BeritaEkonomiNasional

Menambah Kapasitas Produksi Pupuk Nasional

Setelah bertahun-tahun kembang kempis, Pemerintah mereaktivasi PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). SKK Migas menjamin pasokan gas untuk 2023.

REDAKSIBALI.COM – Begitu turun dari Pesawat Kepresidenan Boeing 737-800, di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe, Presiden Joko  Widodo langsung blusukan ke Pasar Batuphat di Kecamatan Muara Satu. Presiden Jokowi hanya didampingi Menteri BUMN Erick Tohir, Pj Gubernur Provinsi Aceh Achmad Marzuki,  dan di lokasi disambut oleh  Pj Wali Kota Lhokseumawe Imran.

Seperti biasa, di pasar terbesar di Kota Lhokseumawe itu Presiden Jokowi berdialog dengan para pedagang. Kepala Negara menanyakan soal kelancaran pasokan barang, stabilitas harga, serta daya beli di kalangan konsumen. Tak lupa Presiden Jokowi pun sempat membagi-bagikan amplop berisi uang bantuan modal kepada para pedagang.

Tak lama di Pasar Batuphat, Presiden Jokowi dan rombongan kecil itu meluncur ke kompleks pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM) Dermaga 3 Pelabuhan PT PIM Krueng Geukuh, Lhokseumawe. Di situ, Presiden Jokowi meresmikan beroperasinya unit produksi pupuk  nitrogen–phospor-kalium (NPK) yang kini disebut pabrik PIM 3.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengatakan, hampir semua negara di dunia saat ini mengalami krisis pangan. Salah satu penyebabnya, masalah pupuk. Presiden Jokowi menjelaskan bahwa tingginya harga pupuk  di pasar internasional akibat antara lain konflik militer Rusia dan Ukraina. Pasokan pupuk dari Rusia, dan bahan baku pupuk dari Ukraina, terhambat pengirimannya.

‘’Akhir-akhir ini setiap kali saya ke desa dan mengunjungi persawahan, bertemu para petani, selalu ada keluhan tentang pupuk. Apa lagi, pupuk bersubsidi. Kebutuhan pupuk (NPK) di Indonesia 13,5 juta ton. Sedangkan yang dipenuhi baru 3,5 juta ton. Ini harus kita atasi,’’ ucap Presiden Jokowi, Jumat (10/2/2023).

Pabrik PIM 3 memiliki kapasitas produksi 500 ribu ton per tahun. Presiden Jokowi berjanji, produksi pupuk dari Kompleks PIM di Lhokseumawe itu akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan petani Aceh dan Sumatra Utara. Maka, atas beroperasinya PIM 3 itu Presiden Jokowi menyampaikan apresiasinya kepada jajaran Kementerian BUMN, yang bukan saja berhasil menyelesaikan line produksi PIM 3, tapi  juga berhasil merevitaliasi pabrik PIM 1 dan PIM 2 yang berlokasi di tempat yang sama.

Berbeda dari PIM 3, pabrik PIM 1 dan 2 memproduksi urea, masing-masing berkapasitas 570 ribu ton per tahun, plus produk samping berupa gas Amoniak, yang bisa digunakan bagi berbagai bahan industri, termasuk untuk pabrik pupuk itu sendiri. Namun PIM 1 dan PIM 2 itu kondisinya kembang kempis, sejak produksi gas alam dari Lapangan Arun terhenti pada 2005 karena cadangannya mulai kering.

Daftar 8 Tim Lolos Perempat Final Piala Asia U-23, Thailand Pulang Kampung

Basarah Bicara Peluang Pertemuan Prabowo-Megawati: Tunggu Rakernas PDIP

Prabowo-Gibran Akan Dikawal Langsung oleh Paspampres Setelah Putusan MK dan KPU

Approval Rating Jokowi Tetap Tinggi Meski Berpisah Jalan dengan PDI-P

Produksi gas alam dari Desa Arun di Kecamatan Syamtalira, yang lokasinya hanya sekitar 5 km dari kompleks pabrik PIM itu yang membuat Kota Lhokseumawe menjadi kota paling metropolis di Aceh pada era 1970 hingga awal 2000-an. Ladang gas Arun, saat ditemukan pada 1972, diketahui memiliki cadangan gas sebesar 17,2 triliun kaki kubik gas, yang tersimpan hanya 300 meter di bawah tanah.

Raksasa migas asal Dallas, Texas, AS, yakni Mobil Oil, yang memperoleh konsesi ladang gas itu, segera menambangnya. Untuk pengapalannya, Mobil Oil dan PT Pertamina berkongsi membangun kilang pengolahan gas menjadi gas cair yang disebut PT Arun Natural Gas Liquefaction alias PT Arun NGL. Lokasinya di kawasan Blang Lancang pada lahan seluas 271 ha, yang dilengkapi dengan pelabuhan khusus bagi kapal liqufied natural gas (LNG).

Pada masa puncaknya, PT Arun NGL mengoperasikan enam unit train produksi. Kawasan industri Arun NGL, itu pun dikenal sebagai salah satu bandar LNG terpenting di kawasan Asia dan Asia Timur.

Limpahan gas di tangan PT Arun NGL itu kemudian memberi peluang berdirinya dua pabrik pupuk sekaligus, yakni PT PIM (1 dan 2), serta PT Aceh Asean Fertilizer (AFF) yang merupakan perusahaan patungan beberapa negara ASEAN. Indonesia menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan itu, yakni 60 persen. Sedangkan Malaysia, Thailand, Filipina masing-masing 13 persen dan Singapura 1 persen.

Baik PT PIM maupun PT AFF dibangun di awal 1980-an dan beroperasi beberapa tahun berikutnya. Keduanya bisa beroperasi dengan daya saing tinggi karena bahan bakunya, gas alam, tersedia persis di desa sebelah, dan bisa dikirim lewat pipa.

Kehadiran usaha penambangan gas, PT Arun NGL, dua pabrik pupuk, pelabuhan khusus, dan segala macam sarana pendukungnya, membuat Lhokseumawe dibanjiri oleh tenaga kerja dari berbagai tempat. Ekonomi Lhokseumawe tumbuh pesat, meski kemudian menimbulkan masalah sosial dan politik, karena gebyar-gebyar gas itu dianggap tak cukup memberikan dampak kesejahteraan yang signifikan bagi warga sekitar di Aceh Utara.

Rupanya, gas di Ladang Arun lebih cepat terkuras dari yang diperkirakan. Ladang offshore Arun 2 yang digadang-gadang dapat menjadi pengganti, ternyata cadangannya pun cekak. Gas alam dari Aceh Utara itu pun tandas. Mobil Oil angkat kaki dari Arun pada 2005. Tanpa jaminan pasokan gas yang murah, PT AFF dan PT PIM pun oleng dan tutup pada 2005.

Pada 2011, pemerintah merestrukturisasi kedua pabrik itu. Melalui PT Pupuk Sriwijaya, PT PIM diakuisisi sehingga 99 persen sahamnya berpindah ke Sriwijaya. Di saat yang sama, 40 persen saham asing di PT AFF juga diambil alih oleh Pupuk Sriwijaya. Dengan demikian, 100 persen saham AFF kini menjadi milik Indonesia.

Sebagai uji coba, PT PIM pun dioperasikan kembali pada 2012. Namun, operasional perusahaan itu hanya bisa bertahan sampai 2015. Kesulitan memperoleh gas murah kembali menjadi persoalan laten.

Kebutuhan Dasar

Kontan dua pabrik pupuk besar di Aceh Utara itu pun menganggur, termasuk pelabuhan khusus Blang Panjang. Presiden Joko Widodo mengaku prihatin melihat aset besar itu terbengkalai. Padahal,  ketergantungan Indonesia pada pupuk impor masih tinggi.

“Saya lihat di Aceh ini ada dua pabrik pupuk yang bertahun-tahun tak beroperasi karena kurangnya pasokan gas. Lalu saya tugaskan Menteri BUMN untuk menjalankan. Soal kebutuhan gas, nanti kita carikan jalan, sehingga kendala keterbatasan pupuk bisa diatasi, karena bagaimanapun juga pupuk merupakan kebutuhan dasar kita,’’ Presiden Jokowi menegaskan.

Atas perintah presiden itu, Menteri BUMN Erick Thohir pun melakukan revitalisasi dan reaktivasi PT PIM Lhokseumawe. Investasi sebesar Rp1,7 triliun digelontorkan ke Lhokseumawe. Pada tahap pertama, baru PT PIM yang direvitalisasi. PT AFF akan menyusul di kemudian hari.

Kesulitan mendapatkan slot impor gas PT PIM itu dijawab langsung Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Regulator sektor hulu migas ini memastikan pasokan gas ke pabrik PIM pada 2023 akan terjamin. Bahkan, dua kargo LNG dari Wilayah Kerja Blok Mahakam pun telah dikapalkan pada September dan Oktober 2022 untuk kebutuhan reaktivasi PT PIM.

Di Indonesia, seluruh produksi pupuk kimia dilakukan oleh perusahaan negara (BUMN), yang berada di bawah Holding PT Pupuk Indonesia (Perseroa). Di situ tercatat, ada PT Pupuk Kaltim, PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Sriwijaya, dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM)  Aceh Utara. Secara keseluruhan, produksi pupuk nasional terus meningkat dan pada 2022 mencapai 12,5 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah harus mengimpor 8--9  juta ton lagi per tahun (Indonesia.go.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *