Daftar Pasang Baru Indihome

Perda RTRWP Bali Diubah, WALHI Bali Protes dan Beri Tanggapan


REDAKSIBALI.COM  - WALHI Bali mengeluarkan pernyataan protes dan memberikan tanggapan atas diubahnya Perda RTRWP Bali. Sebagaimana ramai diberitakan bahwa Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2009-2029 telah resmi berlaku.


Dalam siaran persnya hari Sabtu (30/5), Direktur Eksekutif Walhi Bali I Made Juli Untung Pratama menyatakan bahwa Diubahnya Perda RTRWP Bali tidak memenuhi asas keterbukaan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 5 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. 

Menurut  Juli Untung Pratama, asas pembentukan peraturan perudang-undangan salah satunya harus tunduk pada asas keterbukaan. 'Asas keterbukaan' adalah bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan bersifat transparan dan terbuka. Dengan demikian, seluruh lapisan masyarakat, mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. 

Juli Untung Pratama mengaku bahwa WALHI Bali tidak pernah tahu proses diubahnya Perda RTRWP Bali, bahkan WALHI Bali tidak pernah tahu draft materi muatan yang diubah dalam Perda tersebut. DPRD Bali tak ubahnya seperti DPR RI yang suka bermain senyap dalam urusan pembentukan peraturan perundang-undangan.

Juli Untung Pratam juga menyatakan Perda Perubahan RTRWP Bali tersebut juga melanggar asas kejelasan tujuan, yang ditentukan Pasal 5 huruf a Undang-Undang 12/2011.

Menurutnya  untuk melakukan pengendalian terhadap pembangunan di Bali, sebenarnya sudah secara tegas diatur dalam Perda RTRWP Bali Nomor 16 Tahun 2009. Juli Untung Pratam menegaskan persoalan sebenarnya adalah pada penegakan Perda 16/2009 tidak dilakukan secara konsisten. Sehingga diubahnya Perda RTRWP Bali dengan tujuan untuk pengendalian pembangunan adalah alasan yang mengada-ada dari Pemprop Bali.

WALHI Bali melalui Direktur Eksekutifnya menduga diubahnya Perda RTRWP Bali dengan senyap dan melanggar asas keterbukaan serta tanpa tujuan yang jelas adalah untuk menghapus pelanggaran proyek-proyek yang terlanjur dibangun pada rezim Perda 16/2009. Perda Nomor 3/2020 diduga untuk menghapus pelanggaran tata ruang, seperti melindungi proyek akomodasi pariwisata yang terlanjur dibangun dengan melanggar sempadan Pantai atau melanggar batas maksimal ketinggian bangunan.

Menurut Walhi Bali, rencana pembangunan Jalan Tol atau jalan bebas hambatan Serangan-Pelabuhan Benoa, sebagaimana yang diakomodir dalam Perda RTRWP Nomor 3/2020, sudah direncanakan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KP 792 Tahun 2017 Tentang Rencana Induk Pelabuhan Benoa Propinsi Bali, yang ditetapkan oleh Budi Karya Sumadi pada tanggal 24 Agustus 2017.

Walhi Bali menduga, rencana jalan tol atau bebas hambatan yang diakomodir tersebut, tidak ada landasan hukumnya dalam instrumen hukum tata ruang, baik dalam Perpres tat ruang Sarbagita maupun Perda RTWP Bali no 16/2009 (Perda RTRWP sebelum direvisi).

Menururt Walhi Bali, fakta-fakta tersebut di atas membuktikan bahwa revisi Perda RTRWP Bali tersebut telah melanggar Pasal 23 ayat (4) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang yang di dalam penjelasannya menyatakan bahwa Peninjauan kembali dan revisi rencana tata ruang wilayah provinsi dilakukan bukan untuk pemutihan penyimpangan pemanfaatan ruang.

Walhi Bali berkesimpulan bahwa Perda RTRWP Bali no mor 3 tahun 2020 adalah revisi tata ruang yang dilakukan untuk mengakomodir rencana yang melanggar tata ruang guna pemutihan penyimpangan pemanfaatan ruang, salah satunya yakni pemutihan pelanggaran tata ruang rencana pembangunan jalan tol atau bebas hambatan sebagaimana yang diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KP 792 Tahun 2017.

Dengan alasan-alasan di atas Walhi Bali menduga bahwa senyapnya proses revisi Perda RTRWP Bali dari partisipasi publik karena ada agenda-agenda yang tersembunyi untuk mengakomodasi dan memutihkan pelanggaran tataruang guna kepentingan pihak-pihak yang rencana pembangunannya melanggar struktur ruang dalam RTRWP Bali.(*)


Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya