Perlu Waktu 1 Tahun Kedepan Agar Konsep Medeka Belajar – Kampus Merdeka Mapan

Perlu Waktu 1 Tahun Kedepan Agar Konsep Medeka Belajar - Kampus Merdeka Mapan

REDAKSIBALI.COM – Perlu waktu satu tahun kedepan untuk melakukan penyamaan persepsi agar implementasi konsep Medeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) benar-benar dapat diterapkan secara mapan. Selama dua tahun pelaksanaan MBKM selama ini masih menghadapi tantangan dalam penyamaan persepsi antara perguruan tinggi dengan mitra, dalam hal ini dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Tantangannya adalah penyamaan persepsi, konsep ini kan baru. Memang dalam proses perjalanannya kan harus ada pengalaman, sehingga dia menjadi konsep yang mapan” kata Guru Besar Bidang Pendidikan dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Buleleng, Prof. Dr. Nyoman Dantes disela-sela kegiatan Sosialisasi Program Bantuan Prodi menjadi Model Center of Excellence (CoE) Merdeka Belajar-Kampus Merdeka yang diselenggarakan oleh Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa di Denpasar pada Selasa (25/5).

Menurutnya, harus diakui konsep dan implementasi program MBKM belum dipahami oleh semua pengelola. Disisi yang lain, tidak semua universitas responsif dalam penerapan MBKM, karena kondisi masing-masing universitas berbeda. Tantangan lainnya adalah kelemahan dari segi sumber daya manusia yang dimiliki oleh masing-masing universitas.

Dantes menyampaikan untuk melakukan optimalisasi pelaksanaan MBKM di lingkungan perguruan tinggi mungkin akan lebih gampang. Namun optimalisasi pada dunia usaha dan dunia industri yang akan menjadi tempat mahasiswa melakukan praktik kerja lapangan ataupun penelitian akan sulit.

“Yang perlu dibangkitkan adalah kesadaran DUDI dan masyarakat. Kalau membangkitkan lembaga universitas itu jauh lebih gampang, karena prospeknya kita memberikan pengalaman lebih kepada mahasiswa kita” jelas Dantes.

Sedangkan Koordinator Program Center of Excellence (CoE) Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa, Dr. I Gusti Agus Maha Putra Sanjaya, S.Pt.,M.M mengatakan selaku pengelola program, tantangan dalam melaksanakan MBKM adalah masih ada kesulitan dalam penanganan administrasi mahasiswa yang pindah dari satu prodi ke prodi lainnya, atau bahkan dari satu kampus ke kampus lainnya.

Selain itu, akan ada pula perbedaan standar penilaian antara satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lainnya.
Agus Maha menambahkan secara keluaran, program MBKM akan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk beradaptasi sebelum memasuki dunia kerja. “Mahasiswa akan lebih siap dalam memasuki suasana kerja pada dunia industri atau dunia kerja. Selain itu dengan adanya Program MBKM mahasiswa akan memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih banyak. Selain itu diharapkan mahasiswa dapat mengubah paradigmanya dari job seeker menjadi job creator” ujar Agus Maha.(mul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *