Walikota Denpasar Resmikan ‘Spiga Radio’ SMP PGRI 3 Denpasar

Walikota Denpasar Resmikan 'Spiga Radio' SMP PGRI 3 Denpasar

REDAKSIBALI.COM – Perjalanan panjang selama 6 tahun  akhirnya mencapai titik kepastian.  Siswa-siswi yang bergabung dalam OSIS  SMP PGRI 3 Denpasar, sejak 15 tahun yang lalu menggagas  radio yang kini diberi nama  ‘Spiga Radio’.

“Secara resmi pada hari Saraswati ini, 30 Januari 2021, Spiga radio saya resmikan,” tegas Walikota Denpasar, I.B Rai Dharmawijaya Mantra saat meresmikan Spiga Radio  secara virtual.

Dalam sambutanya, Walikota Denpasar mengatakan bahwa inovasi yang mampu beradaptasi dengan pandemi merupakan solusi atas tantangan saat ini.

“Inovasi Spiga Radio sangat baik sekali sebagai bentuk terobosan untuk pembelajaran di masa pandemi saat ini, sehingga mampu menghilangkan kejenuhan siswa,” katanya.

Walikota  menambahkan, keberadaan radio yang mengusung visi media informasi berbasis audio terbaik, juga diharapkan mampu memberikan dukungan psikologis siswa serta masyarakat pada umumnya.

Perjuangan hingga berani mendeklarasikan diri pada 30 Januari 2021 tidaklah mudah. Kepala SMP PGRI 3 Denpasar, Dr. I Made Suada menuturkan radio ini sempat istirahat siaran selama 5 tahun semenjak 2016. Kendala ijin frekuensi yang tak kunjung berhasil diperoleh, menjadi alasan utama kepala sekolah untuk mengistirahatkan program kepenyiaran di sekolah masa tersebut.

Tahun 2015, Spiga Radio radio awalnya disiarkan melalui mikrofon dan pengeras suara di tiap kelas dan sudut sekolah tiap jam istirahat.  Pelajar yang tergabung di dalam extrakurikuler kepenyiaran mengisi siaran dan menyajikan informasi dengan iringan musik.

Melihat radio merupakan program yang dapat menjadi unggulan sekolah dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pada akhir tahun 2015 Dr. I Made Suada selaku kepala sekolah mengadakan antena pemancar frekuensi dan kelengkapan lainnya.

Jarak jangkau radio frekuensi yang dicoba oleh SPIGA pada kala itu hingga 5 KM. “Dulu, saya di rumah saat sepulang sekolah di sore hari biasa mendengarkan siaran radio. Terutama saat acara kirim salam dan request lagu,” kenang Anggreni, salah satu siswa SMP PGRI 3 Denpasar yang tinggal di daerah Celagi Gendong, Denpasar.

Banyak program acara di masa Spiga menyiarkan radio berbasis frekuensi, seperti segmen cempaka yang membahas informasi-informasi seputar pelajaran, segmen sejarah, dan info kesehatan.

Saat itu Spiga menghadirkan narasumber-narasumber yang merupakan alumni dari sekolah tersebut. Sembari berjalannya kegiatan siaran, kepala sekolah bersama guru pembina extrakurikuler radio mengurus ijin-ijin pendirian radio frekuensi.

Ni Made Chandra Widayanti, S.Pd, salah satu pembina Spiga Radio menuturkan rumit dan lelahnya memperoleh ijin pendirian radio.

“Pertama kita meminta rekomendasi frekuensi di Balmon. Itu bolak-balik sampai tiga kali dan baru setelahnya kita dapet frekuensi. Kemudian kita ke KPI minta berkas, banyak banget dan itupun dua kali kesana baru akhirnya dapat. Kita lengkapi semuanya, hingga akhirnya mentok di akta notaris pendirian komunitas. Kita bolak-balik ke beberapa notaris, tidak juga dapat akta itu. Sampai ada notaris yang bingung tentang akta yang kami minta. Berbulan-bulan tidak juga selesai. Akhirnya kami sudah tidak tahu harus bagaimana dan kami putus asa untuk mengurusnya. Padahal saat itu kita sudah memperoleh surat rekomendasi dari bapak Walikota,” papar Chandra menjelaskan kisah yang pernah dialaminya saat mengurus ijin radio pada 2016 silam.

Pasca kejadian tersebut, dengan alasan menghindari kesalahan dalam prosedur penyelenggaraan siaran, secara perlahan Spiga Radio mematikan mic dari dunia siaran.

Pandemi menjadi masalah bagi dunia pendidikan dalam menyelanggarakan perannya, terutama mengakibatkan pembelajaran tatap muka secara langsung tidak dapat dilangsungkan. Dengan sistem pembelajaran jarak jauh, sekolah dituntut untuk mengupayakan berbagai inovasi dalam memfasilitasi pembelajaran sesuai karakteristik dan kemampuan peserta didik.

Beranjak dari prinsip tersebut, Kepala SMP PGRI 3 Denpasar kembali memikirkan menghidupkan radio. “Pembelajaran jarak jauh bagi kami harus difasilitasi dengan beragam media belajar. Seperti juga media belajar melalui siaran radio,” ucap I Made Suada.

Kini Spiga Radio berhasil disiarkan dengan metode streaming atau melalui internet. Mengambil momen perayaan Hari Raya Saraswati sebagai momen turun dan mengalirnya ilmu pengetahuan, I Made Suada berharap seluruh informasi yang disiarkan pada Spiga Radio merupakan informasi yang berilmu dan bermanfaat.

“Kami berharap Spiga Radio dapat menjadi media belajar yang bermanfaat bagi para siswa di SMP PGRI 3 Denpasar, juga masyarakat umum lainnya,” kata  kepala sekolah berusia 71 tahun itu.

Spiga Radio dapat diakses pada laman spigadenpasar.sch.id. Menurut Rama Gerald Jade, kordinator tim pemajuan sekolah, proses penyiapan Spiga Radio membutuhkan waktu 1 minggu.

Rama juga menjelaskan, kuota yang dibutuhkan untuk menikmati siaran yang berlangsung selama 2 jam tiap harinya tersebut tidak terlalu banyak. “Saya rasa semua siswa mampu mengakses dan menikmati, melihat juga kuota yang digunakan tidak banyak,” jelas Rama dengan udeng endek berwarna ungu gelap seusai acara peresmian.

Pria berusia 19 tahun itu memaparkan Spiga Radio diprogramkan mengudara setiap harinya selama 2 jam dari jam 3 hingga 5 sore. Radio yang salah satu misinya teraktual, siaran akan diisi dengan materi pelajaran, informasi yang edukatif, dan acara pesan lagu dan kirim salam. Rama juga menjamin terwujudnya permintaan Walikota Denpasar untuk menjadikan radio ini wadah kreativitas siswa. (**GR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *