13 Februari, Kota Dresden – Jerman di Bom Pasukan Sekutu

13 Februari, Kota Dresden - Jerman di Bom Pasukan Sekutu

REDAKSIBALI.COM -Dresden adalah sebuah kota di Jerman Timur dan ibu kota negara bagian Sachsen. Dresden sering disebut sebagai “The Florence of the Elbe“, karena banyak monumen arsitektonis yang indah dan lokasinya di sepanjang sungai Elbe.

Dresden juga dikenal karena sejarahnya yang tidak menguntungkan. Kota ini pernah terbakar hebat  pada tahun 1491 dan dihancurkan oleh Prusia pada 1760 dan menjadi target serangan sekutu dalam Perang Dunia II.

Pada malam hari tanggal 13 Februari 1945, melalui serangkaian serangan bom api  Sekutu mengubah apa yang dikenal sebagai ‘Florence of  the  Elbe’ menjadi tumpukan puing.  Pengeboman  juga mengakibatkan kebakaran hebat dalam beberapa hari. di Dresden. Diperkirakan  sekitar 25.000 orang tewas dalam serangan itu.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh kota Dresden pada tahun 2010, lebih dari 3.400 ton bahan peledak dijatuhkan di kota oleh 800 pesawat Amerika dan Inggris. Badai api yang diciptakan dalam dua hari pemboman membuat kota terbakar selama beberapa hari. Delapan mil persegi kota hancur, rumah sakit yang masih berdiri tidak dapat menangani jumlah korban luka dan luka bakar, dan penguburan massal pun dilakukan.

Seperti dimuat History, alasan ‘resmi’ pihak Sekutu untuk membom Dresden karena kota tersebut dinilai sebagai pusat komunikasi utama. Dengan menghancurkan kota itu, Sekutu berharap dapat menghambat kemampuan Jerman untuk menyampaikan pesan kepada tentaranya yang pada saat itu sedang melawan pasukan Sovie.

Tiga bulan kemudian, pada 7 Mei 1945, Jerman menyerah tanpa syarat kepada Sekutu Barat di Reims dan pada 9 Mei kepada Soviet di Berlin. Pada Agustus, perang di Pasifik berakhir segera setelah AS menjatuhkan bom atom di kota Jepang Hiroshima dan Nagasaki, yang menewaskan 120.000 warga sipil. Jepang secara resmi menyerah pada 2 September 1945.

Perang Dunia II berakhir dengan estimasi jumlah kematian 55 juta jiwa di seluruh dunia. Ini merupakan konflik paling besar dan paling merusak dalam sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *