Pertanian Organik Masih Angan-Angan, Bahan Pupuk Dibakar

Pertanian Organik Masih Angan-Angan, Bahan Pupuk Dibakar

REDAKSIBALI.COM – Implementasi pertanian organik secara menyeluruh di Bali masih angan-angan, karena penggunaan pupuk anorganik masih masif. Sedangkan disisi lain bahan baku pupuk berupa jerami padi masih sering dibakar.

Memerlukan waktu panjang untuk mewujudkan pertanian organik, apalagi jika tidak terdapat keseriusan dalam mewujudkannya. Belum lagi kondisi tanah yang kandungan bahan organiknya sudah sangat rendah. Hal ini terjadi karena masih banyaknya petani yang membuang bahan baku pupuk.

Hal itu diungkapkan Dosen Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta, kepada redaksibali.com hari Minggu (10/10/2021).

Muliarta mencontohkan  dalam penelitian di Kabupaten Klungkung tahun 2017, sekitar 30,34% membakar jerami padi yang dihasilkan dengan alasan untuk mempercepat pengolahan lahan dan membahasmi hama. Terdapat pula petani yang membakar jerami karena berdasarkan pengetahuan yang didapatkan bahwa abu pembakaran jerami padi  dapat bermanfaat bagi kesuburan tanah. Kendati harus diakui pembakaran jerami padi merupakan salah satu awal penerapan pertanian organik yang berasal dari pengalaman petani. Padahal pembakaran jerami sangat kurang efektif karena dapat merusak struktur tanah dan mengurangi aktivitas mikrobia tanah. Dengan membakar jerami padi dapat kehilangan N (hingga 80%), P (25%), K (21%) dan S (4-60%) serta kehilangan bahan organik tanah.

, Dr. I Nengah Muliarta, (Dosen Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa,)

Menurut Muliarta beberapa petani juga percaya bahwa pembakaran jerami padi terbuka dapat menghilangkan gulma, mengendalikan penyakit, dan melepaskan nutrisi untuk tanaman berikutnya. Pembakaran jerami juga memudahkan membajak lahan dan meratakan tanah yang menghemat waktu pengelolaan lahan untuk musim tanam berikutnya.

“Maka di sinilah perlu pendampingan kepada petani agar mengolah dan memanfaatkan jerami sebagai kompos. Pembakaran jerami artinya sama membuang bahan baku pupuk, Karena hampIr 70-80 persen pupuk yang diserap tanaman padi berada dalam jerami padi,” ujarnya.

Muliarta menambahkan Kebiasaan petani membakar jerami padi juga sangat berkaitan dengan jenis tanaman palawija yang ditanam pasca panen padi. Petani cenderung membakar jerami padi jika menanam palawija seperti jagung, kacang tanah atau menanam padi kembali.

Muliarta mengungkapkan bahwa tidak ada petani yang melakukan pengomposan jerami padi. Mayoritas (97,75%) petani mengakui tidak melakukan pengomposan jerami padi karena tidak tahu cara atau metode pengomposan jerami padi dan hanya 2,25% yang mengaku sedikit tahu cara pengomposan jerami padi.

“Petani tidak melakukan pengomposan karena tidak pernah m,endapatkan cara mengomposkan jerami dari petugas PPL. Ini sejalan dengan hasil survey terhadap 12 orang petugas penyuluh lapangan (PPL) di Kabupaten Klungkung menunjukkan hasil bahwa  100% tidak pernah melakukan sosialisasi pengomposan jerami padi. Tercatat 58.33% PPL beberapa kali melakukan sosialisasi pengomposan dan sebanyak 16.67% satu kali melakukan sosialisasi pengomposan, tetapi melakukan sosialisasi pengomposan dengan bahan kotoran sapi. Sementara 25% mengakui sama sekali tidak pernah melakukan sosialisasi pengomposan. Penyuluh lapangan pada dasarnya memegang peran utama dalam upaya mempopulerkan teknologi pengomposan di kalangan petani,” ujar pria yang meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul   ‘Pengelolaan Limbah Jerami Padi untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah dan Hasil Padi’.

Dalam penelitiannya Muliarta menemukan secara umum, petani memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terhadap manfaat jerami padi. Petani juga kurang mendapatkan informasi tentang perkembangan penggunaan jerami padi yang dapat memberi manfaat secara sosial dan ekonomi bagi petani. Jerami padi memiliki potensi ekonomi yang sangat besar bagi petani, tetapi akibat kurangnya kesadaran untuk mengembangkan alternatif pemanfaatan jerami padi telah menyebabkan turunnya manfaat ekonomi yang di dapatkan.

Muliarta berpandangan kondisi ini menyebabkan sulitnya mewujudkan pertanian organik secara menyeluruh di Bali. Belum lagi saat petani menggunakan pupuk organik secara penuh maka produksi yang didapatkan akan turun drastis. Hal ini terjadi karena pupuk organik tidak dapat secara langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Pupuk organik yang ditambahkan perlu waktu untuk mengalami mineralisasi menjadi anorganik agar dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman. Namun penggunaan pupuk organik akan memperbaiki kesuburan dan kesehatan tanah. Mikroba yang ada di tanam akan berkembang dengan keberadaan bahan organik.

Muliarta menyebut perlu jangka waktu panjang  agar mampu meningkatkan kesuburan tanah melalui penambahan bahan organik secara berulang-ulang. Peningkatan kesuburan juga sangat tergantung pada kuantitas dan kualitas bahan bahan organik yang ditambahkan. Memerlukan waktu hingga 3 tahun untuk meningkatkan kondisi fisik, kimia dan biologi tanah saat.

“Menjadikan pertanian Bali menjadi pertanian organik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Secara teori dan hasil penelitian satu hektar lahan  jika menggunakan pupuk organik memerlukan jumlah mencapai 8-10 ton/ha. Sedangkan 1 hektar lahan menghasilkan 10-12 ton jerami padi. Dari jumlah tersebut jika diolah maka akan menghasilkan setengah atau sepertiga kompos. Tentu ini tidak nyambung, sehingga jalan keluarnya adalah mengombinasikan pupuk organik dan anorganik. Penggunaannya dapat memulai dari 40 persen anorganik ditambahkan 60 persen organik. Kemudian hingga 80 persen organik dan 20 persen anorganik, hingga pada akhirnya bisa 100 persen organic.” kata Muliarta memberi solusi

“Permasalahan berikutnya pada tahap pemasaran hasil produksi. Harga produk organik tidak jarang sama atau bahkan lebih tinggi dari anorganik. Kemudian konsumen cenderung mencari harga yang lebih murah. Apalagi secara kualitas tidak jauh berbeda. Padahal seharusnya kita berpikir bahwa penggunaan produk organik yang kadang lebih mahal merupakan bentuk investasi untuk melestarikan lingkungan. Penggunaan produk pertanian organik juga menjadi semacam dukungan untuk terlibat dalam upaya mewujudkan pertanian berkelanjutan,” sambung  Muliarta menutup perbincangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *