Daftar Pasang Baru Indihome

'Toya Bungkah Literary Festival' Memaknai Kembali Kaldera Batur dan Toya Bungkah

Pantia 'Toya Bungkah Literary Festival' saat menggelar jumpa pers hari Kamis (19/9) di Kubu Kopi, Denpasar. Dari kanan ke kiri : Wayan Jengki Sunarta, Wiwin Suyasa, Tan Lioe Ie dan Vincent Tholomé penyair dan penulis dari Belgia
REDAKSIBALI.COM - Badan Pengelola Pariwisata Batur Unesco Global Geopark (BPPBUGG) dan Bali Media Expo-Easy Event, bekerja sama dengan Komite Toya Bungkah Literary Festival, Wonderful Indonesia dan Dedari Foundation menggagas 'Toya Bungkah Literary Festival'. 

Festival yang akan digelar pada tanggal 21 – 22 September 2019 ini sebagai upaya memaknai kembali keberadaan kawasan Kaldera Batur, termasuk Toya Bungkah di dalamnya. Salah satu upaya tersebut adalah menghidupkan kembali kegiatan kesusastraan seperti yang pernah dilakukan 
Sutan Takdir Alisjahbana (STA) pada era 1970-an di Toya Bungkah.

Hal itu disampaikan Wiwin Suyasa Ketua Panitia Toya Bungkah Literary Festival saat menggelar jumpa pers hari Kamis (19/9) di Kubu Kopi, Denpasar.

Wiwin menjelaskan panitia festival secara khusus mengundang dua penyair luar negeri untuk berpartisipasi dalam festival ini, yakni Frank Keizer (Belanda) dan Vincent Tholomé (Belgia).


Selain dua penyair luar negeri, panitia juga secara khusus mengundang penyair dalam negeri, yakni Sindu Putra (Mataram, NTB) dan Sunlie Thomas Alexander (Yogyakarta).

Penyair dari Bali yang diundang mengikuti festival ini adalah Warih Wisatsana, Wayan Jengki Sunarta, dan Tan Lioe Ie. Selain tampil membacakan puisi, mereka juga akan memberikan workshop penulisan puisi dan musikalisasi puisi kepada para siswa yang hadir dalam festival.



Penyair Wayan Jengki Sunarta yang juga menjadi panitia festival ini menjelaskan agenda festival ini diantaranya pembacaan puisi, workshop penulisan puisi, workshop musikalisasi puisi, diskusi puisi, pertunjukan seni, dan peluncuran buku puisi 'Tutur Batur' yang dikurasi oleh Dewa Putu Sahadewa, Gde Artawan, dan Wayan Jengki Sunarta. Penyair legendaris Umbu Landu Paranggi yang memberikan pengantar untuk buku tersebut juga menyatakan kesediaannya menghadiri festival ini.

Sementara Tan Lioe Ie  menyampaikan festival ini dirancang berskala nasional dan internasional dengan harapan Toya Bungkah kembali menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, berkarya, dan pementasan bagi para sastrawan dan pecinta sastra dari lintas generasi, lintas daerah dan negara.

Menurut Tan Lioe Ie festival ini juga diharapkan mampu menumbuhkan generasi muda yang memiliki kecintaan kepada sastra dan dunia literas
i.(GR)

Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya