Anak 'Tukang Sadap Nira Kelapa' Raih Gelar Doktor Setelah Temukan Dekomposer Lokal Pengurai Jerami Padi

Dr.. I Nengah Muliarta
REDAKSIBALI.COM - I Nengah Muliarta berhasil meraih gelar doktor setelah melewati ujian terbuka online yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Udayana pada Selasa (21/4). Muliarta merupakan anak dari seorang tukang kiris (penyadap nira kelapa) bernama I Nengah Muja yang tinggal di Banjar Kayehan, Desa Dawan Kaler, Kecamatan Dawan-Klungkung. 

Nengah Muliarta berhasil meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasi berjudul 'Pengelolaan Limbah Jerami Padi untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah dan Hasil Padi'. Dalam disertasi tersebut, Muliarta melakukan ujicoba pengemposan jerami padi dengan memanfaatkan dua kombinasi dekomposer lokal Bali.

Muliarta menyebutkan dua kombinasi dekomposer lokal Bali yang digunakan memiliki kemampuan untuk mendekomposisi limbah jerami padi. Dua kombinasi dekomposer lokal Bali yang merupakan kombinasi bakteri dan jamur tersebut diberi nama dekomposer lokal satu dan dua. 

Dekomposer lokal satu terdiri dari kombinasi Paenibacillus polimyxa, Pseudomonas flourescens, dan Trichoderma hazianum. Sedangkan dekomposer lokal dua kombinasi dari Pseudomonas flourescens, Trichoderma hazianum, dan Aspergilus niger.

“Bakteri dan jamur yang digunakan ini merupakan lokal Bali atau diisolasi dari sumber medianya di Bali. Ada yang diisolasi dari akar tanaman, akar bawang, kotoran sapi dan kotoran ayam Bali, Dekomposer ini memiliki kemampuan untuk menguraikan limbah jerami padi menjadi kompos” kata pria yang merupakan Mantan Komisioner KPID Bali periode 2014-2017 tersebut.

Menurut suami dari Made Sumariani ini, kombinasi dekomposer lokal Bali yang ditemukan mampu mempercepat proses pengomposan jerami padi dan menghasilkan kompos berkualitas yang sesuai dengan standar SNI. Hal ini telah dibuktikan melalui uji coba penelitian, dimana dekomposer lokal 1 dalam pengomposan selama 35 hari dan pembalikan 7 hari sekali menghasilkan kompos matang dengan rasio C/N mencapai 13,78. Sedangkan dekomposer 2 mampu menghasilkan kompos matang dengan rasio C/N 14,80.

“Dekomposer ini merupakan dekomposer aerob, sehingga tidak menghasilkan gas metan dan bau, sehingga lebih ramah terhadap lingkungan. Berbeda dengan pengomposan anaerob yang menghasilkan gas metan, tetapi gas metan yang dihasilkan cenderung dibuang. Padahal gas metan memiliki daya rusak 20-30 kali lebih kuat dari CO2” kata ayah dari I Wayan Raditya Mahendranata.

Muliarta memaparkan ide awal dari penelitianya terinspirasi setelah melihat adanya kecenderungan pembakaran limbah jerami padi yang dilakukan oleh petani. Pada sisi lain jerami padi merupakan bahan organik yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Membakar jerami padi sama artinya membuang bahan baku pupuk dan menyebabkan petani membutuhkan pupuk lebih banyak pada musim tanam berikutnya.

Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh Muliarta, didapatkan bahwa berdasarkan hasil survey terhadap petani di Kabupaten Klungkung pada 2017 tidak ada petani yang mengomposkan jerami padi. Alasannya petani tidak mengetahui cara mengomposkan jerami padi, mengalami keterbatasan tenaga kerja untuk melakukan pengomposan dan akibat keterbatasan waktu. Tercatat 30,34 persen responden yang membakar jerami padi dan 69,66% yang memanfaatkan sebagai mulsa.

“Artinya masih cukup banyak jerami padi yang terbuang percuma, padahal setiap produksi satu kilogram gabah juga dihasilkan satu sampai satu setengah kilogram jerami padi. Bayangkan kalau jerami padi tersebut diolah menjadi kompos, maka petani dapat melakukan efisiensi penggunaan pupuk anorganik” papar mantan striger Radio VOA tersebut.

Pemanfaatan jerami padi sebagai kompos tidak saja akan mengurangi jumlah limbah dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik, tetapi juga menjadi jalan menuju pertanian organik dan sebagai upaya meminimalisasi pencemaran lingkungan terutama tanah akibat penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan. Pemanfaatan kompos jerami padi juga akan meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen.

“Satu hektar sawah bisa menghasilkan sepuluh sampai dua belas ton limbah jerami, satu ton jerami bila dikomposkan akan menghasikan sepertiga atau setengah ton kompos dan ini bisa mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Bila petani mampu memanfaatkan jerami kan jerami tidak lagi dipandang sebagai limbah tetapi telah menjadi berkah” ungkap pria yang juga anggota Tim Sekolah Adiwiyata Provinsi Bali.

Muliarta menambahkan bahwa berdasarkan eksperimen penggunaan kompos jerami padi yang dikombinasikan dengan pupuk NPK (15:15:15) didapatkan bahwa kombinasi 60% (6 ton per ha) kompos jerami padi yang dikombinasikan dengan 40% (120 kilogram per ha) NPK mampu menghasilkan gabah kering giling 17,37% lebih tinggi dari 100% NPK. Hasil ini memberikan gambaran bahwa penambahan kompos jerami mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik, bahkan memberikan produksi yang lebih tinggi.

Muliarta berharap pemerintah mensosialisasikan pengomposan jerami padi kepada petani sebagai upaya menuju pertanian organik. Pemanfaatan jerami padi juga merupakan jalan menuju pertanian yang zero waste dan pertanian yang menerapkan sistem LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture), sehingga kedepan mampu mewujudkan pertanian yang ramah lingkungan dan mendukung program pembangunan berkelanjutan.

Pelaksanaan ujian promosi doktor secara online ini menjadi yang pertama kalinya dilakukan di Fakultas Pertanian, Unud. Langkah ini menjadi bukti bahwa pandemi Covid-19 tidak menjadi penghalang dalam proses belajar mengajar di Fakultas Pertanian, Unud.

“Ini merupakan konsekuensi logis dari pandemi Covid, bahwa proses belajar harus tetap berjalan dan teknologi juga mendukung, oleh sebab itu tidak ada alasan kita untuk terganggu oleh Covid. Unud juga jauh-jauh hari sudah mempersiapkan perangkat sarana prasarana pembelajaran online” kata Dekan Fakultas Pertanian, Unud, Dr. Ir. I Nyoman Gede Ustriyana, MM.

Menurut Ustriyana, yang terpenting dari pelaksanaan promosi doktor yaitu temuan dari peneliti atau calon doktor tersebut dapat diketahui oleh kalangan luas. Dalam ujian terbuka secara online karena keterbatasan teknologi maka promosinya terbatas pada lingkup kalangan akademisi. Misalnya akibat keberagaman provider yang digunakan kualitas suara dan gambar juga berbeda. Keterbatasan lainnya adalah keterbatasan aplikasi yang digunakan dalam menampung jumlah peserta.

“Oleh sebab itu maka dalam ujian ini tentu undangannya juga undangan yang terbatas, tetapi di luar itu tentu kita juga tidak menutup peluang untuk memanfaatkan media secara luas sehingga temuan-temuan yang sangat akademis ini bisa secara cepat diterima oleh masyarakat luas” jelas Ustriyana.

Dekan Fakultas Pertanian, Unud ini mengakui bahwa salah satu kendala dalam pembelajaran online adalah kesiapan SDM. Mengingat belum semua tenaga pengajar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat. “Bahwa tidak semua SDM kita melek dengan teknologi, karena kemunculannya tidak berbarengan dengan kelahiran para dosen, itu wajar, manusiawi” ungkap Ustriyana.

Ustriyana menambahkan ujian terbuka secara online untuk pertama kalinya ini merupakan awal dan akan terus dikembangkan. Kedepan dengan penerapan blended learning maka dosen dituntut untuk mencoba menghasilkan pola pembelajaran yang tidak 100% dengan muka.

Dalam situasi saat ini, apabila dilihat dari sisi positif maka pademi Corona secara tidak langsung telah mempercepat penerapan teknologi di perguruan tinggi. Universitas Udayana sendiri sejak Januari 2019 lalu telah memperkenalkan pelaksanaan kuliah yang berbasis teknologi digital.(GR,rs)
Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya