Pilwali Denpasar Dibayangi Lawan Kotak Kosong, Publik Soroti Nyali Parpol

Pengamat politik yang juga Akademis Universitas Warmadewa, Drs Nyoman Wiratmaja, MSi (kiri) dan Ketua KPU Denpasar Wayan Arsa Jaya saat menjadi narasumber diskusi publik yang mengambil topik 'Bayang-bayang Kotak Kosong dalam Pilkada Denpasar : Krisis Figur atau Pragmatisme Politik' di Kubu Kopi, hari Kamis (27/2).
REDAKSIBALI.COM Pengamat politik yang juga Akademisi Universitas Warmadewa, Drs Nyoman Wiratmaja, MSi menyatakan kemungkinan terburuk munculnya Calon Tunggal dalam Pemilihan Walikota (Pilwali) Denpasar, sehingga hal ini berdampak pemenang tidak akan bangga, dan kalau kalah akan sangat memalukan. 

Nyoman Wiratmaja menilai baik partai dominan maupun koalisi partai, sama-sama harus memanfaatkan momentum Pilwali sebagai pertaruhan, sejauh mana partai berfungsi sebagai saluran agregasi dan aspirasi rakyat, dan sejauh mana Parpol menjalankan fungsi rekrutmen politik. Pernyataan itu disampaikan Nyoman Wiratmaja saat menjadi narasumber dalam sebuah diskusi publik yang diselenggarakan Forum Diskusi Peduli Bali di Kubu Kopi, hari Kamis (27/2).

Diskusi yang mengambil topik 'Bayang-bayang Kotak Kosong dalam Pilkada Denpasar : Krisis Figur atau Pragmatisme Politik' ini juga menghadirkan Ketua KPU Denpasar Wayan Arsa Jaya sebagai narasumber. Dalam paparannya Arsa Jaya menjelaskan kalau nanti dalam Pilwali Kota Denpasar hanya ada calon tunggal maka calon tunggal akan berhadapan dengan kotak kosong.

Berbeda dengan Nyoman Wiratmaja, salah seorang peserta diskusi. Giriyasa justru membantah sinyalemen Denpasar krisis calon pemimpin. Menurutnya Denpasar memiliki banyak calon Walikota maupun Wakil Walikota, Beberapa nama disebutnya seperti Nyoman Sudiantara yang akrab dipanggil Punglik, Sekda Kota Denpasar A.A.N. Rai Iswara, dan Ketut Suwandi yang kini menjadi anggota DPRD Provini Bali.

Menurut Giriyasa, masalahnya Parpol kurang bernyali dalam mengajukan calonnya, belum apa-apa sudah merasa kalah. Parpol lebih tergoda kekuasaan daripada menjalankan fungsi talent scouting dan rekrutmen pemimpin daerah.

Sementara itu mantan Ketua Partai Gerindra Badung, IGK Puriarta dalam diskusi berpendapat persoalan kemunculan calon bukan sepenuhnya karena ketiadaan ketersediaan kader yang cerdas dan memiliki modal sosial, namun karena kebanyakan aktivis parpol bukan petarung, tak bernyali. "Menang saja tidak siap, apalagi kalah," ungkapnya.

Peserta diskusi lainnya, Arya Suharja melihat bahwa meski Calon Walikota yang diusung PDI-P berpeluang besar, pertaruhan justru pada kecermatan memilih Calon Wakil Walikota.

"Pemilih Denpasar tradisional-paternalistik. Alih-alih menjadikan Pilwali sebagai ajang rekonsiliasi, Pilwali bisa menyisakan persoalan rumah tangga di partai dominan, kalau mereka salah tentukan wakil", cetus Arya Suharja
 (AR, GR)
Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya