berulang, dan kurangnya stimulus psikososial. Stunting ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya. Anak stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal. Stunting juga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan berisiko menurunkan produktivitas.

Dijelaskan pula, penanganan stunting dilakukan melalui intervensi Gizi Spesifik dan Gizi Sensitif pada sasaran 1000 hari pertama kehidupan dari anak sejak di kandungan sampai berusia 23 bulan.

Sasaran 1000 hari pertama kehidupan meliputi rumah tangga yang memiliki: (1). Ibu hamil dan Ibu menyusui; (2). Anak usia 0 – 23 Bulan (Baduta).

Penanganan stunting melalui konvergensi intervensi pada setiap ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, dan anak usia 0-23 bulan mendapatkan akses layanan atau intervensi yang diperlukan untuk penanganan stunting secara terintegrasi termasuk dalam aspek perubahan perilaku.

Menambahkan apa yang disampaikan Ayu Indah, Budi Wirayadnya (Tenaga Ahli Pemberdayaan Mayarakat Desa) menjelaskan Kegiatan konvergensi mendapatkan porsi anggaran sebagaimana diatur dalam Permendesa No. 16 Tahun 2018 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa.

"Ada 5 paket layanan konvergensi stunting yakni Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Konseling gizi terpadu, perlindungan sosial, air bersih dan sanitasi dan PAUD.  Secara detail, Kader Pembangunan Manusia (KPM) akan memantau 19 indikator dengan mempergunakan kartu skor desa" kata Budi Wirayadnya


Tim Inovasi Kota (TIK) Denpasar yang dipimpin Sekretaris TIK Denpasar Ni Nyoman Sukartini, SH memonitor langsung setiap kegiatan pelatihan yang diselenggarkan TPID di masing-masing kecamatan di Denpasar. Hal ini dilakukan untuk memastikan kegiatan pelatihan berjalan sesuai dengan aturan dan standar yang telah ditetapkan. (GR)
Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya