Korban Dugaan Penyekapan di Denpasar Meminta Perlindungan Komnas HAM

Warga korban dugaan penyekapan di Sesetan, Hendra dan istri didampingi perngacaranya saat jumpa pers di Kubu Kopi, Denpasar hari Minggu (11/10)

REDAKSIBALI.COM - Warga korban dugaan penyekapan di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Sesetan, Denpasar bernama Hendra mengajukan permohonan perlindungan hukum ke Komnas HAM di Jakarta. Hendra dan keluarganya berharap perkara yang menimpanya itu mendapat perhatian karena menyangkit hak asasi. Selain itu Hendra berharap hukum dapat ditegakkan secara benar.

"Rencananya kami mengirimkan suratnya ke Komnas HAM Senin (12/10). Kasus ini kan berkaitan dengan hak azasi manusia, hak yang hakiki yakni kemerdekaan orang," kata Kuasa Hukum Hendra,;dari YBH Bangli Justice, I Ketut Bakuh dalam jumpa pers, Minggu (11/10).

Melalui kuasa hukumnya, Hendra berharap siapapun orang yang merampas kemerdekaan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum.

"Kami patut menduga ada tindak pidana secara bersama-sama yang harus digali dan dibuat terang, siapa pelaku utama dan yang menyuruh melakukan," ujarnya.

Bakuh meyakini bahwa di negara ini, semuanya sama dan tidak ada yang kebal hukum. "Melakukan penyegelan tanpa penetapan pengadilan, merupakan tindakan nyata main hakim sendiri, menyebabkan orang lain tidak bisa keluar rumah " ujar Bakuh.

Hendra juga telah membuat aduan masyarakat (dumas) ke Direktorat Reskrim Umum Polda Bali dengan Nomor 401/X/2020 tanggal 3 Oktober 2020.

"Pengaduan ini masih dalam proses penyelidikan, sehingga kami berharap agar kasus ini dapat dikawal Komnas HAM agar dapat ditindak sesuai prosedur hukum yang berlaku," imbuh tim Kuasa Hukum Hendra, I Gede Bina.

Dijelaskan pula, Hendra tinggal di rumah tersebut over kontrak dari Gono (alm). Perjanjian kontrak diperpanjang melalui pemilik tanah Pujiama hingga 2047 mendatang. "Secara hukum klien kami sah berdasarkan kotrak. Dan pengontrak itu dilindungi undang undang," tegas Bina.

Sementara pasca kejadian ini, Hendra dan keluarga mengaku masih trauma secara psikis "Sampai saat ini kami sekeluarga mengalami trauma. Saat tidur mendengar suara motor atau mobil berhenti di depan rumah langsung terbangun. Dia takut peristiwa lalu terjadi lagi," kata Hendra didampingi istrinya.

Kata Hendra intimidasi maupun ancaman sudah kerap dirasakan setahun terakhir ini. Tapi menurutnya kejadian Jumat (2/10) lalu paling parah. "Di rumah ada orang tua berusia lanjut, kesehatannya kerap terganggu bila ada masalah seperti ini," imbuh Hendra.(gr*)
Share on Google Plus

About redaksibali.com

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dan Mengandung Unsur Pelanggaran Atas SARA dan Ujaran Kebenciaan akah di hapus tanpa pemberitahuan sebelumnya