Daftar Pasang Baru Indihome

Pitra Yadnya Siwa Sumedang, Sebuah Pilihan 'Meringankan' Umat Hindu

Seminar Lokakarya Nasional Pitra Yadnya Siwa Sumedang Sebuah Pilihan Bagi Umat Hindu, hari Sabtu (7/3) di Aula PHDI Bali, Jalan Ratna, Denpasar. diakhiri dengan Penandatanganan MoU antara Veda Poshana Ashram dengang Suka Duka Swarga Shanti dan Dwipantara Sanskertan
REDAKSIBALI.COM - "Gebyar upacara di Bali dengan banyak ritual yang dilakukan tidak dimengerti dan perlu dikaji, termasuk didalamnya pada aspek biaya. Mengkaji kembali bukan berarti merubah, lalu menghilangkannya, juga bukan berarti menyederhanakan tetapi justru membuat pilihan yang baru sebagai terobosan dan pola yang lebih mudah untuk menyampaikan makna filosofisnya yang lebih menarik dan sangat logik" ujar DR. I Made Suasti Puja, SE,M.FIL.H saat memaparkan makalah yang bertopik Sosialisasi Hasil Maha Sabha PHDI Bali dan Pitra Yadnya di Abad 21 pada acara Seminar dan Lokakarya Nasional Pitra Yadnya Siwa Sumedang Sebuah Pilihan Bagi Umat Hindu, hari Sabtu (7/3) di Aula PHDI Bali, Jalan Ratna, Denpasar.

Menurut Suasti Puja apabila suatu agama memberatkan bagi penganutnya maka agama itu akan ditinggalkan oleh pengikutnya. Dan, agama yang tidak peka terhadap penyakit masyarakat, apalagi tidak ikut ambil bagian dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat maka agama itu tidak mendapat tempat dalam masyarakat modern. Agama ini tidak menarik bagi Manusia modern.

Suasti Puja juga menjelaskan bahwa Pitra yadnya yaitu penghormatan kepada leluhur, orang tua dan pretisentana di era milenium dapat dilakukan dengan Veda posana (mempelajari Veda dan mengajarkan), Pitra Yadnya, ngaben ngelanus berdasarkan Lontar Weda Puja Pitra Siwa dengan jenis Ngaben Siwa Sumedang, Matru dan Pitru Vandanam (bhakti dan hormat kepada orang tua) dan Suputra (generasi berkarakter mulia) serta melakukan sevaka dharma (melakukan pelayanan kepada sesama).

Seminar yang diprakarsai Veda Posana Asram dan Yayasan Shanti Mukti ini juga menghadirkan Pandita Mpu Abra Bhaskara MBD dari Pashraman Madhu Sudana di Baler Bale Agung, Negara, Jembrana sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya Pandita Mpu Abra Bhaskara MBD lebih detail menguraikan Pitra Yadnya Siwa Sumedang ini. Disebutkan, sumber sastra dari Pitra Yadnya Siwa Sumedang adalah Buku Kumpulan Weda Puja Pitra Siwa, milik Pemerintah Propinsi Bali, yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Propinsi Bali, Tahun 2001.

Sumber sastra lain seperti Lontar Weda Puja Pitra Siwa milik Griya Nyitdah menyebutkan bahwa Pitra Yadnya Siwa Sumedang tanpa Wadah, tanpa Patulangan, tanpa Damarkurung, Matiwa-tiwa, Ngelanus puput ring Setra. Berdasarkan pengalaman, Upacara Pitra Yadnya Siwa Sumedang yang telah berjalan puluhan kali menghabiskan waktu 5 jam.

Baik Suasti Puja mapun Pandita Mpu Abra Bhaskara MBD sepakat bahwa cara pembayaran Pitra Rnam itu bukan dengan Pitra Yadnya Niskala saja, tetapi yang lebih penting yang lebih menyentuh untuk orang tua kita yakni Pitra Yadnya Sekala untuk kejagadhitaan beliau.

"Kini saatnya bagi kita semua untuk memperluas makna yadnya , bahwa yadnya tidak saja pengorbanan dalam hubungan dengan Tuhan saja, tetapi juga beryadnya kepada semua makhluk berdasarkan daya (c
ompassion/cinta kasih) dan danam/ pemberian bantuan. Dengan moto love all-serve all" kata Suasti Puja

Seminar Lokakarya diakhiri dengan Penandatanganan MoU antara Veda Poshana Ashram dengang Suka Duka Swarga Shanti dan Dwipantara Sanskertan.(GR,MR)

Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya