Daftar Pasang Baru Indihome

Catatan Juri Denpasar Documentary Film Festival 2019



REDAKSIBALI.COM -Beberapa catatan dari Dewan Juri dalam mengiringi perhelatan Denpasar Documentary Film Festival 2019 untuk kategori umum pada Denpasar Documentary Film Festival 2019 diantaranya memberi catatan satu elemen penting yang mesti dikerjakan secara serius oleh para pekerja film documenter adalah riset. Unsur-unsur teoritik dan artistik yang menyertainya lebih menyangkut persoalan keterampilan. Asumsinya, dengan basis riset yang kuat, meski dengan penguasaan teori dan artistik yang tidak sangat mumpuni, sebuah film dokumenter punya kesempatan luas menjadi karya yang baik.

Juri untuk kategori umum yang terdiri dari Rio Helmi (Fatografer Senior, Bali), Putu Fajar Arcana (Redaktur Kompas, Jakarta), dan Agung Sentausa (Badan Perfilman Indonesia, Jakarta) juga memberi catatan "Tentu kedalaman dan kekuatan riset hanya satu elemen saja dari beberapa kriteria para juri untuk menentukan film dokumenter terbaik pada Denpasar Documentary Film Festival 2019. Elemen lainnya, antara lain capaian gaya dan bentuk, orisinalitas gagasan, dan sikap yang ditunjukkan melalui film tersebut"

Film-film yang dinilai unggul pada Denpasar Documentary Film Festival 2019 ini adalah film-film yang memenuhi unsur-unsur sinematografi sebagai sebuah film dokumenter serta berhasil menyuarakan suara subyeknya dengan cara yang tidak klise dan bertendensi heroik. Film yang mampu membahasakan secara visual perjuangan para subyeknya dengan cara-cara yang mengusung tinggi etika publik.

Selain itu Dewan Juri kategori umum juga memberi perhatian khusus terhadap film-film yang dianggap mampu memberi tempat kepada persoalan personal yang jarang digarap oleh para pekerja film pada umumnya. Film tersebut mempertemukan persoalan personal dengan konteks di ruang publik yang sontak menunjukkan adanya keterlibatan kepentingan publik yang lebih luas pada persoalan tersebut.

Dewan juri sekaligus mencatat adanya kelalaian teknis yang menyebabkan film sesungguhnya baik menjadi mendapat hambatan berupa ketidaktuntasan pengisahan.

Secara umum, Dewan Juri mencatat adanya kemajuan yang cukup signifikan pada peserta festival tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Para peserta yang tahun sebelum turut berpartisipasi sebagai peserta, tahun ini menyuguhkan film-film yang lebih kuat secara artistik dan lebih dalam secara riset.

Sementara Dewan Juri untuk kategori pelajar yang terdiri dari Warih Wsatasana (Budayawan, Denpasar), Ayu Diah Cempaka (Pegiat Kajian Cinema, Denpasar), dan Puja Astawa (Vlogger, Jimbaran) memberi catatan "Film-film dalam kategori ini menyajikan tema dan perspektif yang beragam. Mulai dari multikulturalisme, sejarah, kebudayaan, hingga problem sosial ekonomi masyarakat. Para pelajar pembuat film sudah cukup peka dalam menangkap isu-isu di sekitar mereka untuk disajikan dalam medium film dokumenter. Beberapa masih terjebak pada cari tutur konvensional dan glorifikasi kebudayaan. Beberapa sudah berusaha menyampaikan kritik yang terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari"

Hal lain yang dicatat Dewan Juri kategori pelajar diantaranya isu yang menarik tidak akan pernah habis dan bisa datang dari mana saja. Sehingga dalam kategori ini, sudut pandang pelajar dalam mengemas isu atau tema menjadi pertimbangan utama juri. Perspektif pelajar yang dimaksud di sini adalah bagaimana para pelajar berupaya membahasakan problem di sekitar mereka dengan cara tutur mereka sendiri tanpa terjebak dalam konvensi-konvensi dokumenter yang sudah umum dikenal. Harapannya, muncul cara tutur baru yang lebih segar dari anak-anak muda.

Untuk Film Karya Pelajar Binaan dalam Kemah Pelatihan Film Dokumenter yang diselenggarakan oleh Denpasar Documentary Film Festival, Dewan Juri mencatat bahwa para peserta masih terjebak pada penokohan atau heroisme sosok yang diperlakukan sebagai pemberi solusi dari suatu permasalahan. Untuk memilih juara, film-film yang dipilih tim juri adalah yang paling memiliki kekhasan dalam menampilkan tokoh dan mengaitkannya dengan kepentingan kolektif, juga adanya upaya dalam memilih subjek yang nampak biasa saja, namun keseharianya mengemban cita-cita yang terpuji atau bahkan mengusung nilai-nilai kritis.(AB,GR)


Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya